Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Pulang Dengan Sedih


__ADS_3

Happy reading


"Udah jangan nangis lagi aku gak mau mata kamu sembab karena banyak nangis. Hanya gara gara kucing," ucap Dewa menenangkan kekasihnya yang masih menangis itu.


Mereka sudah cukup lama mencari kucing itu hingga akhirnya anak anak datang dan ikut membantu mencari Pico tapi sampai sekarang tak kunjung ketemu. Dewa dan Dewi juga sudah pasrah, karena kucing itu sudah tidak ada.


"Tapi Pico gak ketemu, Ayang," tangis Dewi dalam pelukan Dewa. Ia sedih karena kucing tampan itu pergi tanpa pamit padanya.


"Memang kamu mau cari kucing itu sampai kapan sih hmm. Kita belum makan siang gara gara kucing itu. Udah ya nanti aku belikan satu kucing buat kamu," ucap Dewa mengelus punggung Dewi agar tenang.


"Maunya dua," jawab Dewi dengan melas. Bahkan hidungnya yang merah membuat mereka yang ada disana gemas. Bukan tanpa sebab karena wajah Dewi saat itu sedang imut imutnya.


"Iya dua, nanti kita beli dua ya. Udah jangan sedih, sebelum pulang kita harus makan dulu," ucap Dewa mengapus ingus Dewi tanpa jijik dengan tisu.


Dewi mengangguk dan menghapus air matanya sendiri. Ia menatap mereka semua yang ada disana, ia merasa bersalah karena sudah membuat teman temannya ikut lelah mencari Pico.


"Kita makan dulu yuk, sayang makanannya," ajak Ozi pada mereka jujur ia sudah lapar.


Mereka semua berjalan menuju ruang makan dan tak lama Beby dan Satya turun dengan kondisi rambut Satya yang habis keramas.


"Tumben keramas? Kalian juga kenapa kok bisa barengan gini?" tanya Angga menatap sang tuan rumah itu.


"Kan kita mau pulang, gue mau seger aja. Ya gak Tam?" tanya Satya pada Tama yang sedari tadi diam dan mengambilkan makanan untuk istrinya.


"Hmm."


"Jangan cuek cuek," ingat Nafisah yang membuat Tama mengangguk.


"Iya."


Mereka pun mulai mengambil makanan untuk masing masing. Sedangkan Beby kini salah fokus pada mata Dewi yang merah bahkan masih terdengar isakan dari Dewi meski hanya sedikit.


"Kamu kenapa kok nangis kayak gini? Tadi aku pulang kamu ceria ceria aja. Kenapa sekarang menyedihkan seperti ini?" tanya Beby pada Dewi.

__ADS_1


Hanya Dewi yang bisa diajak berteman, karena semua teman yang ia punya hanya memandang harta saja. Bahkan dulu Beby pernah dibodohi teman temannya hingga ia bertemu dengan Satya yang bisa membuatnya kembali tersenyum dan tertawa setiap harinya.


"Pico hilang. Tadi aku taruh di ruang tamu tapi setelah aku mandi tadi, aku tidak melihat Pico lagi bahkan gak ada jejak langkah Pico pergi."


"Pico? Kucing kamu tadi siang itu?" tanya Satya ikut menimpali.


"Hiks, iya."


Tuh kan nangis lagi, Satya sih pakai bilang kucing, ia jadi sedihkan jadinya. Dewa yang melihat Dewi akan nangis lagi itu hanya bisa mengelus punggung kekasihnya dan menggenggam tangan Dewi.


"Jangan dibahas kalau cuma buat kamu nangis lagi, disini kita mau makan bukan mau lihat kamu nangis," ucap Dewa yang cukup menusuk tapi membuat Dewi langsung diam.


Benar kata Dewa, tak seharusnya ia menangis seperti ini hanya karena kucing saja. Karena jika bukan karenanya mungkin teman temannya tidak akan kelaparan seperti ini.


"Maaf ya buat kalian susah," ucap Dewi sesal.


"Iya gak apa apa, lagian kita senang kok bisa bantu kamu cari kucing itu walau akhirnya gak dapat," jawab Nafisah kemudian ia menerima suapan dari Tama.


Akhirnya mereka semua makan dengan tenang, walau Dewi masih sedih akan kepergian Pico. Padahal ia tak tahu apa Pico di bawa orang atau pergi sendiri gara gara fobianya.


Tapi yang pasti ia sangat sedih dengan kepergian Pico. Pico hilang aja Dewi nangis sampai seperti ini apalagi jika Dewa pergi nanti, apa ia akan bisa kuat atau malah akan sangat lemah.


Dewi menatap Dewa dengan sendu, tak lama lagi mereka akan lulus dan melanjutkan pendidikannya. Memikirkan hal itu membuat Dewi sakit saja. Sungguh ia tak kuat jika harus berjauhan dengan Dewa karena mereka sudah terbiasa bersama.


Setelah mereka selesai makan siang menjelang sore, Dewa serta teman temannya mulai berkemas. Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore.


Mereka pamit pada Bibi dan Paman yang menjaga vila itu. Beby memeluk Bibi yang sudah menemaninya selama Nenek dan Kakeknya hidup itu. Mereka tetap digaji oleh Beby dengan hasil penjualan teh di sana. Karena memang sebagian kebun teh itu sudah diwariskan untuk Beby.


"Kami pulang ya Bi, Paman," pamit mereka dan dianggukkan oleh Paman dan Bibi.


"Hati hati ya Den, Non. Jangan ngebut kalau pulang, apalagi ini itu sudah sore. Pasti sampai rumah sudah malam."


"Iya Bi, pasti kita bakal hati hati. Bibi juga, kami pamit pulang."

__ADS_1


"Maaf jika selama ini Dewi serta teman teman banyak menyusahkan Bibi dan Paman," ucap Dewi yang mencium punggung tangan Bibi dan Paman.


"Iya non, Non Dewi udah baik kok sama Bibi dan Paman. Gak ada menyusahkan," ucap Bibi dengan senyum. Ternyata anak kota tak semuanya ndugal dan nakal.


Setelah berpamitan mereka langsung masuk ke dalam mobil masing masing. Dan meninggalkan perkarangan vila itu. Dewi dan Dewi berada diposisi belakang karena nanti mereka masih harus membeli sesuatu untuk oleh oleh.


Didalam mobil Dewa.


Perjalanan mereka sangat santai bahkan Dewi menyetel musik yang mereka suka. Tapi yang membuat pertanyaan adalah kenapa sedari tadi Dewi diam saja apa karena kucing yang hilang tadi.


"Kamu kenapa diam aja sih hmm?" tanya Dewa dengan pelan mengelus punggung tangan Dewi.


"Sedih."


"Gara gara kucing tadi? Sudahlah sayang mungkin kucing itu sudah punya keluarga. Kamu gak boleh mengambil mereka dari orang yang mereka cintai," ucap Dewa mencoba untuk mencairkan suasana. Karena ia tak suka dengan sikap Dewi yang diam seperti ini baginya Dewi tak hidup jika seperti ini.


"Tapi kucing kan banyak kawin, aku mau Pico kembali Ayang."


"Sudahlah dia sudah bahagia dengan keluarganya," ucap Dewa.


Dewi yang merasa itu mulai memeluk tubuh kekasihnya. Sebenarnya bukan itu yang membuat ia sedih tapi ia masih memikirkan jika nanti mereka harus LDR (Lungo Dewe Rapopo) apakah ia bisa berjauhan dengan Dewa bahkan harumnya tubuh Dewa selalu membuat Dewi selalu rindu.


"Kamu tenang saja nanti kita mampir toko kucing, disana pasti banyak kucing yang sesuai kriteria kamu," ucap Dewa mengelus rambut Dewi lembut.


"Iya, aku tahu nanti aku akan milih yang bagus. Biar yang kamu habis," ucap Dewi dengan canda.


"Selagi itu baik buat kamu, lagipula kamu tak pernah meminta yang aneh aneh padaku kan. Bahkan saat aku ajak jalan dulu kamu cuma beli gulali kapas aja," jawab Dewa mencubit hidung Dewi.


Akhirnya mereka tertawa mengingat moment dimana mereka dulu berkencan. Ia tak tahu harus mulai darimana. Dan pada dasarnya Dewi jarang ke beli beli jadi ia hanya membeli gulali kapas saja.


"Ya Allah semoga aku kuat jika memang nanti kita harus berpisah," batin Dewi memeluk erat lengan Dewa bahkan wajahnya sudah menempel di lengan itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2