Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Kejutan


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Setelah meeting ke dua tadi dengan para pemegang saham tadi, Dewa memutuskan untuk langsung pulang saja ke rumah. Ia tak mau lama lama di kantor yang membuat kesal dan capek.


Dewa mengendarai mobil kesayangan menuju rumah utama keluarga. Dewa sudah sangat rindu dengan kekasih hatinya yang entah sedang apa sekarang.


Tak lama mobil berwarna merah itu sampai di halaman rumah mewah itu. Bahkan jika orang lain lihat bisa dikatakan itu seperti istana.


Dewa keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.


Ceklek


Hening, gelap dan kenapa semua orang tidak ada?


"Assalamu'alaikum."


Hening. Tak ada siapapun yang menjawab salamnya. Karena biasanya saat ia mengucap salam selalu ada yang menjawab entah itu pembantu atau orang tuanya.


Dewa mulai berjalan masuk ke dalam rumah itu. Tak lupa ia menyalakan lampu rumah itu dan.


Ctekk


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to you."


"Happy birthday."


"Happy birthday."


"Happy birthday to you."


Dewa terkejut karena melihat banyak orang di rumahnya. Bukan hanya Dewi dan keluarganya tapi juga ada teman teman Dewa dan Dewi.


Dewa tersenyum dan berjalan ke arah Dewa seraya mengajak kekasihnya untuk ke tengah tengah mereka.


"Sayang kamu..."


"Make u wish dulu, habis itu tiup lilinnya ya," ucap Dewi yang sudah membawa kue buatannya itu. Sebenarnya ada dua kue disana tapi mereka lebih menyarankan agar kue Dewi yang ditiup dulu.


Dewa tersenyum dan mulai membaca doa di hari ulang tahunnya ini. Bahkan ia sempat lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Dewa menatap Dewi dan orang orang yang ada disana. Entah siapa yang menyiapkan semua ini tapi yang pasti Dewa senang dengan kejutan orang orang yang ia sayangi.

__ADS_1


Fyuhhh


"Banyak banget kuenya?" tanya Dewa setelah meniup lilin angka 19 itu.


"Yang ini aku sama Naila yang bikin, tapi kalau dua itu teman teman sama Mama yang beli. Kamu potong gih kuenya dan bagikan biar rata," ucap Dewi memberikan pisau kue itu pada Dewa.


Dewa menatap kekasihnya dengan senyum manisnya. Ia tak bisa mengucapkan kata kata lagi saat itu. Ia meraih pisau itu dan memberikan potongan pertama pada Mamanya. Ke dua untuk Papanya dan ketiganya untuk Naila.


Dewi yang melihat itu tersenyum, ia juga tak terlalu berharap untuk diberikan kue dari tangan Dewa. Tapi melihat wajah Dewa yang sangat bahagia itu sudah membuat ia bahagia.


"Mungkin ini bukan potongan yang baik, tapi aku ingin memberikan potongan kue ini pada wanita yang paling aku sayang, dan aku cintai," ucap Dewa mulai menyuapkan potongan keempat itu untuk Dewi.


Dewi yang mendengar itu hanya tersenyum entahlah bagiamana rasanya Tya juga tak tahu tapi yang pasti ia senang.


Setelah menerima suapan itu Dewa memeluk tubuh Dewi dengan erat. Bahkan ia mengabaikan keberadaan semua orang yang ada disana. Yang ia butuhkan adalah Dewi saja, jika dulu ia masih bisa bermanja dengan Mamanya tapi sekarang Dewa bisa bermanja dengan Dewi.


"Aku kangen," bisik Dewa menghirup aroma wangi dari Dewi.


Dewa yang mendengar itu hanya tersenyum dan menyerahkan kue yang tadi ia bawa pada Naila. Kemudian membalas pelukan Dewa.


"Maaf ya, tadi udah cuekin kamu. Bahkan saat kamu telepon, aku sengaja ingin membuat kejutan di hari ulang tahun kami yang ke 19 ini."


Dewa tak menjawab ia malah semakin mempererat pelukannya pada Dewi.


"Hooh mentang mentang dah punya ayang."


"Hargailah kami yang masih sendiri ini. Bahkan kami iri dengan keromantisan kalian."


"Mereka sweet banget ya? Kapan aku kayak gitu?"


"Iri ya kalian??? Sama aku juga iri. Sayang banget ayang gue lagi sekolah di Mts."


"Uwuuyy yang pacaran sama bocil."


"Gak bocil ya, dia itu udah kelas 9 tahu, apalagi dia dewasa banget. Gak mbocili kayak cewek di SMA sekarang."


Mendengar semua ucapan teman-temannya Dewa dan Dewi melepaskan pelukan itu. Mereka saling tatap hingga akhirnya mereka tersenyum.


"Makasih buat semuanya, termasuk kamu sayang," ucap Dewa dengan senyum manisnya yang membuat sebagian orang disana terpesona. Apalagi Dewa masih menggunakan stelan formal yang membuat Dewa makin berkarisma.


Setelah selesai mengagumi sosok Dewa yang sangat mempesona kaum hawa. Mereka memberikan hadiah untuk Dewa dihari ulang tahunnya.


"Terima kasih semuanya. Kalian bisa makan apa yang ada dulu. Aku ingin ke atas dulu, mau ganti pakaian sekalian mau mandi."

__ADS_1


"Yoi bro, lagipula gue masih mau makan banyak disini. Kuenya juga enak," ucap Ozi yang tak tahu dirinya sudah memakan kue yang ia potong sendiri.


"Mama, Papa. Dewa ajak Dewi ke atas ya, mau kasih pelajaran buat calon mantu kalian ini," izin Dewa yang membuat Dewi menggeleng. Tapi sepertinya Mama dan Papa juga tahu apa yang akan mereka lakukan, hingga akhirnya mengizinkan Dewa membawa Dewi ke atas.


"Awas kalau sampai mantu Mama kamu apa apain," peringat Mama Riska pada Dewa yang langsung di jawab jempol oleh Dewa.


"Kakak jangan apa apain kakak ipar aku. Atau enggak kakak gak akan dapat hadiah dari aku," ucap Naila memberi ancaman kepada Dewa.


"Iya kalian tenang aja, aku gak akan macam macam sama Dewi."


Saat mengucapkan itu Dewa dan Dewi sudah berada di atas sana. Mereka berjalan menuju kamar Dewa.


Sampainya di kamar Dewa langsung menerjang tubuh Dewi hingga membuat Dewi terjengkang ke kasur empuk itu.


Dewa memeluk tubuh Dewi yang sangat mengharumkan itu. Dewi yang merasakan beban di atas tubuhnya itu hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Ayang kamu berat," ucap Dewi mengelus rambut Dewa yang masih memeluk tubuhnya itu.


"Aku kangen banget sama kamu. Kamu tega banget buat aku kangen kayak gini. Kamu gak angkat telepon dari aku sejak tadi pagi. Ternyata kamu sengaja," ucap Dewa dengan melas bahkan mirip merengek.


"Aku sibuk buat kejutan buat kamu ayang. Memangnya kamu gak seneng?" tanya Dewa menelusupkan jarinya di rambut Dewa.


"Seneng banget tapi aku sangat merindukan kamu. Aku kesal sekali dengan apa yang terjadi hari ini. Aku ingin kamu selalu menemani aku kemanapun," ucap Dewa mengangkat kepalanya dari dada Dewi kemudian menatap mata Dewi dengan dalam.


"Gak bisa gitu dong. Kamu kerja di kantor sedangkan aku ada di rumah."


Dewa menggeleng, ia tak bisa menceritakan tentang apa yang tadi terjadi. Ia belum siap menceritakan tentang masa lalunya pada Dewi walau Dewi berhak tahu akan semua yang ia lakukan.


"Aku kangen."


Bersambung


Kangen banget ya Dew, sampai gak lepas gitu pelukannya. Uhhh jadi pengen juga di peluk Ayang.


****


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk. Judulnya My Love and My Obsession. Karya kak Candy.


Sana merupakan gadis sukses yang berprofesi sebagai CEO, kini bekerja di sebuah perusahaan agensi ternama. Ia memiliki teman masa kecil, Victor. Tanpa sepengetahuan Sana, Victor menandatangani kontrak di perusahaan agensi yang di pimpin oleh Sana. Karena hubungan mereka sangat dekat, akhirnya Sana dan Victor memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.


Namun masalah datang ketika orangtua Sana memutuskan menjodohkan Sana dengan anak teman lama mereka, Jay yang  merupakan pemilik agensi yang di pimpin oleh Sana. Keduanya sama-sama tidak tertarik dan tak saling mengenal tetapi seiring berjalannya waktu Sana bimbang akan pilihannya.


__ADS_1


__ADS_2