Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Dewa Bangun


__ADS_3

Happy reading


"Ayang, aku bawa bunga buat kamu," ucap Dewi masuk ke dalam ruang pemulihan itu.


Dewi memasukkan setangkai bunga mawar itu di vas bunga. Jumlahnya sudah banyak karena setiap ia masuk ke ruangan ini selalu membawa bunga mawar. Entah apa maksudnya tapi hal itu membuat orangtua Dewa tersenyum.


"Dewa belum bangun ya Pa?" tanya Dewi mengapa Dewa yang terbaring tak berdaya disana.


Sudah 4 hari Dewa berbaring seperti ini, tapi belum ada tanda tanda jika Dewa akan bangun. Dewi juga sudah mulai sekolah 2 hari yang lalu, orangtua Dewi juga sudah pulang. Bahkan Mama Karina menyemangati anaknya dan calon besannya agar lebih tabah lagi dalam menunggu bangunnya Dewa.


Tentu saja orangtua Dewi juga sedih mendengar kabar calon mantu mereka kecelakaan. Bahkan mereka langsung memesan tiket pulang saat itu juga.


"Belum, Nak. Tolong jaga Dewa dulu ya, Papa mau ajak Mama ke kantin dulu," ucap Papa Albert dan dianggukkan oleh Dewi. Ia tahu orangtua Dewa belum makan karena harus menunggu Dewa yang belum juga sadar.


"Kamu sudah makan apa belum, sayang?" tanya Mama Riska yang duduk di sofa itu.


"Sudah Mah, kalian makan aja dulu. Nanti kalau Dewi lapar, Dewi bakal ke kantin sendiri," jawab Dewi dengan senyum manisnya seolah dirinya ini baik baik saja.


Mama dan Papa meninggalkan Dewi disana untuk menjaga Dewa, Dewi menatap Dewa yang masih memejamkan matanya.


Tangan lembut Dewi mulai memegang tangan kekar Dewa. Ia mengelusnya kemudian mengecup punggung tangan Dewa dengan lembut.


"Kapan kamu bangun, Ay? Aku kangen kamu. Aku kangen saat kamu tidak aku, manja sama aku, dan juga kangen saat kamu muji masakan aku," ucap Dewi yang mengatakan itu dengan tangis yang tak bisa ia tahan.


Setiap ia melihat wajah Dewa ia selalu teringat akan kenangan manis kekasihnya ini sebelum hal ini terjadi. Andai waktu bisa diputar kembali mungkin ia akan memutar dimana sebelum Dewa berangkat ke arena balap.


Rasa menyesal itu sudah terlambat, karena Dewa sudah sakit sekarang. Tangis itu juga tak sanggup ia tahan, air matanya bahkan sampai membasahi tangan Dewa.


***


Tak terasa hari sudah mulai gelap, Dewi juga disuruh pulang oleh Mama Riska. Mama Riska tak mau calon menantunya itu sakit karena terlalu lama di rumah sakit.


Dan saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dewi sedang berada di kamar orangtuanya. Papanya hari ini lembut jadi mereka hanya bertiga di rumah. Dewi, Mama Karina, dan Louis.


"Ma, gimana kalau Dewa gak bisa bangun ya Ma?" tanya Dewi yang saat ini sedang bermanja di paha Mamanya.


Tangan Mama Karina mengelus rambut sang putri dengan lembut. Putri sulungnya ini sejak ia pulang dari luar kota sudah lemas seperti ini.


"Sayang, Dewa gak akan kenapa napa kok. Kamu jangan sedih terus gini. Lihat kantung mata kamu sudah menghitam gini. Kamu gak malu kalau Dewa bangun dengan keadaan seperti?" tanya Mama Karina mengusap kantung mata Dewi dengan lembut.


"Apa iya Ma, gimana kalau Dewa gak suka. Terus putusin Dewi? Ma, besok anterin Dewi perawatan mata ya. Dewi gak mau kayak gini," ucap Dewi pada sang Mama.

__ADS_1


Entah kenapa ia tiba tiba khawatir jika Dewa memutuskan dirinya karena sudah berubah menjadi jelek. Ia tak akan pernah mau jika Dewa memutuskannya hanya karena dia jelek.


"Iya sayang. Kamu tenang aja, Mama juga mau perawatan biar Papa makin klepek klepek sama Mama," jawab Mama Karina membuat Dewi tenang.


Jujur sebagai orangtua Mama Karina dan Papa Daren sedih melihat anaknya yang tak nafsu makan dan juga kurang tidur seperti ini. Dewi juga sering menangis karena memikirkan Dewa yang sampai saat ini belum bangun.


Drrttt drtttt drttt


"Ponsel Mama bunyi tuh," ucap Dewi menduselkan wajahnya di perut Mamanya.


"Oh apa ponsel Mama?" tanya Mama yang bingung pasalnya ponselnya ada di dalam tas.


"La Dewi tadi bawa Hp?" tanya balik Dewi yang tiba tiba lupa dengan apa yang ia bawa dan tidak.


"Lah itu ponsel kamu sayang, bukan ponsel Mama."


Mama Karina menunjuk ponselnya yang ada disamping Dewi kemudian, Dewi yang melihat itu langsung mengambil ponselnya dan melihat nama Mama Riska di ponsel itu.


"Siapa sayang?" tanya Mama Karina.


"Mama Riska," jawabnya dengan memperlihatkan kontak Mama Riska di ponselnya.


"Angkat dong, siapa tahu penting," ucap Mama Karina mengelus rambut anaknya yang sedang tidur di pahanya itu.


"Halo Ma."


"Halo sayang, kamu udah di rumah?" tanya Mama Riska dari seberang pada Dewi.


"Sudah Ma, Dewi ada di kamar Mama Karin. Kenapa?" tanya Dewi pada Mama Riska.


"Gak apa apa sayang, Mama ada kabar bagus buat kamu," ucap Mama Riska pada Dewi.


"Kabar bagus apa mah?" tanya Dewi yang mulai bangun dari tidurannya.


Dewi sudah harap harap cemas dengan apa yang akan diucapkan Mama Riska. Ia takut kabar bagusnya tak sebagus yang ia kira.


"Alhamdulillah sayang. Dewa bangun dari komanya," jawab Mama Riska dengan senyum yang tak bisa ditahan.


Mata Dewi tiba tiba memanas, apa benar Dewa bangun? Bangun dari tidur panjangnya.


"Seriusan Mah? Dewa bangun? Mama gak bercanda kan?" tanya Dewi pada Mama Riska, air mata yang sedari tadi ia tahan kembali meluncur.

__ADS_1


Entah sudah berapa kali Dewi menangis hanya karena Dewa tapi kali ini adalah air mata bahagia yang Dewi keluarkan. Yah kabar Dewa bangun adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk Dewi.


"Iya sayang, baru berberapa menit lalu dia bangun dari komanya. Kamu jangan khawatir lagi ya sayang, dia gak apa apa kok," ucap Mama Riska pada Dewi.


"Dewi ke rumah sakit ya, Ma. Dewi mau ketemu sama Dewa," ucap Dewi dengan semangat.


"Besok aja sayang, ini sudah malam. Mama gak mau kamu kenapa napa. Mama sama Papa gak akan bawa Dewa pergi kok, nanti Mama kirimin foto Dewa ya biar kamu tenan ya," ucap Mama Riska yang membuat Dewi menatap Mamahnya yang mengangguk.


"Iya Ma, besok Dewi ke rumah sakit ya," ucap Dewi.


"Iya sayang. Udah dulu ya, Dewa belum bisa banyak ngomong dulu untuk saat ini," jawabnya dengan lembut.


"Iya Ma."


Akhirnya panggilan telepon itu terputus, Dewi yang sedang bahagia itu langsung memeluk Mamanya. Ia bahagia karena Dewa sudah bisa bangun dari komanya.


"Anak Mama senang banget."


"Senang dong Ma. Dewa udah bangun dari komanya."


Senyum manis dari bibir Dewi tak surut juga bahkan ia sudah tak menampakan air matanya lagi.


"Mah, aku ke kamar dulu. Mau luluran," ucap Dewi mengecup kedua pipi dan kening Mamanya.


Mama Karina yang melihat itu hanya menggeleng, karena dirinya juga pernah ada diposisi sang anak. Bedanya dulu dia yang sakit dan Papa Daren yang merawatnya.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk↓↓↓


Gadis Kesayangan Tuan Agra


Author: Nurmay


Bagaimana rasanya di tinggalkan untuk selamanya di hari pernikahan. Hari yang harusnya membuat bahagia, namun itu membuat luka.


Dan gadis cantik itu pun harus menerima cacian dan makian, dan di cap sebagai gadis pembawa sial.


Lalu tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang bersedia menikahinya agar membuang kesialan itu. Laki-laki yang tidak dia kenal sama sekali, tiba-tiba menjadi suaminya.


Siapakah Laki-laki itu? Dan bagaimanakah kehidupan rumah tangga mereka? Apakah cinta akan tumbuh di hati mereka?

__ADS_1



__ADS_2