Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Hadiah Dari Ayang


__ADS_3

Happy reading


Dewa masih betah memeluk tubuh Dewi, ia tak mau melepaskan pelukan itu jika Dewi sendiri tak meminta.


"Udah ya pelukannya, capek tahu dari tadi kamu di atas aku," ucap Dewi dengan lembut.


"Kamu sakit?"


Dewa langsung menyingkir tapi ia beralih ke samping Dewi dan memeluk tubuh Dewi dari samping.


"Mau aku kasih hadiah apa enggak nih?" tanya Dewa menggoda Dewa yang masih betah memeluknya.


"Maulah, karena dari tadi aku juga nungguin hadiah dari kamu," jawab Dewa menatap Dewi yang juga menatapnya.


"Lepasin dulu kalau gitu, aku mau ambil hadiah di kamar," ucap Dewi mengelus pipi putih Dewa.


Akhirnya Dewa mulai melepas pelukannya dan membiarkan Dewi mengambil hadiahnya untuknya yang ada di kamar Dewi.


Sedangkan Dewi yang sudah mengambil dua kado yang ia siapkan itu. Langsung berjalan ke kamar Dewa yang setia menunggu di kasur dengan sepatu yang sudah di lepas.


"Mau yang kotak besar atau kota kecil dulu?" tanya Dewi menyodorkan dua kotak itu.


"Mau dua duanya sayang. Ini memang buat aku semuanya?"


Dewi mengangguk dan membuat Dewa ingin mengambil dua duanya langsung.


"Ambil satu satu dulu habis itu di buka."


Akhirnya Dewa mengambil kotak yang kecil dulu. Ia membukanya dengan perasaan senang, kapan lagi ia mendapat hadiah dari kekasihnya seperti ini jika bukan di hari ulang tahunnya.


Dewa membuka bungkus kado itu dan terlihat sebuah kotak yang ia tahu apa itu isinya apa. Libre Eau De Parfum itulah tulisan yang ada di kotak itu.


"Sayang ini kan?"


"Hehehe aku gak sengaja lihat kamu scroll online shop dan melihat parfum itu. Jadi aku beli aja buat kamu, kamu suka?" tanya Dewi yang ikut duduk di samping Dewa.


"Wangi banget aku suka, kemarin mau cek out udah habis stoknya kok kamu bisa dapat sih?" tanya Dewa menatap parfum itu dengan senyum.


"Bisa lah apa sih yang gak bisa aku dapatkan. Dapatin hati kamu yang hampir beku aja bisa," ucap Dewa dengan senyum manisnya.


Dewa mengecup kening Dewi, benar apa yang di katakan Dewi. Ia memang sudah jatuh sejatuh jatuhnya pada Dewi sejak pertama kali bertemu.


"Makasih aku suka sama parfum ini. Makasih banyak sayang," ucap Dewa dengan senyum manisnya kembali melabuhkan ciumannya di kening Dewi.


Dewa memberikan kotak kado yang lebih besar daripada yang pertama tadi dengan ekspresi tak bisa ditebak. Dewa sempat menatap Dewi yang sepertinya ingin tertawa tapi ditahan.

__ADS_1


Akhirnya Dewa mulai membuka bungkus kado itu dengan pelan. Tapi kenapa masih ada bungkus kado lagi. Ia bukan lagi dan ada bungkus kado lagi, hingga berberapa lapis itu Dewa mulai menatap Dewi kesal.


"Kenapa banyak banget sih sayang, aku capek tahu."


"Sabar dong, kurang dikit lagi tuh," ucap Dewi memeluk perut Dewa dari belakang. Entah kapan Dewi berganti posisi seperti itu tadi.


Dewa menatap tangan kekasihnya yang sedang memeluknya itu. Ia masih memakai kemeja putih dan jas berwarna hitam miliknya itu.


Hingga membuat Dewi ingin selalu mengurung Dewa jika berpakaian formal seperti ini. Bukannya makin jelek, Dewa jadi makin tampan.


"Oke."


Tak terasa Dewa sampai di bungkus terakhir, sudah terlihat kotak berwarna hitam itu.


"Jam tangan?" tanya Dewa menatap kotak itu.


"Bukan itu jam dinding. Masih nanya lagi, ayo buka dong," ucap Dewi menyembulkan kepalanya di ketiak Dewa. Untung masih wangi kalau enggak mungkin udah Dewi jauhin tadi.


Dewa mengangguk dan membuat kotak jam itu, ia bisa melihat tampilan elegan dari jam tangan itu.


"Suka gak sama jamnya?" tanya Dewi yang mendapat anggukkan dari Dewa.


"Aku pakaian ya," ucap Dewi mengambil jam itu dan memakaikannya pada Dewa.


"Kalau yang ini jangan dilihat harganya ya Ayang. Aku gak bisa belikan kamu jam tangan rolex atau yang termahal sekarang. Tapi aku beli ini karena bentuknya lucu dan juga kita couple," ucap Dewi memperlihatkan jam tangan yang ada di tangannya.


"Heem, lucu banget kok bentuknya maka dari itu aku bisa beli ini buat kita berdua," ucap Dewi menyatukan tangan mereka dan terlihatlah jam tangan couple dari keduanya.


"Cantik banget, hebat kamu pilihin aku jam ini. Walau awalnya aku kesal dengan bungkus bungkus kado ini."


Dewi tertawa melihat banyak bungkus kado yang ada di lantai.


"Nanti aku bersihkan," ucap Dewi yang membuat Dewa langsung menggeleng.


"Gak boleh, biar bibi aja yang bersihin. Aku gak mau kamu capek lagi, pasti tadi kamu udah banyak bekerja untuk menyiapkan ulang tahun aku kan?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.


"Tapi sumpah kalau cuma bersihkan bungkus ini aja gak akan cepek. Lagian aku gak mau bibi lihat kita di kamar ini berdua, nanti dikiranya ngapa ngapain lagi," ucap Dewi dan dibalas senyum tipis oleh Dewa.


Pria itu melepas jas hitamnya hingga tersisa kemeja putih bersih miliknya kemudian ia melipat lengan bajunya hingga siku. Kemudian berbalik badan dan mendorong tubuh Dewi ke kasur empuk itu.


Dewi melihat Dewa yang tersenyum dan menindih tubuhnya itu mulai kehabisan nafas. Wajah Dewa sangat dekat dengan dirinya, bahkan tangan Dewi ditahan oleh tangan Dewa sehingga ia tak bisa menggerakkan tangannya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Dewi mulai gugup kenapa Dewa jadi menakutkan seperti ini.


"Mau ngapa ngapain sama kamu," jawab Dewa mengembalikan kata kata Dewi.

__ADS_1


"Jangan macam macam deh Dewa. Aku takut kamu macam macam sama aku."


"Gak macam macam kok sayang cuma satu macam, boleh kan?" tanya Dewa menatap dada Dewi yang tertutup baju berwarna putih itu. Tapi jika dilihat dari dekat baju itu tembus pandang dan sialnya Dewa melihat batok pelindung itu.


"Gak boleh jatah kamu udah habis kemarin Ayang. Kamu udah gak dapat lagi jatah susu dari aku," ucap Dewi menutup dadanya dengan tangan.


"Hei kamu juga lupa ya, kamu bilang satu minggu hanya dapat dua kali kan sayang. Dan ini sudah masuk Minggu awal. Hari ini kan hari Senin jadi bukan termasuk minggu kemarin," ucap Dewa menatap mata Dewi dengan lembut.


Tangan nakalnya berlayar ke leher Dewi kemudian turun ke bawah.


Oh ayolah otak encer Dewi, tolong kerja samanya agar bisa lepas dari Dewa yang seakan ingin memakannya mentah mentah.


"Stop kamu boleh minum susu. Tapi nanti ya, aku gak mau. Kamu masih kotor, kan belum mandi," ucap Dewi mencegah tangan Dewa yang ingin membuka baju Dewi.


Dewa yang tersadar dan melihat tubuhnya dan mengangguk. Benar apa kata Dewi, ia masih kotor.


"Mandi dulu gih."


"Hmm oke."


Dewa ingin beranjak dari atas tubuh Dewa tapi Dewa malah mencium lembut bibir Dewi hingga berberapa saat kemudian Dewa melepaskan ciuman itu.


Dewa menatap Dewi kemudian bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Dewi merapikan pakaiannya dan keluar dari kamar. Jika terus terus di kamar bisa bisa ia digarap oleh Dewa.


Bersambung


Mau lihat hadiah dari Dewi buat Dewa. Ada di aku instagram Tya ya. @_tyatul.author


Jangan lupa mampir....😘😘


***


***


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya ya. Judulnya Pesona Sang Diva, karya kak Nezha Ageha


Season 1


Bab 1- 127


Menceritakan awal mula dan perjalanan Kasih dalam menemukan tentang keluarga kandung dan balas dendam.


Season 2


Bab 128 - tamat.

__ADS_1


Perjalanan cinta Kasih juga beberapa tokoh lainnya. Apakah mungkin masih bisa mempercayai dan menemukan cinta? Siapa lagi sebenarnya musuh yang masih mengganggu ketentraman keluarga ini?Rahasia apa lagi yang di tinggalkan kedua orang tuannya?



__ADS_2