Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Pak Andi dan Dania Jadian


__ADS_3

Happy reading


Seorang laki laki dengan senyuman menawannya mulai mengetikkan pesan untuk wanita yang sangatlah spesial bagi dirinya.


...Calon makmum😘...


^^^Jadi gimana Dania?^^^


Gimana apanya sih pak?


^^^Tentang lamaran saya, Dania.^^^


Saya belum bisa jawab.


^^^Kenapa? Apa kamu sudah memiliki pacar?^^^


Belum punya karena Dania lagi fokus belajar buat ujian nanti. Belum mau mikirin hal itu.


^^^Tapi saya juga butuh jawab kamu Dania. Kamu sudah mengenal saya sangat lama. Apa itu tak bisa membuat kamu mencintaiku?^^^


Enggak gitu pak, saya suka sama Bapak tapi kalau untuk lamaran saya belum bisa. Karena saya masih sekolah.


^^^Kamu suka sama saya? Jadi kamu sudah menerima saya menjadi calon imam kamu?^^^


Bisa tapi, saya belum mau dilamar Pak. Saya masih mau melanjutkan cita cita saya dulu.


^^^Kenapa gak panggil kak aja, Dania. Aku tak setua itu kamu panggil pak terus.^^^


Tapi bapak kan wali kelas saya.


^^^Terserah kamu aja deh. Kamu mau jadi pacar kakak. Kakak gak minta jawaban tapi tadi itu kakak bilang. Kamu harus jadi pacar kakak.^^^


Dasar tukang paksa.


^^^Dari dulu sayang, kamu juga tahu.^^^


Nyeye


^^^4 bulan lagi kamu lulus kan?^^^


Iya, kenapa?


^^^Gak apa apa sih.^^^


Dih dasar kak Andi gak jelasssssss.


^^^S nya satu aja.^^^


Biarin.


^^^Dih ngambek pacar aku.^^^


Andi tertawa melihat respons Dania yang kini sudah ia klaim sebagai kekasihnya itu.


Kak.


^^^Kenapa sayang?^^^


Kita beneran pacaran?

__ADS_1


^^^Iya emang kenapa?^^^


Gak apa apa, tapi kakak serius kan sama Dania.


^^^Serius dong, buat apa Kakak bohong.^^^


Ya gak apa apa, tapi aku gak mau kakak kena bogem sama Kak Rizal.


^^^Dia gak berani bogem aku sayang.^^^


Sok tahu..


^^^Udah malam kamu gak mau tidur?^^^


Kakak sendiri kenapa belum tidur.


^^^Gak apa apa, lagian calon istri belum tidur. Kenapa kakak harus tidur?^^^


Tapi Dania udah ngantuk. Udah malah banget, besok harus bantuin Mama bikin makanan buat orang yang terdampak banjir malam ini.


^^^Ya sudah kamu tidur gih. ^^^


Hmm selamat malam kak.


^^^Malam juga calon istri, tidur yang nyenyak. I Love You.^^^


Htmm


^^^Balas dong sayang, jangan cuma hmmm^^^


Love you too kakak.


Andi yang sudah mendapati Dania tidak online lagi itu langsung berlari menuju kamar ibunya. Andi hanya memiliki ibu saja yang paling ia cintai di dunia ini setelah itu baru Dania.


Ia melihat ibunya masih duduk di sofa menonton televisi itu.


"Ibu," panggil Andi dengan senyum.


Grep


Andi langsung memeluk tubuh ibunya dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.


"Kenapa kok senyum senyum gitu. Senang banget kayaknya," ucap sang ibu pada putra tunggalnya.


Andi memang anak tunggal, Ayahnya meninggal saat Andi berusia 10 tahun dan sang ibu tak mau menikah lagi karena bagi ibu adanya Andi saja sudah membuat Ibu Anin bahagia apalagi ayah Andi adalah cinta sejati ibu.


Walau banyak yang melamar Bu Anin tapi, Bu Anin tetap pada pendiriannya untuk tidak menikah lagi.


"Dania nerima Andi jadi pacarnya, Bu. Dania udah balas perasaan Andi," cerita Andi memeluk tubuh ibunya dengan bibir yang tak henti hentinya menyunggingkan senyum.


Ibu Anin yang mendengar itu ikut tersenyum, tentu saja ia tahu siapa itu Dania. Andi banyak bercerita tentang adik dari sahabat anaknya itu.


Andi dan Rizal kakak Dania adalah sahabat sejak SMA, sedangkan Andi yang sudah sangat lama memendam rasa cinta pada Dani itu harus bisa meluluhkan hati Rizal dulu sebelum akhirnya ia bisa mendekati Dania.


Jarak umur mereka hanya 4 tahun, jadi tak terlalu jauh dan masih pas saja jika menjalin hubungan.


"Ibu senang mendengarnya nak. Jadi kapan kamu mau ajak Dania main ke rumah kita?" tanya Ibu Anin pada Andi.


"Sabar ya Bu, in syaa Allah secepatnya Andi akan kenalkan Dania sama Ibu."

__ADS_1


Ibu Anin tersenyum seraya mengelus rambut Andi. Bagi Ibu Anin, Andi tetaplah anaknya yang manja dan tak bisa jauh darinya. Ternyata anaknya kini sudah menemukan tambatan hatinya. Ia jadi takut jika suatu saat nanti ia akan ditinggal oleh anak semata wayangnya ini.


"Ibu akan tunggu sayang, sekarang kamu tidur gih udah malam."


"Iya Bu. Ibu juga jangan malam malam tidurnya, kesehatan Ibu harus dijaga. Jangan sampai ibu sakit gara gara bergadang terus terusan," ucap Andi mencium kening Ibunya dengan lembut.


Bagi Andi ibu adalah ayah sekaligus ibu untuk Andi. Hanya ibu yang ia punya sejak kepergian ayahnya 13 tahun lalu. Bahkan Ibunya harus banting tulang menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi dirinya. Untung sekarang ia sudah bekerja dan berpenghasilan walau tak tinggi tapi cukup untuk mereka bahkan untuk ditabung.


Andi kembali ke kamar meninggalkan Ibu Anin disana sendiri di kamar itu. Ibu Anin menatap punggung anaknya yang sudah menghilang di balik pintu kamar itu.


"Andai Ayah masih hidup, kamu pasti akan bangga melihat anakmu yang sudah sukses dengan pekerjaanya sekarang."


Yah, Andi bukan hanya saja menjadi seorang guru tapi juga Andi sudah memiliki toko serbaguna sendiri. Bahkan tokonya itu sudah ia rintis dari kuliah.


***


Keesokan harinya Andi sudah siap dengan pakaiannya. Sangat santai dengan kaos oblong dan celana yang membuatnya tampak seperti anak ABG.


"Loh udah ganteng gini, mau kemana?"


"Ke rumah Rizal Bu. Ada bisnis yang harus kami bahas," ucap Andi pada ibunya.


"Mau ketemu Rizal apa adiknya?" tanya Ibu Anin pada anaknya.


"Dua duanya Bu, mumpung sekolah juga libur."


Ibu mengangguk dan mengambilkan kue yang tadi ia buat.


"Titip buat calon mantu dan keluarganya, semoga mereka suka," ucap Ibu Anin memberikan bungkusan itu pada Andi.


"Siap, nanti Andi sampaikan. Ibu jangan kemana mana banjir baru aja surut. Aku gak mau ibu tiba tiba sakit," ucap Andi pada ibunya.


"Kamu juga jangan ngebut bawa motornya, jalanan masih licin loh. Nanti kamu jatuh lagi, harus pelan pelan yang penting kamu selamat sampai tujuan," jawab Ibu Anin dan dianggukkan oleh Andi.


Akhirnya setelah pamit Andi langsung berangkat menuju rumah sahabatnya yang tak lain juga rumah kekasihnya.


Ia mengendarai motor yang sudah menemaninya selama ini. Walau ia juga punya satu mobil tapi itu juga belum lunas. Ia lebih nyaman memakai motor ini.


Tak lama ia sampai di rumah berlantai dua itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi jadi tak heran kenapa di rumah itu tidak sepi.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, masuk Ndi."


Rizal yang menyambut sahabatnya karena yang dekat dengan pintu hanya dia.


"Thank. Dimana adik sama Ibu lu?" tanya Andi.


"Masih di dapur," jawab Rizal mengajak Andi duduk. Di ruang itu banyak berkas dan laptop yang masih menyala.


"Ini dari Ibu buat kalian."


"Makasih bro, bilang juga sama Ibu."


"Hmm."


Mereka mulai membahas tentang bisnis baru yang akan mereka jalani nanti. Andi memang tak banyak tahu tentang manajemen bisnis karena dulu ia mengambil jurusan perguruan. Untung ada Rizal yang sudah ahli dalam perbisnisan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2