Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Serangan


__ADS_3

Happy reading


"SERANG!!"


Kejadian itu sangat cepat, membuat anggota Dewa yang belum siap itu langsung keteteran.


Dewa pun demikian, ia belum siap akan serangan Langit yang sangat tiba tiba menendang motor Dewa. Dewa yang masih duduk di jok motor itu langsung terjatuh bersamaan dengan motor sport itu.


"Sialan!!"


Dengan susah Dewa bangkit dari jatuhnya dan menatap anak buahnya sudah melawan geng Black Lion.


Mau tak mau Dewa juga harus membalas serangan Langit yang cukup membuat dia kewalahan. Karena jika dia tak membalas maka dia yang akan mati di tangan Langit.


Suara pukulan demi pukulan itu nyaring di telinga Shasa. Ia langsung menelepon Tama dan teman temannya yang lain.


"Ayo angkat dong, jangan buat gue marah sama kalian," ucap Shasa saat ia tak mendapatkan nomor Tama mengangkatnya.


Shasa melihat pacarnya ikut masuk ke dalam kerumunan. Berkali kali ia mengelus perut datarnya, bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka.


Vino yang melihat hal itu juga ikut membantu melerai mereka tapi dia yang kena bogem Langit.


"Sialan tahu gini gue gak ikut lu tadi," maki Vino menonjok balik Langit dengan sekuat tenaga.


Kemudian ia membantu Dewa yang terduduk di aspal itu, wajah Dewa sudah babak beluk karena ia tak siap akan serangan mendadak itu.


"Lu gak papa?" tanya Vino yang hanya dibalas anggukan oleh Dewa.


***


Tama yang sedang menatap wajah damai istrinya setelah pergulatan mereka sebagai suami istri itu terkesiap saat melihat ponselnya berbunyi.


Dengan sedikit kesal Tama mengambil hp itu dan melihat nomor baru di sana. Tama tak kenal nomor siapa itu.


Nafisah yang terganggu dengan nada dering itu langsung membuka matanya dan melihat suaminya sedang memegang hp.


"Siapa by?" tanya Nafisah mendudukkan dirinya.


"Gak tahu sayang, kamu kenal?" tanya Tama memperlihatkan ponselnya.


Tapi sepertinya ia salah tatapan, Tama malah melihat leher Nafisah yang merah merah bekas tandanya.


"Ini nomornya Shasa, tapi kenapa dia telepon kamu?" tanya Nafisah pada Tama yang hanya menggeleng. Tapi kemudian ia mulai menatap istrinya yang mulai mengangkat telepon dari Shasa.


"Kenapa kamu angkat?" tanya Tama pada istrinya.


Panggil telepon itu mati, hingga membuat Nafisah kesal pada suaminya.

__ADS_1


"Kalau ini penting gimana? Kamu tahu gak ada yang hubungi kita malam malam gini kalau gak penting. Kamu tahu akan hal itu kan?" tanya Nafisah.


"Tapi ini sudah malam sayang, paling dia cuma iseng sama aku. Kamu tahu kan teman baru kamu itu gimana? Dia sering iseng sama teman temannya," jawab Tama yang membuat Nafisah langsung mengangguk.


"Oke kalau sekali lagi Shasa menghubungi kami lagi, ini ada yang gak beres," ucap Nafisah masih menunggu Shasa telepon lagi.


1 menit.


2 menit.


3 menit.


Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya suara nada dering telepon Tama kembali berbunyi tapi bukan dari Shasa tapi dari Alex. Keduanya bingung kenapa Alex menelepon mereka malam malam begini.


Padahal tadi Shasa yang menelepon tapi sekarang Alex. Apakah memang ada yang penting?


Nafisah langsung mengangkat telepon itu dan membesarkan volume suara ponsel itu.


"Halo, Tam. Lu disana kan? Gue sama teman-teman diserang sama anak Black Lion."


Suara Alex terdengar samar, karena pada saat itu Alex sedang bersembunyi di balik pohon agar dia bisa menelepon temannya yang satu ini.


Tama yang mendengar jika teman temannya di serang oleh salah satu geng itu langsung mengepalkan tangannya.


Ia sudah lama tak mendengarkan kabar dari geng yang satu itu. Tapi sepertinya Langit masih memiliki dendam dengan Dewa, padahal kejadian itu sudah sangat lama.


Nafisah mengelus punggung tangan Tama yang mengepal keras.


"Kalian ada dimana?" tanya Tama dengan suara beratnya.


"Arena balap biasa, Dewa ngalahin Vino dan Langit. Langit kayaknya gak terima sama kekalahan ini," jawab Alex dengan nada tergesa gesa.


"Vino gak lawan Alaska?" tanya Tama.


"Vino bantu anak anak Alaska yang jumblahnya cuma 9 orang. Kita kalah jumlah kalau gak dibantu anak anak dari Warrior," jawab Alex yang sepertinya sudah ketahuan oleh salah satu anak Black Lion.


"Gawat gue ketahuan, udah lu cepat datang. Gue gak mau teman-teman kita ada yang celaka. Apalagi Dewa, bisa habis kita sama Om Albert kalau sampai itu terjadi," ucap Alex dengan tergesa gesa langsung menutup panggilan itu.


Tama dan Nafisah saling pandang, hingga akhirnya Tama tak bisa lagi menahan hal ini.


"Sayang izinkan suamimu ini untuk membantu teman teman kita," ucap Tama dengan mata memerah.


"Naf ikut By."


"Yakin, ini sudah malam sayang. Kamu juga perempuan, disana bahaya buat kamu. Apalagi anak-anak gak tahu kalau kamu istri aku, bisa bisa kamu yang jadi inceran mereka," ucap Tama yang makin bingung dengan semua ini.


Ia tak mau membuat istrinya menjadi korban karena permusuhan anak Alaska dan anak Black Lion.

__ADS_1


"Tetap aku mau ikut by. Kamu gak mau aku ikut bantuin teman teman kamu? Nanti kalau kamu kenapa napa gimana? Naf akan sangat merasa bersalah kalau sampai itu terjadi," jawab Nafisah yang sudah mencari pakaiannya dan memakainya.


"Tapi kalau sampai kamu kenapa napa aku yang akan hukum kamu dengan berat," balasnya.


Tama dengan tergesa gesa memakai pakaiannya tak lupa ia menghubungi polisi untuk membantu mereka karena Tama tahu anak anak Black Lion itu jika sudah keluar bukan hanya 10 20 tapi 100 bahkan hampir 200 orang.


Berbeda dengan geng Alaska dan Warrior yang jumlah anggotanya hanya sekitar 30 sampai 45 orang saja. Tapi mereka cukup berkualitas daripada anak anak anggota Black Lion yang suka main perempuan dan mabuk mabukan.


Kenapa Tama tak takut karena geng Alaska sering membantu polisi untuk menangkap penjahat. Dan hal itu membuat mereka dipercaya walau kadang nakal di jalan raya.


"Kenapa Vino mau bantu anak Alaska?" pertanyaan itu yang selalu muncul di pikiran Tama.


Entah kenapa ada yang janggal, padahal Vino adalah musuh Dewa. Walau tak seperti Langit Yangs angkat fanatik akan permusuhan dengan Dewa.


"Sayang cadar kami belum di pake," ucap Tama yang tak mau wajah istrinya itu terekspos.


Nafisah memakai cadar hitam yang membuat dia semakin cantik bagi Tama.


Untungnya saat ini mereka ada di apartemen jadi bisa leluasa untuk keluar dan masuk. Lagian ini apartemen dia sendiri walau uangnya dari Papanya.


Nafisah dan Tama keluar dari apartemen dengan pakaian serba hitam. Nafisah juga hanya memakai sandal jepit biasa hingga membuat Tama menggeleng pelan saja melihat istrinya ini.


Harusnya Tama melarang Nafisah untuk ikut, secara Nafisah itu adalah perempuan yang tentunya akan sangat menyusahkan dirinya nanti disana. Tapi tanpa kalian tahu Nafisah pernah mengalahkan Tama berkali kali. Bahkan gerakan Nafisah itu sangat susah ditebak.


Pada intinya Nafisah adalah wanita multitalenta, dan Tama sangat bersyukur memiliki istri seperti Nafisah.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk↓↓↓


Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar


Author: Oktavia Hamda Zakhia


Apa jadinya seorang casanova berstatus duda itu terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mullet.


Pertemuannya itu terjadi saat ia sedang melakukan suatu hal di ruangan kerja kantor miliknya. Namun, sialnya kepergok oleh seseorang yang bekerja di kantornya.


Bahkan gadis tersebut mampu membuat putranya yang berhati dingin bisa tertawa lepas. Setelah tujuh tahun ia mengabaikannya.


Yang mana ia di hadapan kenyataan bahwa gadis yang bekerja di kantornya itu tak mudah ditaklukkan. Mengingat ia sendiri yang mendapat julukan duda casanova.


Bisakah ia mendapatkan hati dari gadis bar-bar yang telah berhasil membuat putranya tersenyum kembali.


Kisah perjalanan mereka di warnai dengan tingkah laku dari gadis bar-bar yang melekat di dalam dirinya


__ADS_1


__ADS_2