
Happy reading
Akhirnya setelah 2 jam perjalanan dari Jakarta, mereka sudah sampai di Puncak pukul setengah 9 pagi. Hampir siang memang tapi suasana disana sangatlah indah membuat mereka enggan masuk dulu ke dalam vila.
"Wah pemandangannya bagus banget," ucap Dewi yang kini sudah berada di luar mobil.
"Hmm, kamu suka?" tanya Dewa mengelus tangan Dewi yang dingin.
"Suka, bagus banget. Gak sia sia aku ikut," ucap Dewi menatap Dewa yang hanya mengangguk.
"Woy Dewa, Dewi. Ayo masuk kalian gak capek apa?" teriak Beby dari depan pintu. Hanya tinggal Dewa dan Dewi saja yang belum masuk vila.
Mereka berdua masuk ke dalam vila dan Beby mulai membagi kamar yang ada.
Karena Tama dan Nafisah sudah resmi menjadi suami istri jadi mereka satu kamar. Sedangkan Dewa dan Satya berada di satu kamar. Dewi dan Beby juga satu kamar.
Andra dan Ozi satu kamar, Alex dan Cio satu kamar, Shasa dan Karolin satu kamar.
Mereka menyetujui pembagian kamar itu dan disana juga anak anak baru tahu jika gadis bercadar itu adalah istri dari Tama.
Anggota penting yang jarang ikut kumpul di markas mereka. Sungguh kejutan bagi mereka tapi akhirnya pula Tama dan Nafisah menjelaskan semuanya.
Mereka membawa barang mereka masing masing ke dalam kamar sesuai kamar masing masing. Rencananya nanti malam mereka akan melakukan barbeque di halaman vila itu.
***
Di kamar Dewi dan Beby sedang menata pakaian mereka yang hanya berberapa pasang saja.
"Dew," panggil Beby.
Dewi yang dipanggil itu langsung menoleh ke arah Beby yang sedang menatapnya.
"Apa?"
"Jangan kaget ya kalau nanti malam gue gak ada di kamar. Gue mau sama Satya soalnya," ucap Beby yang langsung diangguki oleh Dewi.
"Awas jangan sampai kamu hamil dulu, setidaknya tahan sampai kita lulus. Emang kamu gak sayang sama SMA kamu yang hampir lulus ini?"
__ADS_1
"Kamu tenang aja Dewi, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan saat aku memutuskan hal itu. Dan tenang aja saat ini aku masih datang bulan kok gak akan lakukan itu dulu. Walaupun Satya uring uringan terus."
"Kamu KB?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh Beby.
"Rencananya habis SMA ini kita bakal nikah walau tanpa restu Mama dan Papa yang gak mau ketemu aku disini."
Dewi yang mendengar itu langsung menggeleng, ia berjalan menuju Beby dan memeluk temannya itu baginya Beby sudah seperti saudaranya sendiri.
"Yang sabar, kalau kata Nafisah ya. Allah gak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambanya. Dan aku yakin kamu bisa."
"Makasih sudah mau ingatin hal ini," ucap Beby membalas pelukan Dewi.
***
Di kamar Dewa dan Satya, kedua laki laki itu sibuk mencari cara agar mereka nanti bisa tidur bersama kekasihnya masing-masing.
"Gue nanti mau ajak pacar gue keluar, tapi nanti malam gue mau tidur berdua sama Beby."
"Gue juga mau peluk Dewi tahu, gue kengen bau tubuhnya yang wangi," jawab Dewa masih memikirkan caranya.
"Gini aja gimana, aku sama Beby tidur disini dan kamu serta Dewi tidur di kamar mereka. Dengan begini kita saling menguntungkan bukan. Gue gak bisa kalau gak sama Beby tidurnya. Beby tuh udah jadi gulung gue sejak dulu."
Dewa kembali metakkan bajunya dilemari begitupun dengan Satya.
"Emang kamar Dewi sama Beby dimana?" tanya Dewa.
"Di lantai dua, kamar yang ada tulisannya Beby."
"Hmm."
***
Sedangkan di kamar pasutri yang sudah halal kini, Nafisah melepas cadarnya karena disana hanya ada suaminya saja.
"Sayang capek?" tanya Tama merapikan pakaian istrinya yang bisa dibilang sedikit karena Nafisah hanya membawa 5 pasang gamis.
"Enggak kok, By. Harusnya aku yang tanya kamu capek?" tanya Nafisah pada Tama.
__ADS_1
"Cuma pegel aja di tangan, nanti tolong pijitin ya," jawab Tama dan dianggukkan oleh Nafisah.
Akhirnya Tama selesai merapikan pakaian mereka, Tama duduk di kasur dekat dengan istrinya yang sedang meluruskan punggungnya itu. Nafisah memang jarang perjalanan jauh seperti ini, dulu paling mentok adalah perjalanan mereka ke sekolah tapi kini harus ke Bandung.
"Katanya gak capek," ledek Tama yang membuat Nafisah menggeleng.
"Bukan capek, tapi pegel," jawab Nafisah menarik tangan Tama dan memijatnya pelan.
"Sama aja sayangku cintaku," ucap Tama menikmati pijatan lembut istrinya yang sangat ia rindukan.
Entah kenapa ia sangat menyukai pijatan lembut dari tangan halus Nafisah yang memang tak pernah digunakan untuk berbuat jahat.
"Aku mau baringan dulu, lagipula anak anak juga paling ada di kamar. Aku juga mau habiskan waktu aku sama kamu di kamar ini," ucap Tama dengan senyum manisnya.
Nafisah tak menyangka jika laki laki yang namanya selalu ia sebut dalam doa itu kini sudah resmi menjadi suaminya.
Padahal dulu Nafisah sangat tertutup, mereka hanya dekat saat kecil setelah Nafisah berumur 7 tahun Nafisah memutuskan untuk ikut bibinya mondok di sebuah pesantren hingga membuat Tama dan Nafisah berpisah.
Tanpa Nafisah tahu jika selama ini Tama juga menyukai dan mencintainya bahkan dulu jika ada yang menjelekkan Nafisah orang itu harus berurusan dengan Tama.
Saat Tama berusia 17 tahun tepatnya saat Nafisah pulang dari pondok karena hari libur membuat Tama membulatkan niatnya untuk melamar Nafisah sebagai istrinya.
Sebelumnya Papa Tama dan juga Papa Nafisah tak setuju rencana Tama. Tapi melihat betapa kekeuhnya Tama membuat mereka luluh, lagipula mereka sudah kenal dan tak ada salahnya menjalin kekeluargaan yang lebih baik.
Nafisah saat itu yang belum tahu apa apa itu hanya iya iya saja, hingga saat Mama dan Papanya membahas pernikahannya dengan Tama membuat Nafisah paham.
Saat itu Nafisah ingin bertemu dengan Tama, tak dapat ia pungkiri jika ia juga menyukai Tama. Tapi saat itu umurnya masih 17 tahun dan membuat Nafisah mengatakan jika dia belum siap menikah.
Tama paham dan meminta Nafisah untuk keluar dari pondok pesantren saat sudah berusia 18 tahun. Karena saat umur Nafisah 18 tahun, maka Tama akan menikahinya.
Dan yah baru berberapa Minggu yang lalu Nafisah baru saja berusia 18 tahun. Dan seminggu lalu adalah pernikahan Tama dan Nafisah di kediaman Tama.
"Hubby ganteng banget, Mama Sintiya dulu ngidam apa ya?" tanya Nafisah mengelus wajah Tama yang sedang menutup matanya.
Tama yang belum tidur itu malah menarik tangan istrinya hingga membuat Nafisah terjatuh ke atas tubuh Tama.
Tama memeluk tubuh istrinya dengan erat, seakan ia tak ingin melepaskannya pelukan itu. Nafisah yang merasakan eratnya pelukan Tama itu mengecup dada yang masih terbalut kaos itu.
__ADS_1
"Selamat tidur pagi menjelang siang," ucapnya dengan senyum kemudian memejamkan matanya dengan posisi Nafisah di atas tubuh Tama.
Bersambung