Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Perdebatan Kecil


__ADS_3

Happy reading


Singkat cerita hari sudah sore, sudah waktunya untuk pulang. Apalagi ini adalah hari yang paling melelahkan untuk Dewi.


Dewa yang sudah stay di atas motor itu menatap Dewi yang berjalan ke arahnya membawa dua gelas minuman Boba di tangannya.


"Tadi setelah istirahat kemana aja, kok gak masuk kelas?" tanya Dewi memberikan satu gelas minuman Boba itu untuk Dewa.


"Ketiduran di rooftop," jawab Dewa meminum minuman itu di atas motor.


"Tadi kamu di alfa karena sejak pagi gak ikut pelajaran," ucap Dewi menatap tajam Dewa.


"Maaf ya sayang, janji lain kali gak akan bolos lagi."


"Aku gak pernah butuh janji kamu, Dewa. Janji bisa datang kapan aja, tapi pembuktian yang dibutuhkan. Kita ini udah kelas 3 loh, nanti kalau kamu gak lulus gimana? Aku gak mau punya suami bodoh ya," ucap Dewi blak blakan tanpa memikirkan perasaan Dewa.


Mengatakan bodoh pada seorang laki laki sangat melukai perasaan Dewa tapi Dewa yang tahu akan sifat kekasihnya itu hanya tersenyum walau ada sedikit nyeri di ulu hatinya.


Dewa tahu apa yang di katakan Dewi itu hanya untuk membuat Dewa menjadi orang yang lebih baik.


"Hey nona Muda, ingat ya sejak dulu aku selalu juara umum. Aku tak akan pernah lebih bodoh dari kamu," ucap Dewa menjentikkan jari telunjuknya ke kening Dewi.


"Maka dari itu buktikan, aku gak butuh janji. Kamu gak mau kan kalau aku bandingkan dengan laki laki lain?"


"Awas aja sampai itu terjadi," ucap Dewa kesal bahkan ia menghabiskan Boba itu dan membuang botolnya ke tempat sampah untungnya pas jika tidak pasti Dewi menyuruh untuk mengambil sampah itu.


Memang aneh pasangan ini, memang mereka saling bucin tapi jika soal kebaikan yang dilanggar bucin itu tidak akan berlaku lagi.


"Naik," titah Dewa memakai helm full face miliknya.


"Sabar napa, masih minum ini," ucap Dewi dengan ketus, Boba miliknya masih sangat banyak mubazir jika di buang begitu saja. Karena di luar sana banyak yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli minuman ini.


"Naik atau aku tinggal?" tanya Dewa yang masih kesal dengan kekasihnya itu.


"Oh berani mau tinggalin aku hah? Mau aku aduin ke Mama Papa kalau anaknya ninggalin calon mantunya di sekolah sendiri hah?" ancam Dewi menatap tajam Dewa.

__ADS_1


Entah kenapa pasangan ini jadi tak saling bucin lagi, apalagi sekarang mereka saling bertengkar tak jelas seperti ini.


Mendengar ancaman Dewi membuat Dewa tak bisa berkutik, jika sampai hal itu terjadi Dewa tak akan bisa memiliki Dewi seutuhnya. Dan pasti Mama dan Papanya langsung menghukumnya. Karena sekarang Dewi adalah calon mantu kesayangan mereka.


"Jangan ngancem gitu aku gak suka.".


Walau sedang bertengkar seperti ini Dewa dan Dewi tak pernah memakai kata lu gue.


"Makanya tungguin aku."


Dewi meminum itu tapi tak habis hingga memberikannya pada Dewa. Dan Dewa yang mendapat minum bekas Dewi itu hanya menggeleng. Kenapa tadi beli dua kalau satu saja Dewi tak habis.


Dewi naik ke atas motor itu sedangkan Dewa menghabiskan minuman bekas Dewi hingga habis kemudian melemparkan ke tempat sampah.


Dewi memeluk erat perut Dewa, dengan satu tangan masuk ke dalam kaos hitam yang dipakai Dewa.


"Nanti sebelum ke rumah kamu, aku mau tepati janji aku kemarin karena udah mau masuk ke kelas walau di kelas malah ngajak aku jalani hukuman," ucap Dewi mengelus hangat perut Dewa.


"Kamu masih ingat aja. Kalau kamu gak bisa buat gak apa apa, nanti kita beli aja," ucap Dewa mengelus punggung tangan Dewi yang ada di perutnya.


"Iya sayang aku tahu."


Akhirnya Dewa dan Dewi sampai di depan rumah yang memiliki halaman luas itu. Dewi turun dari motor dan diikuti oleh Dewa.


"Kenapa natap aku segitunya?" tanya Dewa menatap Dewi yang juga menatapnya.


"Perut kamu hangat aku pengen pegang lagi," jawab Dewi tanpa basa basi. Karena memang perut Dewa membuat ia candu untuk memegangnya lagi.


Dewa yang mendengar itu tertawa kemudian membawa Dewi ke dalam rumah tanpa di tahan Dewa menarik tubuh mungil Dewi dan menelusupkan di dalam kaosnya. Membiarkan Dewi mengelus atau mengapakan perutnya.


"Suka banget kayaknya, emang ada apanya sih perut aku?"


"Roti sobek," jawab Dewi dengan lirih bahkan sangat lirih.


"Boleh dimakan gak?" tanya Dewi yang di balas gelengan oleh Dewa.

__ADS_1


"Boleh tapi nanti kalau kita udah nikah," jawab Dewa dengan senyum mengeluarkan kepala Dewi di balik kaosnya.


"Kenapa harus nunggu nikah kalau sekarang bisa?" tanya Dewi. Padahal keinginannya tak sulit hanya menggigit saja tak lebih kenapa harus menunggu menikah?


"Ya sudah kalau tidak boleh nanti aku cari punya cowok lain aja," jawab Dewi melengos pergi hingga membuat Dewa kalang kabut. Jika sampai Dewi mencari cowok baru maka itu artinya ia akan dicampakkan? Oh no itu tak bisa di biarkan.


"Kamu boleh gigit perut aku, cuma sekali," ucap Dewa menarik tangan Dewi.


Akhirnya dengan semangat Dewi menggigit perut kotak kotak milik Dewa hingga menimbulkan bekas merah di perutnya.


"Aku gemes," ucapnya menempati janjinya untuk sekali saja menggigit perut Dewa.


Dewa hanya tersenyum dan mengelus rambut Dewi dengan lembut. Dewa memeluk singkat tubuh Dewi belum akhirnya Dewi melepaskan pelukan itu karena Dewi harus masak untuk Dewa. Memenuhi janjinya kemarin pada Dewa.


Dewi meletakkan tasnya di sofa ruang tamu dan berlalu menuju dapur. Keinginan Dewa kemarin adalah ingin dibuatkan udang saus padang. Dulu awal Dewi menerima Dewa, gadis itu membuatkan Dewa udang saus Padang yang kini malah menjadi makanan favoritnya. Karena memang pada dasarnya Dewa suka dengan udang.


Tangan lentik Dewi meracik bumbu dan mencuci udang yang ada di kulkas itu. Ia tak akan segan untuk memasak makanan ini, walau sudah banyak art yang ingin membantunya tapi Dewi tetap kekeuh untuk memasaknya sendiri.


Dewa yang memang berdiri tak jauh dari dapur itu tersenyum kagum melihat Dewi yang tak malu dengan para pembantunya itu.


Benar benar istri idaman, Dewa tak aalah memilih Dewi menjadi tunangannya. Walau masih banyak wanita di luar sana tapi hati Dewa sudah mentok di Dewi. Ia tak ingin berbagi dan tak ingin membagi hatinya, karena hatinya adalah milik Dewi.


"Aden teh gak ikut Nona Dewi masak?" tanya Bi Ratih pada Dewa. Bu Ratih adalah pembantu yang sudah senior di rumah itu.


"Lihat dari sini aja bi."


Bi Ratih mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Dewa yang sudah selesai masak langsung meniriskan udang saus padang itu di piring dan membawa piring itu ke meja makan.


Tapi belum juga sampai di ruang makan, Dewi melihat kekasihnya mengamatinya di sana.


"Kamu makan dulu, aku mau ke kamar," ucap Dewi mengecup pipi Dewa dan berlalu begitu saja. Dewa memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Dewi, bukan pipinya yang kenapa napa tapi hatinya yang dibuat berdisko di dalam sana.


"Manis sekali."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2