
Happy reading
"Makasih sayang," ucap Dewa yang belum juga melepas pelukannya itu. Ia masih terlalu senang karena dosa yang di ucapkan Dewi.
Mereka masih berada di balkon menatap hamparan kebun yang sangat indah dari atas.
"Capek gak? Aku mau makan nih lapar," ucap Dewi yang sudah lebih baik daripada tadi.
"Emang udah selesai masaknya?"
"Sudah," jawab Dewi. Saat ia ingin menggenggam tangan Dewa ia jadi teringat dengan tanda yang ada di lehernya.
"Kamu tadi nyuri ya Ay?" tanya Dewi yang membaut Dewa kesal lagi. Kenapa Dewi jadi menuduhnya mencuri memang tampangnya ini tampang tampang mencuri?
"Curi apa sih sayang? Aku gak pernah mencuri apapun."
Tanpa basa basi Dewi membuka kerah bajunya dan menghapus pondation yang ada di atas dadanya.
"Ini apa? Masa setan yang buat ini?" tanya Dewi menatap tajam Dewa.
Dewa yang di tatap itu hanya bisa tersenyum. Kemudian ia mengusap bekas yang tadi ia buat itu dengan lembut.
"Hebat kan aku bisa bikin karya gini bahkan sampai kamu tak sadar," ucap Dewa kemudian mengecup bibir Dewi yang hanya terdiam.
"Sini aku bantu kancingin lagi bajunya. Aku gak mau sampai leher kamu jadi santapan anak anak."
"Emang aku apa kok jadi santapan," ucap Dewi kesal plus malu. Kapan Dewa membuat karya itu, bahkan seberapa lembut Dewa melakukannya sampai membuatnya tak sadar.
"Jangan marah ya sayang, karena aku kan calon suami kamu. Jadi anggap aja ini DP."
"Kapan kamu buatnya? Aku gak tahu kenapa aku gak merasakannya?" tanya Dewi.
"Tadi saat kamu tidur, kamu tahu gak sayang. Tadi kamu juga menikmatinya, terbukti dari des**** kamu yang membuat aku ingin lagi membuat karya itu tapi aku seketika ingat dengan perkataan Papa dan Mama serta kamu kemarin," jawab Dewa dengan senyum manisnya.
Dewi yang malu itu langsung memalingkan wajahnya, ia tak lagi menghadap Dewa.
Dewa yang gemas dengan tingkah kekasihnya itu memeluk tubuh Dewi dari belakang. Tak lupa ia mengecup singkat telinga Dewi yang tak bertulang itu.
__ADS_1
"Katanya mau makan, ini jadi apa enggak. Dari tadi perut aku udah keroncongan nih butuh asupan," tanya Dewa pada Dewi yang sepertinya masih malu.
"Iya kamu duluan aja, nanti aku nyusul."
"Gak mau aku maunya berdua sama kamu," jawabnya manja tak lupa juga tangannya yang nakal itu tapi hanya usapan saja kok, tenang saja.
Akhirnya setelah ia sudah tak malu lagi, Dewi mengajak kekasihnya ke meja makan. Disana sudah ada teman temannya yang sedang menunggu mereka.
"Maaf ya nunggu lama, Dewi tadi marah jadi gue harus minta maaf dulu sama dia," ucap Dewa menarik kursi dan duduk begitupun dengan Dewi.
"Aku gak akan marah kalau kamu gak buat salah."
Dewa yang mendengar jawaban Dewi itu hanya bisa menggeleng tapi juga diam karena jika ia menjawab sudah bisa dipastikan jika Dewi akan memarahinya lagi dan yang paling parah adalah saat Dewi sudah mendiaminya.
"Udah udah, gak mau berdebat di meja makan," sela Beby yang sepertinya tahu suasana hati Dewi masih belum membaik sepenuhnya.
"Iya, gak baik. By pimpin doa dulu sebelum makan," tambah Nafisah pada suaminya.
"Bismilah... Sebelum kita makan siang hari ini, marilah kita berdoa sesuai kepercayaan masing masing. Berdoa mulai," ucap Tama dengan tegasnya.
Mereka berdoa dengan keyakinan agama masing masing, karena mereka bukan Islam semua. Ozi, Cio dan Karolin adalah non muslim.
"Selamat makan."
Akhirnya mereka mulai mengambil makanan yang sudah tertata di meja makan dan mulai makan siang mereka.
"Kamu mau lauk apa?" tanya Tama pada Nafisah karena dia tahu Nafisah paling tidak bisa makan banyak. Entahlah kenapa tapi jika disuruh makan banyak maka Nafisah akan muntah.
"Ayam aja," jawab Nafisah dengan senyum dibalik cadarnya. Gadis itu tak sabar untuk di suapi Tama.
Beby menatap Nafisah bingung, bagaimana cara Nafisah makan jika memakai kain itu apa tidak ribet.
"Naf? Gimana caranya makan pakai kain itu? Kenapa gak dibuka aja, ribet gue lihatnya kalau lu makan tetap pakai kain itu," tanya Beby menatap Nafisah yang belum mengambil piringnya itu.
"Aku gak bisa buka cadarku kalau gak di depan Kak Tama sebagai suamiku. Lagipula aku sudah terbiasa makan dengan seperti ini," jawab Nafisah dengan santainya.
Mereka tersenyum dan mengangguk, salut akan keteguhan Nafisah dalam memakai pakaian tertutup itu.
__ADS_1
"Lu gak makan Naf?" tanya Dewi pada Nafisah.
"Makan kok sama Kak Tama," jawab Nafisah menujuk piring suaminya yang sudah penuh dengan makanan.
Mereka hanya mengangguk paham jika pasangan suami istri itu sedang ingin bermesraan. Sedangkan Dewi ingin melihat cara makan Nafisah yang masih memakai cadar.
Merekapun mulai memakan makan siang mereka, Tama mulai membaca bismilah dan mengambil makanan untuk istrinya.
"Buka mulutnya sayang," ucap Tama dengan pelan agar yang lain tidak menatap ke arah mereka.
Dengan senang hati Nafisah menyingkap sedikit cadarnya dan menerima suapan dari sang suami.
"Enak?" tanya Tama dan dianggukkan oleh Nafisah. Ia tak bisa menjawab karena sedang mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Tama juga memakan makanan itu setelah menyuapi Nafisah. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Dewi.
"Kenapa yank?" tanya Dewa menatap Dewi.
"So sweet banget deh mereka, nanti kalau udah nikah suapin juga ya," ucap Dewi pada kekasihnya menujuk kedua pasangan suami istri yang sedang makan itu. Memang tampak seperti biasa saja tapi bagi Dewi itulah keromantisan yang sesungguhnya.
"Kalau kamu mau aku suapin juga ya," tawar Dewa yang membuat Dewi tersenyum dan menggeleng. Ia malu untuk memperlihatkan kemesraan mereka dihadapan banyak orang.
"Gak usah lain kali aja, aku malu kalau harus jadi pusat perhatian gara gara kamu," jawab Dewi dengan pelan.
Dewa tertawa mendengar hal itu, jujur ia masih tak percaya jika Dewi bisa malu juga. Padahal dulu Dewi adalah wanita yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi tapi ternyata dia masih mempunyai rasa malu juga.
Dewi juga memiliki sifat yang sulit di tebak kadang malu malu kucing, kadang gampang marah, gambang salting, tapi yang paling membuat ia takut adalah sifatnya yang gampang mendiami dia jika ada salah yang sangat fatal.
"Gak usah malu, kalau kamu mau aku suapin bilang ya sayang. Kamu tahu aku tak terlalu peka dengan apa yang kami mau," ucap Dewa mengambilkan air untuk kekasihnya.
"Heem."
Dewie melanjutkan makannya dengan tenang sesekali ia melihat ke arah Dewa yang sedang mengupas buah apel itu.
"Kapan gue nikah ya?" tanya Dewi dalam hati.
Dewi berpikir jika menikah itu enak dan akan terhindar dari dosa. Tapi disisi lain Dewi juga masih ingin mengejar cita citanya.
__ADS_1
Bersambung