Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Barbeque


__ADS_3

Happy reading


Setalah dari taman tadi Dewi dan teman temannya yang perempuan langsung menyiapkan bahan bahan yang akan di buat untuk nanti malam.


Tapi yang membuat mereka kesal adalah saat tempat untuk membakar nanti belum disiapkan.


"Kalian tadi kami tinggal ngapain aja hah?" tanya Beby pada kekasih dan sahabat pacarnya itu. Apalagi ia sedang datang bulan jadi ia tak bisa mengontrol emosi dan kekesalannya.


"Kita nunggu kalian lah, tapi yang di tunggu gak merasa bersalah sama sekali," jawab Satya membela diri.


Mereka berdua terus berdebat dengannya yang lain yang hanya bisa menonton bertengkarnya Beby dan Satya yang jarang terjadi bagi mereka.


Sedangkan Dewi dan Nafisah serta Dewa dan Tama tak banyak komentar. Para laki laki itu membantu kekasihnya mengeluarkan barang dari dalam mobil.


"Capek gak?" tanya Tama pada istrinya.


"Enggak kok, kan aku cuma belanja aja," jawab Nafisah dengan senyum manisnya.


Tak jauh berbeda Dewi dan Dewa setelah mengambil bahan makan itu. Mereka langsung berjalan ke arah kursi yang memang masih ada disana. Untung tidak rapuh saat di duduki.


"Aku tadi beli ini," ucap Dewi memperlihatkan dua album foto itu pada Dewa.


"Album foto? Bukannya udah ada di rumah?" tanya Dewa membuka album itu.


"Emang udah ada, tapi mau habis karena udah banyak banget foto kita termasuk kamu," jawab Dewi dengan senyum manisnya yang membuat Dewa gemas ingin mencubit pipi chubby itu.


"Terus kok dua banget?" tanya Dewa menatap album itu. Tebal memang, tapi kenapa harus dua.


"Yang ini buat kita saat pacaran dan yang satunya foto saat kita menikah sampai punya banyak anak," jawab Dewi dengan senyum manisnya. Membayangkan anak anak lucu di halaman rumah mereka nanti membuatnya tersenyum.


"Hahaha pikirannya udah sampai sana hmm, tapi sepertinya saat kita menikah aku masih harus melanjutkan study ku sayang. Kamu tahu kan, Mama dan Papa ingin aku melanjutkan perusahaan mereka jadi aku harus banyak belajar," ucap Dewa mengelus rambut Dewi dengan lembut. Ia berharap pengertian dari kekasihnya.


"Ya kan aku bilang gak harus sekarang Ayang."


"Tapi 4 bulan lagi aku bakal nikahin kamu. Terus kita tinggal di luar negeri sambil meneruskan study kita," tambah Dewa yang membuat Dewi menggeleng.


"Setelah ini aku mau kuliah di Jepang, Ayang. Di tempat nenek dan kakek aku, aku gak bisa ikut kamu."

__ADS_1


"Terus?"


"Aku juga gak tahu, kemarin malam Nenek hubungi aku buat kuliah disana. Sedangkan kamu kan mau kuliah di Oxford university, aku paling gak bisa naik pesawat lama. Ke Jepang itu ada udah 2 jam lebih," ucap Dewi yang tak tahu harus bagaimana.


"Nanti kita bicarakan bersama Mama dan Papa ya sayang, pasti mereka punya solusi untuk kita," jawab Dewa seakan tahu sedihnya kekasih hatinya itu.


Sebenarnya Dewi mempunyai rencana untuk menikahi Dewa setelah lulus dari SMA. Ia tak bisa hanya stuck di tunangan saja, sepertinya harus diobrolkan lagi dengan orangtua Dewa dan Dewi.


"Tapi aku juga pengen nikah, gak tahu kenapa aku ingin hubungan kita ini halal. Aku gak mau semakin dosa karena hubungan kita ini," ucap Dewi lirih tapi mampu di dengar oleh Dewa.


Dewa tak menjawab tapi hal itu sudah membuat Dewi tahu jawaban Dewa. Mereka sama sama ingin ke jenjang yang lebih serius lagi. Tapi apalah daya jika keluarga mereka belum sepenuhnya memberikan restu pada mereka untuk menikah.


Dewa memeluk tubuh Dewi dan mengelus rambut lembut Dewi. Mereka hanya bisa saling menguatkan saja satu sama lain.


"Woy pelukannya udah dulu, kita harus siapin barang-barang buat bakar ini," teriak Angga dari sana saat melihat kemesraan bos mereka dengan pacarnya. Apalah daya si jomblo.


Sontak saja teriakan itu membuat Dewa marah, saat ini emosinya sudah siap meledak jika ada yang menganggu kebersamaannya dengan Dewi.


Dewi melepas pelukan itu dan menatap lembut Dewa dan mengangguk.


"Sana gih bantuin teman teman kamu. Kasihan masa ketuanya males malesan sih," ucap Dewi dengan senyum manisnya.


"Aku gak apa apa kok, aku juga mau bantu teman teman yang lain."


Dewa akhirnya mengangguk, ia mulai bangkit dan ingin berjalan ikut teman temannya.


"Yank," panggil Dewa sebelum ia pergi.


"Apa?"


Dewa mendekat lagi ke arah Dewi dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Dewi memerah. Apa itu? Kepo ya.


"Dasar calon suami siapa sih tuh, kok mesum banget," gumam Dewi memegang pipinya yang panas.


Akhirnya pihak laki laki menyiapkan tempat dan alat untuk memanggang nanti malam sedangkan yang perempun menyiapkan apa yang akan dibakar ataupun dipanggang nanti.


***

__ADS_1


Singkat cerita, haripun sudah malam. Mereka mulai melakukan apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.


"Ayang daging kamu gosong nih, kamu tinggal kemana tadi?" teriak Dewi saat melihat daging yang di panggang kekasihnya hampir gosong. Tapi Dewi bilang sudah gosong.


"Eh Dew, itu belum gosong tahu. Masih hampir," ucap Karolin melihat daging itu.


"Tetep aja nanti kalau pahit gimana? Dasar Dewa ditinggal bentar aja ikutan pergi padahal kan masih panggang ini daging," jawab Dewi dengan ngomel. Karolin yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Dewa yang baru keluar dari dalam vila membawa gitar itu langsung menghampiri Dewi. Tadi ia mendengar Dewi teriak itu berpikir yang tidak tidak.


"Kenapa yank? Kamu kena bakar atau apa?" tanya Dewa memeriksa tubuh Dewi.


"Aku gak apa apa tapi ini, lihat deh gosong kamu sih pake ngilang segala," ucap Dewi membalikkan apa yang ia panggang.


"Aku cuma ambil gitarnya Satya sebentar kok sayang, aku gak lama. Lagian ini tuh gak gosong ya cintaku, ini matang sebelah," ucap Dewa dengan senyum manisnya.


Kadang ia gemas dengan Dewi kadang ia juga kesal sendiri dengan kekasihnya ini.


"Sama aja," jawab Dewi tak mau salah.


Disudut lain, Ozi yang melihat Karolin seperti nyamuk itu langsung menghampiri gadis itu.


"Mau dibantuin gak?" tanya Ozi yang membuat jantung Karolin seperti ingin keluar dari tempatnya. Kenapa? Ada nanti di bab selanjutnya.


"Boleh," jawab Karolin tersenyum manis.


"Ayang jangan di balik lagi nanti gosong ih."


Lagi lagi itu adalah suara Dewi saat Dewa merecoki dia yang sedang memasak. Bahkan bibi dan mamang yang ada disana juga ikut tersenyum.


"Aku cuma mau bantu aja kok," jawab Dewa yang membuat Dewi makin kesal. Entahlah bersama Dewa membuatnya berbeda dari biasanya. Kadar cepat marah dan juga kadang cepat salting.


"Bantu lihat aja, mumpung aku bisa hangat disini," ujar Dewi dengan pelan.


Dewa paham, ia mulai berada di belakang Dewi dan memeluk perut kekasihnya dari belakang. Untungnya Dewa memakai jaket agak besar jadi tak terlalu terlihat.


"Kamu harus tetap hangat sayang, gak boleh dingin. Dan aku yang akan menghangatkan kamu."

__ADS_1


Cups


Bersambung


__ADS_2