
Happy reading
"Mama kok belum tidur?" tanya Papa Albert yang sepertinya terganggu dengan apa yang dilakukan sang istri.
"Emm ini tadi Dewa vidcall Pa. Dia izin mau nginep di rumah Dewi jaga calon mantu dan Louis. Karina dan Daren lagi gak ada di rumah karena bisnis mereka."
"Nginep?"
"Iya Papa, Dewa nginep di rumah calon mantu kita."
Papa Albert mengangguk paham, ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak diketahui Mama Riska.
"Kenapa Pa?"
"Apa tak sebaiknya kita segera nikahkan mereka berdua saja Ma. Aku takut mereka akan semakin lepas kendali jika terus bersama," ujar Papa Albert menatap istrinya.
"Apa tidak kita tunggu anak anak lulus sekolah dulu, hanya tinggal berberapa bulan lagi loh. Supaya mereka juga bisa lebih fokus dulu sama sekolah, bukannya Mama gak setuju tapi tunggulah sampai mereka lulus."
"Tapi sebagai orangtua aku sangat khawatir dengan mereka Ma. Seorang laki laki itu punya nafsu yang tak semua orang bisa membendungnya."
"Kan papa sendiri yang bilang, kalau Dewa itu gak akan menghancurkan masa depan Dewi. Kenapa kamu jadi parno gini?" tanya Mama Riska mengelus punggung tangan suaminya.
"Aku hanya takut, kamu tahu aku kan. Kota dulu menikah mudah juga gara gara hal ini, untung saat itu aku masih kuat menahan," jawab Papa Albert dan dianggukkan oleh Mama Riska.
"Nanti kalau Karina dan Daren sudah pulang kita bicarakan ini lagi," ujar Mama Riska yang tak mau menambah beban lagi. Apalagi akhir akhir ini suaminya sedang banyak pikiran.
Mama Riska tak mau suaminya sampai sakit memikirkan pekerjaan, anaknya, dan juga dirinya yang tak mau jauh dari suami tampannya ini.
"Pah," panggil Mama Riska dengan suara rengekan yang sudah berada di pelukan hangat suaminya itu.
"Hmm, kamu mau apa? Anak papa ini lagi mau apa lagi?" tanya Papa Albert dengan lembut mengelus perut rata sang istri.
Papa Albert tahu jika istrinya sudah bernada rengekan seperti ini berarti tak lama lagi Mama Riska memiliki keinginan atau ngidam. Hal ini sejak pertama Mama Riska hamil Dewa, pasti jika ngidam Mama Riska akan berubah manja dan juga yang tak pernah Papa Albert ingat adalah suara rengekan persis seperti dulu saat masih pacaran.
__ADS_1
"Pengen es krim yang ada disimpang lima itu loh, yang dulu kita nemenin Dewa makan es krim yang kamu larang itu," jawab Mama Riska tersenyum senang. Karena tahu suaminya ini akan paham akan keinginannya.
"Boleh di negosiasi?" tanya Papa Albert pada sang istri. Mana ada es krim di simpang lima malam malam begini.
"Gulali kapas yang tempatnya juga gak jauh dari simpang lima. Katanya malam ini juga ada pasar malam, mungkin masih ada," jawab Mama Riska dengan raut gembiranya.
Ia lupa untuk tidak membuat suaminya terbebani tapi sekarang malah ngidamnya membuat Papa Albert semakin lelah.
Melihat raut wajah istrinya yang sangat antusias itu membuat Papa Albert tak tega. Walau ia lelah tapi ia juga tak mau membuat istrinya kecewa apalagi ini keinginan anaknya yang masih berada di dalam perut Mama Riska.
Papa Albert juga sudah berjanji untuk tidak lagi membuat istrinya hamil. Bayangkan saja jarak antara anak pertama dan anak terakhir adalah 18 tahun. Sangat jauh bukan.
"Tapi harus ada imbalannya."
"Oke deal, 2 ronde habis dapat gulali dan es krim."
Mama Riska langsung mencari jaket untuk dirinya dan untuk suaminya. Papa Albert yang melihat itu hanya tersenyum. Ia tak pernah bosan dengan sikap dan perilaku istrinya sejak dulu hingga sekarang bahkan cinta mereka semakin besar tiap harinya.
***
Dan makanan kesukaan Mama Kirana adalah sushi dan juga ramen. Mama Kirana dulu tidak cocok dengan makanan Indonesia yang cenderung berkuah dan berminyak.
Tapi tenang saja sekarang Mama Kirana sudah suka dan bisa memasak makanan Indonesia bahkan bisa mengalahkan masakan chef Indonesia asli karena Mama Kirana pernah belajar dari Mama Deren.
"Mama kenapa gak dimakan sushinya?" tanya Papa Daren.
"Buat papa aja, Mama pengen makan ramennya aja," jawab Mama Karina memberikan sushi kesukaannya itu pada suaminya.
"Oalah ya sudah kalau begitu."
"Anak anak gimana ya Pa?"
"Gimana apanya?" tanya Papa Daren menatap istrinya.
__ADS_1
"Walau aku bilang gak apa-apa, tapi sebagai seorang ibu tentu saja aku khawatir dengan anak perempuan kita itu. Dewa adalah seorang laki laki yang memiliki nafsu besar, walau aku mengizinkan Dewa menginap tapi hatiku tak bisa tenang."
"Bagaimana jika Dewa menodai anak kita itu. Aku takut peristiwa dimana Tania dulu meregang nyawa akibat diperkosa pacarnya. Aku gak mau Dewi mengalami hal yang sama," ucap Mama Kirana menatap suaminya.
Tania adalah sepupu Dewi dari Kakak Papa Daren yang meninggal 5 tahun lalu dimana Dewi masih berusia 13 tahun.
"Kita harus menikahkan mereka Pa, aku gak mau putri kita satu satunya kenapa napa."
"Mama tenang dulu, Dewa anak baik kok. Papa yakin Dewa dan Dewi tidak akan berbuat lebih."
"Kenapa Papa bisa seyakin itu?" tanya Mama Kirana.
Papa Daren mengambil ponsel mewahnya yang berada di saku celananya. Kemudian memperlihatkan dua anak manusia yang sedang bersenda gurau. Tapi bisa dilihat juga wajah Dewi yang cemberut.
"Mereka itu anak muda, sama seperti kita dulu. Kamu tidak ingat apa saat aku menyelinap ke rumah kamu hanya untuk meny...."
Belum selesai Papa Daren berucap Mama Karima menutup mulut Papa Daren dengan sushi.
"Jangan bilang lagi, aku malu."
"Ngapain malu, kita saling cinta. Walau dulu kita belum nikah tapi aku ada hak tentang apa yang ada pada kamu."
"Ishh."
Mama Karina menatap CCTV yang ada di kamar putrinya itu dengan datar. Melihat kelakuan Dewa dan Dewi, Mama Karina jadi flashback ke masa masa dimana dia dan suaminya itu masih pacaran.
"Udah jangan dilihat, nanti kamu kepengen sama kayak mereka. Kan bisa berabe kalau ada orang yang lihat," ucap Papa Daren mulai menyuapkan ramen yang ada di depannya pada Mama Karina.
"Makan dulu sebelum balik ke hotel," ucap Papa Daren dan dianggukkan oleh Mama Karina.
Akhirnya mereka kembali memakan apa yang ada di depannya. Mama Karina juga sudah tak berprasangka buruk tentang anak dan calon mantunya karena CCTV di kamar Dewi.
"Seperti flashback deh," batinnya.
__ADS_1
Bersambung