
Happy reading
"Yank, kita suami istri?" tanya Dewa dengan nada menggoda.
Dewi yang mendengar itu langsung membuang muka, apa tadi ia terlalu ketara jika ia cemburu hingga mengakui jika Dewi cemburu.
"Ih tadi itu cuma bercanda gak serius, kamu juga kenapa malah ikut ikutan pake bilang aku hamil segala," jawab Dewi dengan cemberut.
"Tapi kamu seneng kan kalau kamu benar jadi istriku dan juga hamil anakku?" tanya Dewa masih menggoda Dewi dengan mencolek dagu Dewi dengan genit.
"Ayang, jangan genit gini. Ih dasar kamu mau jadi buaya darat," ujar Dewi dengan kesal.
"Hei jangan salah buaya adalah hewan yang setia sayang, dia gak akan nikah lagi saat betinanya meninggal," jawab Dewa memfokuskan pandangannya ke depan.
"Tapi buaya kan gak nikah, tapi kawin," jawab Dewi yang membuat Dewa mengangguk. Benar juga ya, kan buaya gak pernah ijab kabul jadi langsung kawin.
"Ya sudah aku kalah, kamu yang menang."
"Hehehe, habis ini mampir ke toko buah ya. Pengen makan semangka, pasti seger deh," ucap Dewi tiba tiba. Dewa menatap Dewi dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa?" tanya Dewi yang menyadari tatapan Dewa.
"Kamu ngidam? Tapi aku belum coblos kamu loh yank," ucap Dewa dengan bodoh.
Dewi yang mendengar itu langsung mencubit perut Dewa. Ia tak percaya pikiran kekasihnya itu bisa sampai di ngidam.
"Jawab yank, siapa yang hamilin kamu?" tanya Dewa dengan dengan serius. Walau ia sudah tahu jika ini adalah candaan.
"Aku gak hamil, dan aku gak ngidam. Lagian siapa yang mau hamilin aku kalau bukan kamu hah?" tanya Dewi dengan nada ketus.
Sudah tahu selama ini mereka jarang berpisah. Tapi kekasihnya itu tetap saja ingin menggodanya.
"Oh jadi kamu mau aku hamilin? Gimana kalau sekarang kita cek in di hotel, mumpung sedikit mendung enak kalau kita emm....."
Dewi menutup mulut Dewa dengan tangannya, ucapan kekasihnya itu sungguh membuatnya bergidik ngeri.
Dewa yang mendapati tangan kekasihnya yang membekap mulutnya itu malah menciumnya kemudian menjilatnya. Untung sebelum pulang tadi Dewi sudah mencuci tangannya.
"Ayang jijik ih, kamu kok jilat tangan aku?" tanya Dewi dengan kaget.
"Lagian siapa suruh kamu tutup mulut aku," ucap Dewa dengan senyum tak berdosanya.
"Karena mulut kamu itu minta disumpal, ih dasar otak sel*********n kamu," ucap Dewi berkali kali menggeplak tangan Dewa.
"Ahh sakit sayang," ucap Dewa seperti mende*** hal itu membuat pikiran Dewi langsung traveling.
__ADS_1
"Ayang jangan gitu ih, ji**k."
"Kenapa sih? Emang sakit loh yank, kamu kan gak merasakan," ucap Dewa mengelus lengannya yang sedikit panas.
"Tapi ucapan kamu itu yang membuat aku jij**!!"
Dewi tak habis pikir kenapa kekasihmya itu sangat mesum seperti ini. Padahal yang ia tahu Dewa sangat anti jika teman-teman membahas hal seperti ini tapi kenapa saat bersamanya Dewa jadi beda.
Dewa tak menjawab tapi ia senang saja menggoda Dewi hingga wajah gadisnya itu memerah seperti itu.
"Jangan goda aku lagi, atau aku pulang ke rumah orang tua aku," ancam Dewi dengan tatapan tajam. Bukannya membuat Dewa marah api malah membuat Dewa itu gemas.
"Iya maaf ya sayang, suami kamu ini gak akan goda kamu seperti ini lagi," ucap Dewa mengelus rambut Dewi.
"Belum jadi suami," ucap Dewi.
"Kalau udah jadi suami boleh kan?"
"Boleh apa?" tanya Dewi bingung.
"Unboxing kamu," jawabnya yang membuat Dewi lagi lagi masuk ke dalam perangkap yang dibuat Dewa.
"Kena lagi kan, dasar Dewi bodoh," batin Dewi dengan kesalnya.
"Ayang kok sekarang mesum," teriak Dewi yang membuat Dewa tertawa.
"Pacar kamu lah, masa lupa," jawab Dewi.
Akhirnya Dewa memarkirkan mobilnya di parkiran supermarket dekat rumahnya.
Dewi yang melihat itu langsung dengan senyum manisnya mulai melepas sabuk pengamannya.
"Biar aku yang beli, kamu disini aja," titah Dewi dengan santainya mengecup pipi Dewa.
Kemudian ia mengambil tas kecilnya meninggalkan Dewa di mobil sendirian. Dewa yang baru saja dicium Dewi itu mulai memegang pipinya yang entah kenapa jadi panas seperti ini biasanya tidak samapi seperti ini.
"Dasar," gumam Dewa dengan senyum menawannya.
Dewi berjalan masuk ke dalam supermarket itu dan membeli apa yang ia inginkan hingga saat ia sampai di depan tak snack ada laki laki yang menabrakkannya.
Bruk
Snack yang sudah Dewi pilih jatuh berserakan hingga membuat laki laki itu ikut membantu Dewi.
"Maaf mbak saya tidak sengaja," ucap laki laki itu meletakkan snack itu di keranjang Dewi.
__ADS_1
"Lain kali hati hati," jawab Dewi berjalan ke arah kasir. Karena ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sedangkan laki laki itu dengan tenang menatap Dewi yang sedang berjalan ke arah kasir itu. Senyum tipis itu tersinggung dari bibir tebal laki laki itu. Sepertinya ada sesuatu tersembunyi dalam senyum yang tak bisa diartikan itu.
"Menarik, semoga kita bertemu lagi."
Ucapan itu hanya mampu didengarnya sendiri bahkan tangannya yang tak sengaja bersentuhan dengan Dewi itu langsung ia cium. Wanginya natural tak berlebih dan itu yang ia suka.
Drrttt
Getaran dari ponsel itu membuat laki laki itu harus menghentikan pandangannya ke arah Dewi yang sedang membayar belanjaan.
Ia mengangkat telepon itu kemudian melihat Dewi kembali. Entah kenapa ia menatap wanita yang baru ia ketahui seperti itu, tapi Dewi seperti memiliki aura yang kuat untuk tetap ia tatap.
"Iya Tante," ucap laki laki itu saat mendapat telepon dari seseorang itu.
"..."
"Iya, aku masih ada di supermarket. Mau beli minum sama jajan di rumah," jawab laki laki itu.
"..."
"Iya, nanti aku belikan apa yang adik adik mau," jawab laki laki itu tanpa sengaja melihat Dewi yang sudah keluar dari supermarket.
"Udah dulu ya tant, aku bakal cepet sampai rumah kok," tambah laki laki itu.
Tuttt
Laki laki itu berlari melihat Dewi yang masuk ke sebuah mobil. Dan laki laki itu langsung tersenyum saat melihat Dewi masuk ke sebuah mobil.
"Apa itu mobilnya atau mobil pacarnya?" tanya laki laki itu masih melihat mobil putih itu hingga menghilang dari pandangannya.
Setelah mobil Dewa pergi laki laki itu langsung mengambil apa yang ingin ia beli, kemudian dengan cepat membayar belanjaannya.
Setelah membayar belanjaannya laki laki itu tidak langsung pulang tapi lebih dahulu duduk di depan supermarket itu.
Pikirannya masih saja menerawang tentang pertemuannya dengan wanita yang bersikap tak peduli padanya tadi. Bahkan menjawab tidak apa apa saja tidak. Sungguh Dewi membuat laki laki itu jatuh hati dari pandangan pertama.
Bersambung
Hollaaaa, gimana sampai bab ini masih baca atau sudah bosan.
Nah buat part selanjutnya bakal ada sedikit konflik ya, walau gak semua dari tokoh utama.
Stay di cerita ini terus ya.
__ADS_1
Salam sayang
Tya