
Happy reading
Dewa mengajak Dewi menuju koperasi siswa untuk membeli seragam baru. Dewi meminta Dewa untuk mencari wanita yang menolongnya tadi.
"Sayang kamu benar gak kenapa napa kan? Aku takut kamu trauma," tanya Dewa yang masih k yakin dengan kondisi kekasihnya.
"Aku gak apa-apa tapi gadis bercadar tadi yang kenapa napa. Bahkan aku melihat tadi melihat ada yang meleparkan botol ke pundaknya," jawab Dewi dengan khawatir. Sejak Dewa datang tadi ia langsung tak melihat gadis bercadar tadi.
Sedangkan Tama dan gadis bercadar itu berada di UKS, Tama sudah mengunci pintu UKS itu agar tidak ada yang melihatnya.
"Kenapa kamu bisa ada di kelas itu hmm?" tanya Tama pada kekasihnya.
"Tadi aku gak sengaja lewat, saat ingin ke tempat kepala sekolah. Dan aku melihat ada perundungan di kelas itu, aku tak tega By."
"Tapi sekarang kamu yang kena kan? Lihat bahu kamu sampai memar begini. Aku gak mau istri cantikku ini luka, nanti kalau Mama dan Papa lihat putri cantiknya terluka aku yang akan digantung mereka."
"Gak akan kok, lagipula aku selalu pakai jadi tak akan terlihat."
Akhirnya Tama menyelesaikan mengobati bahu istrinya. Hingga membuat Tama mengecup bahu itu agar cepat sembuh.
Cups.
"Terima kasih Hubby."
"Sama sama sayang."
Gadis itu terduduk dan memeluk lengan Tama, ia sudah tak memakai cadar ataupun hijabnya hingga membuat Tama dengan leluasa menatap wanita yang sudah resmi menjadi istrinya sejak seminggu yang lalu.
"Habis ini mau pulang atau masih mau lanjutin ke ruang kepala sekolah?" tanya Tama mengelus rambut hitam gadis itu.
"Naf mau tetap sekolah, masa cuma gini aja harus pulang. Lagian Naf kan mau cepat lulus, Naf gak mau kalau ada yang tahu kita udah nikah. Bisa bisa kamu di keluarkan dari sekolah," ucap gadis itu menatap Tama yang sudah resmi menjadi imamnya itu.
"Kenapa memang kalau banyak yang tahu tentang pernikahan kita. Kalaupun aku dikeluarkan aku tidak akan jatuh miskin."
__ADS_1
"Siapa yang ajarin Hubby jadi sombong. Ingat ya Hubby jodoh, rezeki, dan maut sudah Allah atur. Kita gak akan tahu kapan pasangan kita, harta kita, dan nyawa kita akan diambil."
"Jadi jangan sombong dengan apa yang kamu miliki sekarang toh itu semua milik orang tua Hubby bukan milik Hubby walaupun nanti akan menjadi milik suami aku ini," ucap Nafisah mengelus rahang tegas suaminya.
Tama adalah orang yang sangat jarang berinteraksi bahkan Dewa saja tak tahu seluk beluk Tama yang sangat sulut untuk dicari. Tama adalah seorang yang pendiam tapi ia akan selalu menjadi sahabat yang bijak saat teman temannya sedang ada masalah.
"Iya, terima kasih sudah hadir dalam hidupku yang dulu abu abu ini sayang. Kamu adalah warna bagi hidupku," ucap Tama mengecup berkali kali kening Nafisah.
"Bentar ya Hubby, Naf mau ganti baju ini dulu. Baunya gak enak, Maf gak betah lama lama gini," ucap Nafisah melepas pelukan di tangan Tama.
"Kamu bawa baju ganti?" tanya Tama dan dianggukkan oleh Nafisah.
"Bawa, Naf juga bawa cadar dan kerudung juga."
"Kok bisa, memang kamu mau kemana kok bawa seragam segala?" tanya Tama.
"Mau nginep rumah Mama Papa. Kangen sama Mama Papa. Kan semenjak kita nikah aku belum pulang ke rumah aku sama sekali," jawab Nafisah membuka seragamnya hingga tampaklah manset berwarna putih itu yang mencetak jelas lekuk tubuh Nafisah.
Tama yang melihat itu menelan ludahnya kasar bagaimana ia bisa tahan jika tubuh Nafisah sangat menggoda imannya.
"Kenapa?" tanya Nafisah mengambil seragam yang ada di tasnya.
"Peluk," rengek Tama memeluk Nafisah dari belakang hingga membuat Nafisah tersenyum.
Ia tak masalah jika Tama memeluknya karena mereka sudah halal. Beda lagi saat Tama mendekatinya dulu, ia akan selalu menghindar karena mereka belum mahram.
"Kenapa kamu bisa seneng banget goda aku?" tanya Tama mengelus tubuh tubuh Nafisah yang belum memakai seragam itu.
"Karena aku suka goda kamu, kan menggoda suami itu sebagian dari ladang pahala kita sebagai istri. Jadi gak salah dong," ucapnya dengan senyuman manisnya.
"Iya gak salah, jadi gak salah dong kalau malam ini aku meminta hak aku sebagai seorang suami?" ucap Tama mengecup leher Nafisah.
"Boleh, lagipula aku sudah suci sejak kemarin tapi aku gak berani bilang sama kamu," jawab Nafisah malu.
__ADS_1
Nafisah gadis yang tak terlalu polos bahkan ia tahu dari Mamanya jika menjadi seorang istri harus nurut apa kata suami. Termasuk melayani merek di atas kasur.
"Kenapa gak bilang sama aku?"
"Malu."
"Jadi nanti malam masih malu apa enggak?" tanya Tama dan dijawab gelengan oleh Nafisah walau ia masih ragu.
"Oke aku tunggu nanti malam sayang," ujar Tama melepaskan pelukan itu membiarkan istrinya memakai seragam baru itu.
"Kenapa kamu dulu memutuskan untuk berhijrah?" tanya Tama. Padahal setahu dia Mama dan Papa Nafisah adalah seorang non muslim. Mereka beragama Kristen begitupun dengan kakek dan neneknya yang merupakan seorang Kristen.
"Kenapa? Susah kalau dijelasin, yang intinya aku mau berubah bukan karena siapa siapa tapi aku merasa tenang dengan hidupku dan agamaku yang sekarang. Untungnya Mama dan Papa support aku banget," jawab Nafisah memakai cadar berwarna putih itu hingga ia membuat hidung ke bawah tak terlihat jelas.
"Wajah ini hanya milik kamu, jadi kamu jangan berkecil hati karena tak bisa memamerkan wajah aku pada teman teman kamu. Karena aurat istri itu hanya untuk suaminya bukan untuk diumbar," ucap Nafisah pada Tama yang mengangguk.
Ia tak pernah berniat untuk memamerkan wajah Nafisah pada teman temannya, ia malah takut nanti malah membuat teman iri dan merebut Nafisah darinya. Ia tak mau hal itu terjadi, Nafisah adalah hidupnya sejak pertama Tama ingin menjalin hubungan serius dengan Nafisah.
"Terima kasih sudah menjaga aurat kamu untuk aku sayang," balas Tama mengecup kedua mata Nafisah yang sangat indah.
"Sudah menjadi kewajiban aku, " jawab Nafisah memeluk tubuh Tama.
Sejujurnya Nafisah sudah lama memendam rasa cinta untuk suaminya ini. Selain mereka dulu adalah teman sewaktu kecil, Nafisah juga laki laki kedua setelah Papanya yang menjaga dan melindunginya karena kelemahannya.
Nafisah selalu menyebut nama Tama di dalam doanya. Ia hanya berharap yang baik untuk keduanya jika memang Tama adalah jodohnya maka dekatkanlah sedangkan jika mereka memang bukan jodoh tolong berikan yang terbaik untuk mereka walau tak bersama.
"Love you sayang," bisik Tama sebelum ia melepaskan pelukan itu.
"Jangan mencintaiku terlalu dalam, aku takut Allah cemburu dan tidak merestui pernikahan kita," jawab Nafisah membenarkan hijabnya agar rapi.
"Iya maaf tapi aku memang mencintai kamu kekasih halalku."
"Ana uhibbuka fillah Hubby."
__ADS_1
Bersambung