
Happy reading
"Tante aku pulang," teriak seorang laki laki membawa plastik yang ber tuliskan supermarket W*****.
Sontak mereka semua langsung menatap ke arah sumber suara dan berapa terkejutnya saat Dewi melihat jika yang datang itu adalah laki laki yang tadi menabraknya.
Tak jauh beda dengan Dewi yang terkejut, laki laki itu juga menatap Dewi dengan tak biasa.
"Kok lama sih Riya? Padahal kan supermarketnya gak jauh dari rumah?" tanya Mama Riska pada keponakannya yang masih terdiam disana.
Laki laki itu langsung tersadar kemudian tersenyum pada tantenya yang tak lain adalah Mama Riska.
"Oh ya, Riya. Kenalkan ini adalah Dewi calon istri Dewa, seperti yang Tante bilang kemarin dia cantik kan?" tanya Mama Riska pada Satriya yang sudah mendekat ke arahnya.
"Calon istri Dewa ini?" tanya Satriya tak percaya.
"Iya."
Satriya dengan senyum tipis mengangguk kemudian mengulurkan tangannya.
"Gue Satriya Abimana, sepupu Dewa dari Tante Riska," ucap Satriya dengan senyum yang belum hilang walau tipis.
"Dewi," balas Dewi menerima uluran tangan Satriya. Karena tak enak saja jika ia tak menerima uluran tangan itu.
Xss belum melepaskan pegangan tangannya.
Tanpa mereka sadari Dewa sudah membuka matanya dan menatap tajam Satriya. Ia tak akan membiarkan kekasihnya dipegang begitu lama dengan Satriya walaupun itu adalah sepupunya.
"Ehemm."
"Jadi sebelumnya kalian sudah pernah ketemu?" tanya Mama Riska dan dianggukkan oleh Dewi.
Ia sangat malas untuk membasah laki laki ini, ia sendiri juga tak tahu kenapa ia tak suka dengan Satriya.
"Iya tant, tadi gak sengaja Satriya nabrak dia yang milih makanan ringan," jawab Satriya.
"Oalahhh."
"Kapan sampai bang?" tanya Dewa pada Satriya yang sudah melepaskan pegangan tangannya dengan Dewi.
"Kemarin malam, kata Tante kamu smaa teman teman kamu ke puncak ya. Ada oleh oleh buat Abang?" tanya Satriya berusaha untuk tetap tersenyum.
__ADS_1
Dewa mengambil baju rajut yang sebenarnya miliknya tapi berhubung Dewa punya dua jadi ia akan memberikan satu untuk Satriya.
"Nih buat lu, kalau makanan lu ambil aja sepuas lu," ucap Dewa dengan datar.
Satriya yang melihat raut wajah itu sudah biasa, jadi ia tak kaget.
"Thanks brother," ucap Satriya menatap baju rajut itu dengan seksama. Indah memang dan ia suka dengan hasil rajutannya.
Setelah selesai menata kue kue itu, Mama Riska pamit ke atas karena ingin memberikan oleh oleh untuk suaminya yang akhir akhir ini selalu saja sibuk. Ia juga gak tahu kenapa suaminya itu pulang jam 3 sore padahal biasa jam 7 lebih.
Meninggalkan ketiga pemuda dan pemudi itu di lantai bawah, Dewi pun ikut pergi dari sana. Ia ia ingin memberikan baju yang tadi ia beli pada adik adiknya.
"Dia calon istri gue, jangan pernah sekali kali lu deket sama Dewi," tegas Dewa pada Satriya.
"Hahaha kok tahu kalau gue suka sama calon istri lu. Gue cinta sama dia sejak pandangan pertama," jawab Satriya dengan senyum remeh.
"Tapi dia calon istri gue, gue dulu yang sama dia. Banyak cewek yang bisa lu cari jangan sekali kali sama cewek gue," ucap Dewa menatap tak suka Abang sepupunya itu.
"Hahaha gue gak sepengecut itu untuk merebut calon istri dari sepupu gue. Tapi yah, jika lu menyakiti hatinya siap siap kehilangan, karena gue yang akan menyembuhkan lukanya," ucap Satriya dengan mantap.
"Dan gue gak akan pernah menyakiti dia, karena dia jiwa gue."
"Kita lihat saja nanti," balas Satriya dengan senyum tipisnya.
Dengan kesal Dewa berjalan menuju kamarnya, Satriya menatap punggung sepupunya itu hingga menghilang.
"Dasar anak kecil sudah bisa bilang gitu," gumam Satriya menggeleng pelan.
Kenapa Satriya bilang anak kecil seperti itu, karena tingkah Dewa masih seperti anak kecil yang tak mau mainannya diambil. Sedangkan Satriya diusianya yang sudah 22 tahun ini bisa tahu apa yang seharusnya ia lakukan dan tidak.
***
Sedangkan di kamar Mama Riska, wanita cantik itu sedang berjalan menuju ruang kerja suaminya yang terhubung dengan kamar mereka jadi ia bisa melihat jika ruangan itu ada penghuninya.
"Papa," panggil Mama Riska duduk di depan Papa Albert membawa baju itu.
"Ada apa ma?"
"Ada oleh oleh dari Dewi, lucu banget deh bajunya lihat," ucap Mama Riska memperlihatkan baju itu.
"Coba lihat," ucap Papa Albert dan langsung di berikan oleh Mama Riska.
__ADS_1
"Bagus kok, Papa suka. Punya mama mana?" tanya Papa Albert menatap istrinya.
"Ada koi di kamar, coba deh papa pakai," ucap Mama Riska memakaikan baju rajut itu tanpa melihat jika suaminya sedang meeting lewat zoom.
Mereka yang melihat adegan itu hanya tersenyum, karena atasan mereka sangat mencintai istrinya. Ini adalah salah satu sifat bos mereka yang menjadi contoh.
"Sudah, ganteng banget," ucap Mama Riska menepuk dada Papa Albert.
"Mama suka?"
"Suka banget."
"Hmm."
"Oke sepertinya meeting kali ini kita sudahi sampai disini dulu. Untuk berkas berkasnya tolong letakkan di meja kerja saya saja besok," ucap Papa Albert yang membuat Mama Riska menatap layar laptop dan benar saja jika disana ada 6 orang yang melakukan meeting zoom bersama suaminya.
Saat ingin pergi tangan Mama Riska langsung di tarik oleh Papa Albert hingga membuat Mama Riska jatuh ke pangkuannya.
"Papa."
Papa Albert langsung mematikan zoom itu secara sepihak dan karyawannya juga tak masalah karena tahu jika atasannya itu juga butuh waktu untuk berdua dengan suaminya.
"Udah aku matiin kok," jawab Papa Albert mengelus perut istrinya.
"Kenapa gak bilang kalau tadi lagi meeting? Aku kan jadi malu sama karyawan kamu," ucap Mama Riska kesal.
"Lagian kamu gak nanya."
Mama Riska menatap suaminya dengan sayu, entah kenapa ia tak bisa kesal lama lama dengan suami tampannya ini. Suami yang sudah menemaninya selama 19 tahun ini bahkan Papa Albert tidak tampak tua malah semakin hot dan gagah saja.
"Papa tahu gak kalau kemarin Mama ngidam mau Papa pakai baju rajut. Tapi Mama gak berani bilang karena Papa sibuk terus."
Papa Albert menatap sang istri, jika ngidam kenapa tidak bilang? Apa bagi istrinya itu, pekerjaan adalah segalanya?
"Tapi sekarang kamu sudah pakai baju rajut ini, jadi ngidam aku keturutan," jawab Mama Riska memasukkan tangannya ke dalam baju rajut itu.
"Lain kali kalau kamu lagi ngidam jangan ditahan ya. Aku gak mau sampai anak kita ileran kalau sudah lahir," ujar Papa Albert dengan lembut.
Mama Riska tersenyum dan mengangguk, Mama Riska memeluk tubuh papa Albert dengan erat bahkan ia bisa menghirup aroma khas dari tubuh Papa Albert.
"Gak mau nengok Adik?"
__ADS_1
Bersambung