
Happy reading
"Maaf Om, kami keluar dulu. Luka Satya juga sudah selesai diobati," ucap Satya pada Papa Albert.
"Kesini sebentar Ya."
Satya menyuruh untuk Beby untuk keluar dulu, kemudian dia mendekat ke arah Papa Albert.
"Bagaimana ceritanya Dewa bisa seperti ini?"
Akhirnya Satu yang sudah ditanya seperti itu langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga Dewa dipukul balok kayu oleh Langit. Kemudian Tama datang dan membawa polisi serta ambulans.
"Seperti itu Om ceritanya," ucap Satya yang langsung dianggukkan oleh Papa Albert.
"Terima kasih."
"Sama sama om, maaf sudah membuat Dewa seperti ini," ucap Satya tak enak pada Papa Albert. Apalagi jika dia tak memberitahukan tentang balapan kemarin pada Dewa mungkin Dewa tak akan masuk rumah sakit.
"Hmm ini musibah, Pulang dan mandilah. Jangan bolos pelajaran, izinkan Dewa dan Dewi pada teman teman kelasnya."
"Baik Om."
"Ajak juga teman temanmu tadi," tambah Papa Albert dan dianggukkan oleh Satya.
"Saya pamit Om, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Satay keluar dari kamar itu meninggalkan pasangan yang sudah tak muda lagi itu. Satya mengajak teman temannya untuk pulang dan berangkat sekolah karena ini masih jam 6 lebih 25 masih ada waktu untuk mandi dan berganti pakaian lalu sekolah.
"Ma, bangun yuk."
"Jangan lama pingsannya kalau gak mau Papa sakit lagi," ujar Papa Albert mengelus rambut Mama Riska.
Mama Riska memang sangat tak mau jika Papa Albert sakit. Bukan karena apa apa, tapi Papa jika sakit itu manjanya ngalah ngalahin anak yang mau minum susu ibunya.
***
Sedangkan Satya dan Beby yang juga sudah pulang itu langsung menuju apartemen yang jaraknya cukup dekat dari rumah sakit.
"Gak usah sekolah ya, aku lagi mager."
"Kenapa sih kamu gak biasanya lemes gini, dan tadi kamu marah marah terus kenapa?" tanya Satya mengelus lembut tangan Beby.
"Lagi pengen makan orang tahu gak. Aku dari tadi malam gak bisa tidur cuma nungguin kabar dari kamu, aku gak mau sekolah hari ini. Sebagai gantinya kamu harus anak aku jalan jalan hari ini karena kamu aku gak tidur."
"Dan nanti kalau seumpama aku sekolah, mungkin aku juga akan tidur di kelas. Jadi mending kita bolos aja buat hari ini," ucap Beby yang langsung diangguki oleh Satya. Tapi ia tak mau jalan jalan, ia hanya ingin membaringkan tubuhnya di kasur empuk seraya di peluk Beby dari samping.
"Aku lagi capek kalau mesti jalan jalan sekarang, aku mau tidur aja di kamar. Terus nanti sore kita juga harus ke rumah sakit lihat keadaan Dewa," ucap Satya yang membuat Beby paham akan apa yang diucapkan Satya.
Sampailah mereka di apartemen, keduanya keluar dari mobil itu dan berjalan masuk ke apartemen itu.
__ADS_1
Tapi belum juga sampai di unit apartemen mereka, Satya dan Beby mendengar suara yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.
"Ahh ahh ahh ayangg ahh ahh."
"Ohh auhhh ayang..."
"Ahhh."
Plok plok plok
Dengan cepat Satya menarik tangan Beby menuju kamarnya sebelum telinga Beby terkontaminasi dengan suara suara laknat itu.
"Jangan dengerin lagi," ucap Satay menarik posesif Beby yang sedang mendengar suara suara laknat itu.
"Mereka gak akan ada habisnya kalau kamu nungguin mereka," ucap Satya dengan tangan yang menekan password unit apartemen miliknya.
"Itu suara kalau mereka lagi anu ya?" tanya Beby dengan polosnya.
"Iya."
"Kok ngeri gitu ya, apa kita juga gitu kalau lagi gituan?" tanya Beby dengan tangan yang masih menggenggam tangan Satya.
"Ku gak sadar?" tanya Satya.
"Enggak," jawabnya berjalan mendahui Satya yang sedang menutup pintu apartemen.
Beby langsung berjalan menuju dapur, ia sudah tak sabar ingin makan. Karena lapar juga, pagi pagi sudah disuruh untuk pergi ke rumah sakit.
"Jangan lama lama kalau mandi nanti ditemenin setan lagi," teriak Beby yang mendapat balasan dari Satya.
"Ayo ikut mandi sekalian, kamu belum mandi kan?" teriak Satya dengan teriaknya.
"Ogah!"
Mereka tak menyadari jika ada dua pasang mata dan telinga yang mengamati mereka yang bicarakan dan teriakannya.
"Sepertinya calon mantumu tak tahu jika kita akan kesini," ujar Mama Beby menatap anaknya yang sedang memotong sayuran yang disimpan di kulkas itu.
"Lihatlah anak kita, dia sudah makin besar dan lebih dewasa lagi. Aku jadi sedih jika ingat saat kita tak mengetahui perkembangannya dari kecil," ucap laki laki yang sedang memangku anak kecil di depannya. Bayi berusia 15 bulan itu tampak nyaman di dalam dekapan Papanya.
"Semoga Beby menerima adiknya ini," ujar wanita itu dengan senyum manisnya menatap bayi itu.
"Aku harap juga begitu. Semoga tidak ada dendam diantara dia dan kami."
Sedangkan orang yang dibicarakan sibuk memasak makanan kesukaannya.
Hingga tiba tiba sebuah tangan itu memeluk perutnya yang sangat rata. Bahkan pinggannya ini sangat ramping.
"Udah belum? Aku lapar," tanya Satya dengan lembut.
"Bentar lagi matang," jawab Beby mengecup pipi Satya.
__ADS_1
"Banyak banget kayak mau ada tamu aja," ucap Satya melihat masakan sang kekasih.
"Nanti sebagian kita antar ke rumah sakit," jawab Beby mengaduk sup ayam kesukaan Satya itu.
Setelah masakan siap, Beby dan Satya menuangkan sebagian sup ayam itu di mangkuk.
Saat mereka berbalik badan, keduanya terkejut melihat orangtua Beby yang sedang duduk di ruang tamu itu.
"Mama, Papa."
Mama dan Papa yang mendengar itu tersenyum, dengan cepat Beby meletakkan sup ayam itu di meja makan dan menghampiri kedua orangtuanya.
Sebagai seorang anak Beby langsung menyalami orangtuanya dan mulai memeluk tubuh keduanya.
"Kapan datang?" tanya Beby pada Mama dan Papanya. Beby mencoba untuk tidak menangis karena tangisnya juga tak akan berguna.
"Sekitar 1 jam yang lalu, Mama sudah chat Satya tadi hingga kami bisa masuk," jawab Mama Beby menatap Satya dan Beby bergantian.
Beby tak tahu harus berekspresi apa, karena kekecewaan Beby pada kedua orangtuanya ini cukup besar bahkan ia sudah tak ada rasa apa apa saat mereka bertemu Mama dan Papanya. Padahal sudah lama mereka tak bertemu.
"Kamu tidak rindu pada kamu nak?" tanya Mama pada Beby.
Jika ditanya rindu tentu saja ia rindu dengan Mama dan Papanya. Ia ingin memeluk keduanya seperti ia kecil dulu.
Mama memeluk Beby, sedangkan Beby tak bereaksi apa apa hingga membuat Satya langsung mengangguk.
Beby membalas pelukan ibunya kemudian memeluk ayahnya. Hingga ia tak bisa lagi menahan air matanya.
"Ini adik kamu, semoga kamu bisa menerimanya," ucap Mama Beby pada Beby.
"Cantik namanya siapa?" tanya Beby.
"Rahma Olivia Maheswari."
Entah kenapa Beby langsung suka dengan anak kecil yang sedang di gendong ibunya itu.
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk↓↓↓
Judulnya: Khan, Kamulah jodohku
Author: Muda Anna
Alhakhan Jose Purnomo 27 tahun adalah seorang laki-laki tampan, dingin dan galak. Dia memiliki trauma saat kecil di culik oleh seorang wanita cantik yang menyukai ayahnya. Dia memimpin perusahaan CEO yang behasil tetapi akan berkeringat dingin dan menggigil saat bertemu atau berhadapan langsung dengan wanita cantik.
Sampai dia bertemu tanpa sengaja dengan seorang wanita berpenampilan tomboy pimpinan panti asuhan bernama Vena Fatmala. Pertemuan keduanya saat Vefe membantu Khan di keroyok oleh perampok di pinggir jalan tol. Hanya bersama dengan Vefe, Khan tidak mengalami trauma karena awalnya menyangka Vefe adalah laki-laki.
Tanpa di sadari Khan jatuh cinta pada Vefe. Hanya saja banyak yang menghalangi cinta mereka karena wanita-wanita cantik yang mengincar harta dan ketampanan Khan. Dan ada perbedaan kesenjangan sosial yang membuat Vefe tidak percaya diri bersama dengan Khan.
Bagaimana Khan meyakinkan Vefe untuk tetap bersamanya. Apakah Vefe menerima cinta Khan?
__ADS_1