
Author Pov
Dewi sedang duduk di kantin kampusnya dan menikmati segelas jus jeruk. Segar rasanya. Sampai lupa jika ia sekarang lagi di rumitkan dengan masalah Perjodohan.
"Dewiiiii!" panggil seseorang sambil berlari menghampiri nya. Siapa lagi kalau bukan Sari dan Andi. Haduh, pasti ini kepo nih. mau denger cerita tentang aku sama pak Dewa lagi. Batinnya sambil menatap kedua orang itu. Otaknya mulai memutar. Baginya akan sulit jika orang-orang ini memahaminya. Secara ini masalah sudah sangat-sangat lama dan berurutan pula. Bahkan sangat sulit untuk menjelaskannya.
"Wi... tadi pak Dewa nyariin kamu tu.. kat..a"
uhukkk... uhukkk.... uhukkk...
Belum sempat Sari melanjutkan pesan dari sang dosen yang baru ia temui beberapa saat sebelum bertemu sahabatnya itu di Parkiran depan Fakultasnya Dewi sudah terkejut hingga tersedak begitu.
"Ya ampun... pelan-pelan donk, Wi!" ucapnya sambil menyeka bibir Dewi dengan tisue yang tersedak tadi.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu....! Si dosen gila tu ada ngomong apa lagi sama kalian berdua?" Tanyanya sambil membulatkan mata. Entah itu cemas atau hanya merasa penasaran.
"Ha, kamu kok panik sih, Wi?. memangnya kalau Pak Dewa ngomong yang aneh-aneh kenapa memagnya ?" celetuk Andi sukses membuat Dewi tertegun dan menggeleng pelan tak lupa dipasangnya muka datar.
"Kamu itu di suruh ke ruangannya!" Terdengar singkat ucapan Sari sambil memandang Dewi dengan tatapan Heran. Semenjak duamenjak ini Sahabatnya berkelakuan aneh bikin merinding. Dalam batinnya. Apa mentalnya baik-baik saja?.
"baik-baik aku keruangannya sebentar ya. Kalian tunggu sini!" ujarnya sambil berjalan dengan cepat menuju ruangan Dosen eh apa mungkin Calon suaminya.
Dewa POV
tok... tok.... tokk...
"masuk!" jawabku. Aku tau itu si gadis pemberontak.
__ADS_1
"Maaf pak, bapak cari Dewi?" tanyanya lembut dan sopan. Aku memandang wajahnya. Manis dan Imut sekali. Kuakui itu. Tapi, apa-apaan kamu ini Dewa. Sikap angkuhmu pada wanita mana?. Terus aku bergolak pada diri ku sendiri.
"duduk!" perintahku. Dengan segera ia duduk tepat di depanku.
"Kamu sudah mengetahui maksud dan tujuan yang kita bicarakan di pemakaman ? " aku mulai pertanyaan dengan sangat inyens. Seolah tak ingin membuang-buang waktuku.
"Iyya, saya sudah mengetahuinya. Dan jujur. Ini semua hanya saya lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua saya. Tidak ada rasa cinta ataupun lebih." dijawab dengan yakin sepertinya. Aku juga melihat dari matanya ada kesedihan dan keterpaksaan disitu.
Perduli apa aku. Tak mungkin Perusahaan pertambangan Papi diberikan kepada Fanda. Apalagi sekarang ia sedang sudah menetap di Indonesia. Merasa tak berguna aku dilahirkan kalau hanya kalah dari Fanda. Aku ingin akulah yang lebih unggul darinya. Dalam hal apapun.
"baiklah. Seminggu lagi kita akan menikah!" ucapku tak mau menunda-nunda. Dia terbelalak seketika. Aku yakin begitu banyak umpatan di bibir manisnya itu yang tak sempat ia utarakan sekarang.
Dewi POV
__ADS_1
"Baiklah, seminggu lagi kita akan menikah!" ucapnya. Aku terdiam dan tak percaya akan secepat itu dia berkata. Jujur, aku belum siap dan belum menerimanya dalam hati. Aku bingung. Jika hutang harta mungkin bisa saja kubayarkan dengan uang secara mencicil kepadanya. Tapi, ini hutang janji dan aku telah di gadaikan oleh perjanjian orang tua ku sendiri. Konyol sekali.
"Setuju ataupu. tidak setuju. Kau harus menikah denganku!" lagi lagi dia berkata yang ingin aku protes. Bisa apa aku selain mengangguk lemah. Bertanya pada diri sendiri. Dimana Dewi yang dulu? Si tangguh dan pemberani ?. Dewi itu sudah hilang semenjak Ayah tiada. Dewi sekarang berbeda dengan dulu.