Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Tak Ingat


__ADS_3

Happy reading


Pagi harinya Dewi yang bangun lebih awal itu langsung bersiap dan mengirimkan surat ijin ke sekolah karena hari ini ia tak akan masuk sekolah.


Pagi pagi juga Dewi sudah dibuat kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa memilih dress yang akan ia pakai ke rumah sakit nanti.


Biasanya Dewi sangat simpel jadi orang tapi kenapa sekarang jadi ribet seperti ini.


Mama Karina yang masuk ke dalam kamar putrinya itu langsung terkejut melihat kamar yang tadinya rapi kini sangat berantakan seperti kapal pecah.


"Dewi Arabella!!" teriak Mama Karina yang sangat tidak suka dengan kamar yang berantakan.


Mama Karina selalu mengajarkan anak-anak untuk selalu rapi entah itu pakaian ataupun kamar. Dan sekarang lihatlah kamar Dewi yang selalu rapi kini dalam hitungan detik sudah menjadi kapal pecah.


"Kamu apain kamar kamu sampai seperti ini?" teriaknya lagi.


Dewi yang sedang berada di depan lemari itu langsung keluar dan menatap Mamanya yang sedang berada di depan pintu kamar itu.


"Mah."


"Kamu habis ngapain sampai kamar seperti ini? Jadi anak cewek kok joroknya minta ampun."


Mama Karina mengambil dress yang berada di lantai marmer itu. Kemudian meletakkannya di atas kasur.


"Mama bantuin Dewi," ucap Dewi dengan muka melas. Dewi hanya memakai tank top dan juga celana pendek saja sepertinya anaknya ini baru saja mandi.


"Hufftt bantuin apa? Lagian kenapa kamu pake berantakin baju baju kamu ini hah? Kamu tahu kan kalau baju kamu ini masih bisa disumbangkan ke orang lain. Jangan kamu berantakin seperti ini," ujar Mama Karina dengan tegas.


"Mama marahnya nanti aja, sekarang Mama bantu pilihin dress buat aku ke rumah sakit. Aku mau ketemu Dewa, Ma."


"Astaga jadi kamu bertakin kamar cuma mau pilih dress? Dasar kamu ya."


"Dewi janji setelah dapat dress-nya Dewi bakal rapiin lagi kamar Dewi. Ya Ma, bantuin Dewi pilih Dress," ucap Dewi dengan muka melas kemudian menarik tangan Mamanya dengan pelan.


Akhirnya Mama Karina membantu Dewi untuk memilih dress yang pas untuk anak perempuannya itu.


"Padahal semua dress kamu cocok di tubuh kamu kenapa pake milih milih segala?" tanya Mama Karina dengan tangan yang memegang sebuah dress berwarna baby blue dengan lengan pendek.


"Biar spesial aja, kan Dewa udah bangun," jawab Dewi dengan senyum.

__ADS_1


"Coba kamu pakai yang ini," ujarnya memberikan dress itu.


Dewi yang melihat itu langsung menerimanya dan menempelkan di tubuhnya. Sangat pas dan cocok dengan kulitnya.


"Tapi sebelum itu kamu harus rapikan lagi kamar kamu. Kalau kayak gini, Mama yang empet," ucap Mama dan dianggukkan oleh Dewi.


Setelah Mama Karina meninggalkan kamar itu, Dewi merapikan kembali dress dress miliknya ke dalam lemari.


Kemudian Dewi memakai dress berwarna baby blue itu. Dan benar saja, dress itu sangat pas di tubuhnya.


"Cantik banget sih kamu."


Setelah puas memuji dirinya sendiri, Dewi memakai cream wajah dan liptin agar bibirnya tidak pucat.


***


"Pagi semua," sapa Dewi dengan cerah secerah matahari yang ada di atas sana.


Mereka yang ada di meja makan itu tersenyum saat melihat Dewi sudah kembali seperti dulu lagi. Sepertinya Dewa sangat berperan penting dalam kehidupan Dewi. Lihatlah setelah Dewa di katakan bangun dari komanya. Dewi langsung ceria seperti ini.


Mereka mulai memakan sarapan mereka dengan tenang.


"Kamu sudah terlalu banyak izin Dewi. Papa gak mau kamu gak masuk sekolah karena menunggu Dewa. Bukan Papa gak boleh tapi kamu harus utamakan sekolah setelah pulang kamu bisa ke rumah sakit lagi," ucap Papa Daren pada putrinya yang langsung diangguki oleh Dewi.


"Setelah ini Dewi tak akan izin izin sekolah lagi, Dewi juga bakal ke rumah sakit saat pulang sekolah," jawab Dewi dengan mantap.


"Papa pegang janji kamu," ucapnya dengan senyum menatap putrinya.


Setelah selesai sarapan pagi, mereka keluar dari rumah menuju tujuan masing masing. Louis sekolah sedangkan Papa dan Mama ke kantor. Dewi? Tentu saja ke rumah sakit.


Dewi mengendarai mobil kesayangannya ke rumah sakit dengan perasaan senang yang tak bisa digambarkan dengan apapun.


Sampainya di rumah sakit, Dewi langsung memarkirkan mobilnya di parkiran mobil rumah sakit itu. Kemudian ia keluar dari mobil menuju ruangan dimana Dewa di rawat.


Dewi juga sudah membawa parsel buah dan juga bunga yang selalu Dewa belikan untuknya dulu. Dewi tahu Dewa juga menyukai bunga yang sama yaitu bunga mawar merah dan putih. Aneh memang karena laki laki suka bunga tapi itulah Dewa yang selalu menyukai apa yang disukai Dewi.


Bahkan Dewa yang dulunya tak menyukai sayur asparagus kini ia juga menyukainya karena Dewi juga menyukai sayur itu.


Sampainya Dewi di depan pintu ruangan Dewa, ia tak bisa lagi menahan dirinya. Dadanya berdetak dengan kencang, bahkan tangannya sampai keringat dingin karena hal ini.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Kriieeeet


Pintu ruangan itu dibuka, banyak sekali orang yang ada disini padahal ini masih jam 7 lebih. Bahkan Nenek Carol juga ada disana, selebihnya adalah sepupu Dewa yang Dewi kurang tahu siapa namanya.


Mama Riska langsung memeluk Dewi yang berdiri disana. Wajah Mama Riska sedih, terlihat matanya yang mengeluarkan air matanya.


"Mama kenapa?" tanya Dewi meletakan bunga dan parsel buah itu di nakas.


"Yang sabar ya sayang. Mama yakin Dewa akan kembali seperti dulu," ucap Mama Riska mengelus punggung Dewi.


"Memangnya Dewa kenapa Ma?" tanya Dewi yang tak paham dengan apa yang diucapkan Mama Riska. Ia menatap ke depan disana ada Dewa yang menatapnya datar. Sama sekali bukan Dewa yang ia kenal.


"Dewa tak ingat kamu," jawab Mama Riska yang membuat Dewi terdiam kaku di tempatnya.


Apa ini? Kenapa Mama Riska bilang seperti ini.


"Gak mungkin Dewa melupakan Dewi kan, ma?" tanya Dewi menatap kosong Mamanya.


"Dewa tak mengingat kejadian 2 tahun lalu," jawab Mama Riska dengan berat hati.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk↓↓↓


Nama pena: Ika Oktafiana


Judul: Dear, Pak Boss


Blurb:


Stella tidak pernah menduga bahwa dirinya akan jatuh cinta dengan seorang Arshaka Virendra, sang Direktur Utama di perusahaan tempat Stella bekerja.


Kejadian itu bermula ketika Stella merasa tertantang dengan sikap Shaka yang dingin dan kaku. Bahkan, untuk sekedar mengulas senyum saja tidak pernah.


Berbagai cara Stella lakukan untuk membuat Shaka mau tersenyum. "Senyum dong, Pak. Biar semakin tampan," goda Stella tempo hari saat keduanya tidak sengaja bertemu di saat hujan sore hari.


Dikala itulah, awal mula hidup Shaka berubah menjadi lebih berwarna, Stella berhasil menjungkir-balikkan hidup Shaka dan mulai mengenal rasa bernama 'cinta'.

__ADS_1


Perlahan, penyebab dari sikap dingin Shaka terkuak, hidup yang keras dan masalalu yang kelam. Hal itu justru semakin membuat Stella begitu kagum dengan sosok Shaka. Seketika timbul rasa ingin selalu ada dan memeluk dikala pelik kehidupan menderanya.


__ADS_2