Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Kelulusan


__ADS_3

Happy reading


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tak terasa 4 bulan telah berlalu. Suasana di SMA kini akan berakhir.


Hari ini adalah hari dimana anak anak SMA Lentera melepas gelar mereka sebagai siswa.


Dewi yang sudah siap dengan kebaya modern yang sangat pas di tubuhnya itu. Mama Karina yang melihat putrinya sudah cantik itu langsung memberikan sebuah kalung miliknya yang sangat pas di leher Dewi.


"Mah ini," ujar Dewi memegang kalung itu.


"Kamu cocok pakai kalung ini sayang, leher kamu terlalu polos kalau gak ada apa apanya," ucap Mama Karina dengan lembut mengecup kening Dewi.


"Makasih Mama. Makasih sudah menjadi Mama terbaik buat aku dan Louis," ucap Dewi dengan senyum manisnya.


"Sama sama sayang, Mama senang kamu sudah lulus. Ayo berangkat Papa sudah ngomel ngomel nunggu kamu."


Dewi langsung mengangguk dan mulai menggandeng tangan mamanya menuju mobil.


***


Serangkaian acara sudah terlaksana, kini adalah akhir dari acara ini yaitu sesi foto bersama. Dewi yang duduk di samping Dewa itu langsung menarik tangan kekasihnya untuk melakukan foto bersama.


Para orang tua bangga melihat anak anak mereka sudah lulus. Apalagi Mama Riska dan Papa Albert yang mendapat kejutan dari anak nakalnya yang ternyata mendapat peringkat 3. Walau tidak mendapat juara 1 dan 2 tapi bagi mereka juara tiga di seangkatan itu sudah sangat membanggakan.


Dewa yang nakalnya minta ampun dulu akhirnya bisa membuktikan pada Mama dan Papanya kalau ia bisa berhasil. Dan itu semua berkat Dewi.


Papa dan Mama Dewa tak pernah rugi menjodohkan Dewa dan Dewi. Lihatlah anak anak itu sekarang seperti lem yang tak bisa lengket.


Setalah selesai foto bersama, Dewa dan Dewi langsung berjalan menuju keluarga mereka. Dan mereka melakukan foto bersama di sebuah spot foto untuk mereka semua.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita merayakan hari kelulusan kalian di Restoran Jepang dekat sini?" ajak Papa Daren pada mereka.


"Boleh," jawab mereka.


Setelah itu mereka langsung menuju restoran Jepang rekomendasi Papa Daren. Sebagai keluarga dan calon keluarga.


Dewa yang tadi pagi membawa mobil sendiri itu langsung menarik tangan Dewi untuk ikut bersamanya.


"Sayang naik mobil aku."


"Iya benar, ekorku harus aku seret dulu ini."


"Kebaya kamu ribet," ucap Dewa yang sudah membuka pintu mobil.


"Namanya juga style kebaya masa kini."


"Apapun yang kamu pakai selalu pas dan cantik di badan kamu."


Dewa yang mendapat pujian dari Dewi itu langsung melabuhkan ciuman hangatnya di kening Dewi. Sejak ada Dewi, Dewa memang jarang kumpul bareng teman temannya kalau tidak penting. Dan mereka semua paham, apalagi sejak kejadian Dewa masuk rumah sakit sampai harus operasi saat itu. Dewa selalu melarang keras Dewa untuk balapan.


Dewa menelusupkan jari jari mereka agar bertaut, kuku Dewi yang baru saja di cat itu tampak manis di mata Dewa.


"Apa aku harus mengatakannya pada Dewi?" tanya Dewa dalam hatinya.


Tapi setelah melihat wajah ceria Dewi ia jadi tak tega mengucapkan hal yang ingin ia ucapkan.


"Ay, senyum," ucap Dewi saat mereka ingin memotret wajah mereka. Dewa yang memang sedang menggenggam tangan Dewi itu langsung menciumnya.


"Sekali lagi ayang," ucap Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.

__ADS_1


Cups


Cekrek


Bersamaan dengan Dewi yang memotret mereka, Dewa juga mencium pipi Dewi dengan cepat hingga hasil potretan itu sangat manis.


"Uhh kamu mah, kan imut jadinya aku mau lagi foto kayak gini," ucap Dewi dengan senyum manisnya menatap hari jepretannya.


"Sini biar aku yang ambil fotonya."


Dewa mulai mengambil potret dengan posisi mereka yang sangat indah baginya. Mulai dari yang ia mengecup kening Dewi bahkan sampai ia lupa jika ia juga memvideo saat Dewa mencium bibir Dewi dengan lembut.


Setalah selesai dengan foto foto mereka akhirnya keduanya sudah sampai di restoran. Kedua orang tua mereka sudah menunggu keduanya.


Makan siang pun di mulai, sedikit perbincangan terselip diantara ngobrolnya mereka.


"Kak, kamu sudah bilang sama Dewi?" tanya Mama Riska yang mulai memanggil Dewa dengan sebutan Kakak karena anak yang ada dalam perutnya ini harus dibahasakan juga.


Dewi yang mendengar itu langsung menatap Dewa dan Mama Riska. Apa yang ia tak tahu.


"Belum ma."


"Apa yang aku gak tahu?" tanya Dewi dengan bingung.


"Nanti aku bicarakan ini empat mata sama kamu ya. Aku gak mau kamu sedih," jawab Dewa yang membuat Dewi langsung diam.


Kenapa ada yang beda, apa Dewa akan pergi secepat ini. Atau bagaimana? Entahlah ia juga jadi bingung dengan apa yang akan dibicarakan oleh Dewa.


Setelah selesai makan, Dewa mengajak Dewi ke suatu tempat yang ada di restoran itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2