
Happy reading
"Dewi sayang bangun nak," panggil Mama Riska yang sudah lebih tenang lagi.
Mamam Riska membangunkan Dewi yang terlelap di ranjang sampingnya itu. Tak lama Dewi bangun dengan pusing di kepalanya bahkan sangat sangat pusing.
Ia melihat sekeliling dimana dia sekarang, dan ternyata disana ada Mama Riska yang juga ada disana. Di sebuah ruangan yang ternyata kamar rawat, tangannya juga diinfus sama seperti Mama Riska yang berbaring di sampingnya.
"Aku kok disini sih Mah? Aku harus jagain Dewa biar cepat bangun," ucap Dewi ingin melepas infus ditangannya tapi langsung ditahan oleh Mama Riska.
"Badan kamu panas sayang, jangan bergerak banyak dulu. Kamu tadi pasti gak pakai jaket kesini jadi kamu demam lagi," ucap Mama Riska yang membuat Dewi mengangguk.
"Dewa gimana mah?"
"Dewa sedang di operasi sayang. Operasi dilakukan jam setengah 9 tadi. Kamu tadi sempat pingsan sayang, badan kamu panas saat Papa bawa kamu kesini tadi," jawab Mama Riska dengan lembut mengelus rambut Dewi yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Apa Dewa parah sampai harus dioperasi Mah?" tanya Dewi dengan mata yang sudah mengembun ingin segera mengeluarkan air matanya.
"Ssttt sudah jangan nangis. Cedera di kepalanya dikatakan serius oleh dokter hingga membuat dokter mengambil tindakan operasi," ucap Mama Riska yang sebenarnya juga sangat sedih melihat kondisi putra pertamanya yang sangat memperihatinkan.
"Dewa gak akan kenapa napa sayang, Dewa anak yang kuat. Ia akan hidup untuk kita dan kamu yang sebenar lagi menjadi istrinya," tambah Mama Riska.
Dewi memeluk pelan calon ibu mertuanya itu dengan erat. Ia sama takutnya dengan Mama Riska apalagi Dewa itu adalah calon suami sekaligus kekasih hatinya.
Setelah tenang, Dewi mulai melepaskan pelukan itu dan menatap Mamanya yang sedang di infus.
"Mama sama Papa Dewi tahun kalau Dewa masuk rumah sakit, Ma?" tanya Dewi yang tiba tiba merindukan orangtuanya.
"Sudah, mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Mama kamu pesan sama Mama untuk menjaga kamu dulu, dia gak mau anak cantiknya ini kenapa napa," jawab Mama Riska.
__ADS_1
"Makasih ya Ma. Terus Mama kenapa bisa diinfus kayak gini?" tanya Dewi dengan pelan. Mereka berada di satu ranjang tapi tidak dengan infus mereka yang berbeda.
"Mama syok lihat Dewa yang ada di kamar rawat tadi. Mama gak tega lihat di seluruh tubuhnya di pasang alat, Mama takut Dewa kenapa napa. Tapi Papa menjanjikan jika Dewa akan baik baik saja, dan jika Papa sudah bilang begitu maka Dewa tak akan kenapa napa,"Lo jawab Mama Riska seraya mengelus perutnya dengan lembut.
"Tapi Mama gak apa apa kan?" tanya Dewi khawatir.
"Mama baik baik aja, tadi Papa juga udah marahin Mama jadi agak tenang," jawab Mama Riska yang membuat Dewi bingung tapi ia tak ambil pusing.
Dewi mengambil infus itu dan pamit pada Mama Riska. Dewi ingin melihat keadaan Dewa dengan mata dan kepalanya sendiri. Walaupun Mama melarangnya tadi.
Dengan langkah pelan Dewi berjalan menuju tempat dimana Dewa operasi. Tadi Mama Riska bilang jika operasi sudah di lakukan.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 lebih 15 menit. Harusnya operasi sudah selesai dilakukan, dan kondisi Dewa bisa membaik.
"Dewi, kenapa kamu bisa ada disini nak?" tanya Papa Albert saat melihat calon menantunya
"Gimana keadaan Dewa, Pah?" tanya Dewi dengan wajah pucatnya.
"Dewa gak apa apa, Nak. Dia bakal sembuh kok, kamu kembali lagi aja ke ruangan sama Mama. Mama Riska juga sedang sakit jadi gak boleh jalan jalan dulu," ucap Papa Albert mengelus rambut Dewi sayang.
Aura ayah dari Papa Albert membuat Dewi nyaman tapi tetap saja ia khawatir dengan keadaan Dewa yang sedang berjuang di dalam sana.
"Gak mau, Dewi mau disini aja. Lagian Mama juga sudah mengizinkan aku kesini kok pagi," jawab Dewi seolah olah ia kuat. Padahal dalam hati ia tak bisa tenang melihat lampu operasi yang belum mati.
"Kenapa lama banget ya Pah?" tanya Dewi pada Papa Albert.
"Mereka masih berusaha di dalam sana. Kita harus berdoa untuk kesembuhan Dewa. Tangisan kita tak terlalu dibutuhkan untuk kesembuhan Dewa," ucap Papa Albert dengan lembut. Menyuruh Dewi untuk duduk di kursi tunggu itu.
Tak lama lampu operasi itu mati, dan keluarlah berberapa dokter dan suster yang keluar dengan peluh di wajah mereka masing masing.
__ADS_1
"Bagaimana operasinya?" tanya Papa Albert dengan wajah tegangnya.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar, kami akan memindahkan Tuan Muda ke ruang pemulihan agar kami bisa memantau perkembangan dan kesehatan beliau sampai benar benar puluh," ucap Dokter itu memberikan sarung tangan pada asistennya.
"Apa Dewa akan lama bangun, dok?" tanya Dewi yang tak bisa jika tak berbicara dengan kekasihnya itu.
"Tenang saja Nona in syaa Allah, jika Allah berkehendak dalam seminggu ini Tuan Muda sudah bangun. Dan masa pemulihannya juga tidak sampai 2 bulan."
Dewi yang mendengar itu tersenyum dan mengangguk, ia sedikit tenang saat mendengar ucapan dokter.
"Tapi Tuan Albert, sepertinya kita harus berbicara setelah ini. Mari ke ruangan saya," ucap dokter dan diikuti oleh Papa Albert.
Kini hanya tinggal Dewi yang berada disana melihat Dewa yang dipindahkan ke ruang pemulihan.
"Semoga kamu cepat sembuh dan cepat kembali seperti semula," ucap Dewi memandang Dewa yang di bawa ke ruang pemulihan.
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk ↓↓↓
Kurebut Calon Suamimu
Author: Yeni Sri Wahyuni
Silvia Lestari tertabrak mobil yang di kendarai oleh Devan Alvandra, seorang Pria yang ia kenali adalah calon suami dari mantan sahabat lamanya. Mantan sahabat yang pernah membuat hidup dan reputasinya hancur seketika. Di tinggalkan oleh kekasih sekaligus kehilangan Ayah tercintanya.
Karena kecelakaan yang tak disengaja membuat tulang kaki Silvia mengalami keretakan parah dan tak mampu lagi berjalan dalam waktu yang lama, sehingga Silvia memanfaatkan kondisi itu dan meminta Devan untuk menikahinya sebagai pertanggungjawabannya dan juga sebagai jalan untuk membalaskan dendamnya terhadap sang mantan sahabat.
Akankah Silvia mampu membuat Devan mencintai dirinya, dan berpaling dari Cathrine, mantan sahabatnya sendiri?
__ADS_1