
Happy reading
"Ahh ayang sudah ya, ini udah siang. Pasti orang orang udah ada di luar," ucap Dewi pada Dewa yang belum menyudahi aktivitasnya.
Akhirnya dengan berat hati Dewa melepaskan dirinya dari Dewi.
"Kepalanya masih sakit hmm?" tanya Dewi saat Dewa masih mengusap dadanya itu.
"Sedikit, paling karena bekas jahitan di kepala ini."
Dewi mengangguk dan menutup dadanya lagi, kemudian memberikan kecupan lembut di kening Dewa hingga membuat laki laki 19 tahun itu tersenyum sampai deretan giginya terlihat.
Dewi turun dari ranjang itu, kemudian merapikan baju Dewa yang sedikit lungset.
Tok! Tok! Tok!
Dewi langsung membuka pintu ruangan itu dan melihat sudah ada banyak orang disana. Dewi hanya tersenyum saja melihat orang orang itu.
"Maaf tadi kami ada sedikit urusan. Silahkan dokter periksa," ucap Dewi dengan senyum gugupnya pada dokter.
"Tidak apa nona. Saya tahu," jawab dokter itu dengan santai.
Kemudian mereka masuk, Mama Riska langsung menghampiri Dewi dan menatap Dewa yang ada di ranjang.
"Kenapa kok kayaknya senang banget?"
"Gak tahu."
Dewi hanya bilang tak tahu, karena ia masih malu dengan apa yang sudah terjadi. Pasti orang tua dewa dan dokter itu sudah menunggu lama.
Dokter yang melihat Dewa tampak tersenyum itu hanya menggeleng. Ini bukan kali pertama melihat anak anak muda yang seperti ini.
"Sepertinya Anda sedang senang," ucap dokter itu memeriksa keadaan Dewa.
"Sangat senang."
Dokter itu hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kondisi Tuan Muda sudah membaik, mungkin berberapa hari lagi perban di kepala sudah bisa di buka."
"Terima kasih dokter."
"Sama sama nona muda."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu pamit dulu," ucap Dokter itu pada mereka.
Kini hanya tinggal Mama Riska dan Dewi saja disana. Dewa yang melihat Dewi terdiam seraya bermain ponsel itu memilih untuk berbicara dengan Mamanya yang memang sedang menyiapkan makan pagi untuknya yang terlewat tadi.
"Dewa maunya Dewi yang suapin, Mah," ucap Dewa sedikit berbisik pada Mamanya.
Mama Riska yang tahu akan keinginan sang putra itu langsung mengangguk.
"Dewi sayang, tolong suapi putra dulu ya. Mama mau ke dokter kandungan habis ini," ucap Mama Riska pada Dewi.
"Lah papa gak ikut Mama cek kandungan?" tanya Dewi menerima mangkuk itu.
"Papa ada urusan di kantor, makanannya habis dari sini langsung ke kantor," jawab Mama Riska dengan senyum manisnya.
Papa memang sibuk akhir akhir ini, tapi Mama Riska tahu jika suaminya itu sedang sebuk dan sebisa mungkin ia tak membuat pikiran suaminya terbebani.
Setelah itu Mama Riska pamit pada keduanya, sedangkan Dewa dan Dewi hanya terdiam dengan tangan Dewi yang mulai menyuapi Dewa makan.
"Kenapa jadi diam gini? Biasanya kamu cerewet?" tanya Dewa pada Dewi.
"Gak tahu mau ngomong apa. Aku malu sama dokter dan Mama tadi."
"Mereka pasti paham, lagian siapa yang mau gosip kita karena kita sudah tunangan," ucap Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.
Mama Riska sebenarnya tak setuju dengan ide Dewa dulu tapi mau bagaimana lagi jika itu keinginan Dewa.
Mama Riska memutuskan untuk ke kantor suaminya, entah kenapa ia jadi rindu dengan suaminya itu. Apa ini gara gara anak yang ada di dalam kandungannya ini?
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, Dewa yang sedang bermain jari jari Dewi yang lentik itu terkejut saat mendengar ketukan pintu dari luar. Untung tidur Dewi tak terusik karena ketukan itu. Yah Dewi terlelap setelah semalaman gadis itu tak tidur dan Dewa juga tak mempermasalahkan hal itu.
"Masuk."
Ceklek
Vino dan Shasa masuk ke dalam ruangan itu, Dewa yang melihat mereka itu sedikit bingung kenapa ada Shasa di sana. Apa mereka ada hubungan.
"Permisi."
"Hmm, kalian mau apa?" tanya Dewa pada keduanya.
Shasa belum menjawab tapi pandangannya menuju ke Dewi yang terlelap di ranjang itu.
"Dewi lelah menjagaku kenapa?" tanya Dewa lagi.
__ADS_1
"Gue kesini mau minta maaf atas semua yang terjadi sama kamu," ucap Vino yang menarik kursi untuk dirinya dan Shasa.
"Gue tahu lu gak salah."
"Gue tetap merasa bersalah sama lu, andai gue gak terima tawaran Langit saat itu. Mungkin lu gak akan masuk rumah sakit," ucap Vino.
Pembicaraan mereka terus berlanjut dan kini Dewa tahu hubungan antara Vino dan Shasa. Sedangkan Dewi yang sedari tadi terlelap juga tak bangun karena elusan lembut Dewa di kepalanya. Dewa tahu dari Mama Karina jika Dewi tak tidur akhir akhir ini karena dirinya.
Vino dan Shasa juga tahu jika Dewa hanya pura pura saja.
"Dewi nyenyak banget tidurnya."
"Dia begini juga gara gara gue."
"Semoga kalian langgeng terus sampai maut memisahkan ya. Doain kita juga bisa bersama sama terus," ucap Vino yang sudah tak menyimpan dendam pada Dewa.
"Aamiin."
Bersambung
1 bab lagi end ya.
****
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukk
Napen: Ayu Andila
Judul: Menjadi Madu Sahabatku
Blurb.
Dia tidak menyangka kalau akan menjadi pemeran antagonis dalam kehidupan sahabatnya.
Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.
Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.
Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?
Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang ?
Yuk ikuti kisahnya hanya di Noveltoon !
__ADS_1