Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Mama Riska Pingsan


__ADS_3

Happy reading


"Eughh."


Sepasang suami istri yang sedang bergelut di bawah selimut tebal dengan kondisi polo* itu terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi.


Wajar saja mereka sedikit telat bangun karena tadi malam Papa Albert sibuk lembut jengukin Baby di perut Mama Riska.


Tapi sejak ia ingin tidur tadi entah kenapa ia selalu memikirkan Dewa saja. Tapi suaminya mengatakan jika itu hanya pikiran Mama Riska saja.


"Papa bangun udah pagi?" ucap Mama Riska menggeser tangan suaminya yang sedang berada di dadanya.


"Masih malam Ma, kita lanjutin tidurnya aja," ucap Papa Albert menggelus perut Mama Riska dengan kondisi masih menutup mata.


"Aku mau ke kamar Dewa, Papa. Aku gak mau mastiin Dewa gak kenapa napa," jawab Mama Riska yang membuat Papa Albert membuka matanya.


Akhirnya dengan terpaksa papa Albert melepaskan pelukan itu dan membiarkan istrinya memakai pakaiannya.


Dengan pelan Mama Riska berjalan keluar kamar dan menuju kamar Dewa. Saat ia membuka pintu kamar itu alangkah terkejutnya saat Dewa tak ada di kamar bahkan Dewi yang tidur di kamar samping itu juga tak ada.


"Papa," teriak Mama Riska yang membuat semua orang di mansion itu mendengar teriakan Mama Riska.


Papa Albert yang sudah berpakaian itu langsung menghampiri istrinya begitupun dengan orang orang disana.


"Dewa udah gak ada, dimana dia pah? Dewi juga gak ada di kamarnya," tambah Mama Riska yang mulai menangis. Entah kenapa ia menangis seperti ini, pasti terjadi hal buruk pada anak anaknya.


"Mungkin mereka keluar sebentar Ma, mereka bakal pulang kok," jawab Papa Albert.


"Maaf Tuan, tadi malam Den Dewa pamit mau balapan sama saya. Dan tadi pagi Non Dewi keluar bawa motor Den Dewa yang metik dengan menangis," ucap Pak Anas yang ikut berlari tadi.


Deg


"Telepon mereka Pa. Telepon!!!"


Akhirnya dengan tergesa-gesa Papa Albert langsung menelepon nomor Dewa tapi tak kunjung mendapat balasan. Kemudian ia juga menelepon Dewi sama bahkan Dewi tak membawa ponselnya. Ponsel Dewi terjatuh tak jauh dari kasur hingga membuat Mama Papa yakin terjadi sesuatu pada anak mereka.


"Teman teman Dewa, Pah."


Papa Albert langsung menelepon Satya untungnya langsung diangkat oleh Satya.


"Halo om."


"Dewa mana?" tanya Papa Albert pada Satya di balik telepon itu.


"Sstt sakit Beb, kalau mau obatin itu yang ikhlas," ucap Satya yang belum menjawab Papa Albert.

__ADS_1


"Dimana Dewa, Satya!!"


Satya yang mendapat pertanyaan dari om yang paling ia takuti itu langsung menatap Beby dan menganggukkan kepalanya.


"Anu om, Dewa tadi malam diserang dan saat ini sedang berada di rumah sakit. Dewi juga sudah ada disini kok," jawab Satya yang membuat Papa Albert terkejut.


Dewa adalah anaknya yang paling jarang sakit, paling paling hanya flu itupun tak sampai 1 hari.


Papa Albert langsung menatap istrinya yang sudah menangis. Ia mengelus punggung istrinya dengan pelan.


"Dimana dia?" tanya Papa Albert yang tidak diketahui istrinya.


"Di rumah sakit Om, ruangan Flamboyan VIP," jawab Satya yang membuat Papa Albert langsung paham dan menutup sambungan telepon itu.


Papa Albert menyimpan kembali ponselnya dan membawa istrinya ke kamar.


"Gimana Pa? Dewa sama Dewi ada dimana?" tanya Mama Riska.


"Dia ada disuatu tempat, Ma. Lebih baik kita mandi dulu dan sarapan setelah itu baru susul mereka. Jangan nangis nanti anak kita ikut nangis di dalam sini," ucap Papa Albert menyentuh perut Mama Riska.


Mama Riska yang mendengar itu langsung mengangguk kemudian mengucapkan kata maaf pada anaknya yang ada di dalam perut.


Mereka memutuskan untuk mandi berdua agar memangkas waktu, walau Papa Albert tak bisa menahan dirinya saat melihat tubuh istrinya tapi Papa Albert tahan karena anaknya sedang berjuang di rumah sakit.


"Sarapan dulu kalau kamu gak sarapan aku gak mau ajak kamu ke tempat dewa," ucap Papa dan dianggukkan oleh Mama Riska.


Papa Albert mengirimkan pesan pada sekretarisnya karena hari ini ia tak masuk. Maka sekretaris Papa Albert harus mengatur ulang jadwal meeting yang sudah direncanakan.


Setalah sarapan Papa Albert langsung mengambil kunci mobil, istrinya sedari tadi mencak mencak saat Papa Albert sengaja ingin mengulur waktu.


"Memangnya Dewa dimana sih Pah?" tanya Mama Riska pada papa Albert. Mereka sudah berada di dalam mobil bahkan Mama Riska sedari tadi sudah mendesak Papa agar memberitahunya dimana Dewa dan Dewi.


"Mama janji jangan syok ya kalau Papa ajak ke suatu tempat. Ingat kandungan Mama juga yang harus dijaga," ucap Papa Albert dan dianggukkan oleh Mama Riska.


Akhirnya setelah berberapa saat Mama dan Papa sampai di rumah sakit. Mama sudah memiliki firasat yang buruk.


"Apa Dewa ada didalam pah?" tanya Mama pada Papa yang diam dan melepas sabuk pengamannya.


"Ingat kandungan kamu."


Papa mengajak Mama Riska menuju ruangan Dewa, para karyawan yang melihat kedatangan pemilik rumah sakit ini langsung menundukkan kepala mereka.


Sampainya mereka di ruangan Flamboyan VIP seperti yang disebutkan Satya. Mereka juga bisa melihat Angga dan Andre yang sedang berjaga di depan kamar itu.


"Papa kenapa ada anak anak itu di depan kamar itu. Jangan bilang kalau yang mereka jaga itu Dewa?" tangis Mama Riska berjalan cepat.

__ADS_1


"Om, Tante," ucap keduanya menyalimi kedua orang tua Dewa.


"Dewa ada di dalam?" tanya Mama Riska pada keduanya.


"Iya Tan. Maaf kamu tak bisa menjaga Dewa dengan baik," jawab Andre yang langsung membuat Mama Riska terkejut hingga akhirnya pingsan di pelukan Papa Albert.


"Mama!"


"Tante!"


Papa Albert langsung menggendong tubuh istrinya ke sebuah ruangan yang di tempati Satya. Satya yang melihat Tante Riska pingsan itu langsung turun dari ranjang.


Papa Albert langsung membaringkan tubuh istrinya di ranjang itu. Ia tak mau sampai istrinya kenapa napa, hingga ia menyuruh dokter untuk menangani Mama Riska.


"Mama bangun Ma," ucap Papa Albert membangunkan istrinya yang sedang menutup matanya.


"Kondisi Nyonya lemah, Tuan. Kehamilannya yang membuat dia seperti ini. Tolong jangan biarkan Nyonya banyak pikiran. Kalau sampai ini terus terusan terjadi, akan sangat berbahaya untuk kandungan Nyonya."


"Hmm, bagaimana keadaan putraku?" tanya Papa Albert pada dokter itu.


"Dari data yang saya terima tadi, Tuan Dewa mengalami cedera di kepalanya yang cukup serius hingga menyebabkan ia koma untuk sementara waktu. Jika jam 8 nanti Tuan Dewa belum juga bangun dari komanya kamu harus melakukan operasi di kepalanya untuk mengetahui seberapa parah cedera di kepala Tuan Muda," jawab dokter yang membuat Papa Albert mengangguk.


"Lakukan yang terbaik untuk Dewa, apapun itu asal jangan ambil nyawanya," ucap Papa Albert pada dokter itu.


"Pasti Tuan, kami juga memerlukan Anda saat operasi nanti," ucap dokter dan dianggukkan oleh Papa Albert.


Setelah itu Dokter pergi dari ruangan itu meninggalkan Mama dan Papa disana. Satya dan Beby yang mendengar hal itu langsung lemas. Apa separah itu sampai harus operasi? Bagaimana dengan Dewi nanti?


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yuk↓↓↓


Penelusuran Gaib Rania


Author: Novi putri ang


Mobil hitam melintas di atas tanah berlumpur, diluar nampak hujan deras yang tak kunjung reda. Dan kilatan guntur terlihat di langit menyambar, dengan gemuruh yang menggelegar.


Malam ini terasa mencekam. Dari kejauhan, bayangan sebuah rumah kuno terlihat di antara pepohonan besar, bersembunyi di balik kegelapan.


"Aah. Perasaan apa ini, kenapa perasaan tidak enak mengganggu pikiranku?" batinku berkata seakan ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.


Ya, benar saja. Kisah mistisku belum berakhir. Meskipun aku telah meninggalkan Desa Nenekku, Desa Rawa Belatung. Aku selalu saja berurusan dengan hal-hal gaib. Penelusuran gaib yang terus membawaku bertemu dengan sosok makhluk tak kasat mata, yang terus mengikuti setiap perjalanan hidupku.


__ADS_1


__ADS_2