Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Rencana Dewa


__ADS_3

Happy reading


Setelah mendengar kata kata Mama Riska Dewi jadi mengingat apa yang terjadi 2 tahun lalu.


"Dewa gak ingat aku? Dan yang ia ingat terakhir kali adalah Cleo? Karena dua tahun yang lalu Dewa berpacaran dengan Cleo," ucap Dewi.


Tiba tiba pandangannya kabur dan akhirnya Dewi pingsan dalam pelukan Mama Riska.


"Astaga kenapa sampai pingsan sih? Apa karena Dewa yang pura pura amnesia?" tanya Mama Riska.


"Aku hanya ingin sedikit mengerjainya Ma. Sebentar lagi Dewi kan ulang tahun, aku akan memberikan hal yang sangat istimewa untuknya," jawab Dewa tatapannya beralih pada Dewi yang sudah dibawa ke sofa itu.


"Kalau kamu bukan anak Mama dan kepala kamu gak sakit, sudah Mama jitak kepala kamu," ujar Mama yang gemas sendiri dengan ide konyol Dewa.


Bukan hanya Mama dan Papa saja yang harus akting seolah olah dia amnesia tapi semua anggota keluarganya. Bahkan Naila yang tak suka dengan drama juga ikut ikutan.


"Tapi kamu gak lihat calon mantu Mama sampai pingsan gini?" tanya Mama mencoba membangunkan Dewi.


"Gak lama bangun kok, Ma. Kalian tetap pura pura ya," pintanya dengan suara lemas.


Memang Dewa sempat ling lung saat bangun tadi malam tapi setelah Papanya menceritakan semuanya ia jadi ingat akan apa yang terjadi. Memang tak ada efek apa apa pada otaknya mungkin hanya sebagian kecil ingatannya saja yang hilang. Tapi jika tentang Dewi tentu saja ia tak akan lupa.


"Rencananya mau sampai kapan kakak tetap pura-pura amnesia? Aku gak mau sampai kak Dewi sakit hati dengan perlakuan Kakak ya," tanya Naila yang sudah datang dan saat ini gadis itu sedang menyuapi Dewa buah jeruk.


"Sampai ulang tahun, Dek. Mungkin hanya 3 bulanan. Karena gak mungkin amnesia cuma 1 minggu itu gak asik sama sekali," jawab Dewa dengan santai.


Dewa sudah merencanakan hal ini sejak tadi malam, ia ingin memberikan sedikit pelajaran pada Dewi juga yang akan ulang tahun. Padahal ulang tahun Dewi masih kurang 3 bulan lagi.


"Terserah kakak aja," balasnya.


Sebenarnya Dewa tak tega melihat Dewi sampai pingsan seperti itu, jika saja ia sudah baik baik saja mungkin ia yang akan menggendong tubuh Dewi tadi.


Tak lama setelah itu Dewi bangun, mereka semua kembali akting seolah olah dewa lupa ingatan.


Dewi yang melihat itu langsung bangun dan berjalan menuju ranjang tempat dimana Dewa sedang berbaring dengan tangan yang masih di infus dan juga kepalanya masih diperban karena habis operasi.


"Dewa," ucap Dewi yang saat ini ada di depan Dewa.


"Siapa?" tanya Dewa yang membuat hati Dewi sangat sakit karena hal ini. Dalam pikirannya kenapa Dewa sampai gak mengingatnya seperti ini.


"Aku Dewi, tunangan kamu," jawab Dewi memegang tangan Dewa yang ada di atas perut.

__ADS_1


"Tunangan? Jangan ngaco ya, aku belum punya tunangan. Aku punya pacar namanya Cleo."


Deg


Hati Dewi makin sakit saat mendengar hal itu, ia tak akan bisa membayangkan jika sehari harinya Dewa akan menyebut Cleo, Cleo, dan Cleo terus.


"Kak, udah berapa kali Naila bilang kalau Cleo itu sudah berkhianat sama kakak. Cleo gak baik buat kakak, dia cewek yang gak bener."


"Kak Dewi adalah tunangan kakak, bahan kalian sering menunjukkan kemesraan kalian di depanku," tambahkan.


Wow!! Dewa takjub dengan apa yang diucapkan Naila, adiknya sangat mendalami perannya sebagai pembela kebenaran.


"Cleo gak gitu."


"Pergilah aku ingin sendiri."


Mereka yang diusir oleh Dewa itu langsung keluar, bukannya sedih karena di usir tapi mereka ingin tertawa apabila Mama dan Papa.


"Kamu juga pergi. Aku tidak kenal dengan kamu," ucap Dewa pada Dewi yang menggeleng.


"Biarkan aku disini sebentar lagi, aku gak akan apa apain kamu kok."


Akhirnya hanya tinggal Dewa dan Dewi saja yang ada disana, Dewi terlihat sangat snggung bahkan ia berulang kali menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Jika tak ada yang ingin kamu bicarakan, keluarlah," ucapnya dengan nada datar. Jujur Dewa tak bisa berbicara seperti ini.


"Aku tak akan keluar, aku akan menjaga kamu," jawabnya yang membuat Dewa berteriak senang dalam hati.


Walau dia pura pura amnesia, ternyata Dewi tetap mau mengurusnya. Tadi malam ia sempat berpikir gimana kalau Dewi malah tak mau mengurusinya.


"Kamu sudah makan?" tanya Dewi tetap bersikap baik pada Dewa.


"Hmm," Dewa menggeleng. Ia menatap bubur yang ada di nakas.


"Aku suapin ya, harus mau pokoknya. Walau kamu gak ingat aku, tapi aku akan tetap jagain kamu sampai kamu sembuh," ucap Dewi mengambil bubur rumah sakit itu.


"Hambar, aku tak suka," jawab Dewa tak mau makan bubur itu.


"Ayolah ini baik untuk kesehatan kamu. Aku janji kalau kamu sembuh aku bakal ajak kamu makan ayam geprek di simpang lima tempat yang paling kamu sukai itu," bujuk Dewi.


"Memangnya aku suk ayam geprek?" tanya Dewa pura pura lupa.

__ADS_1


"Heem. Bahkan kamu berulang kali mengajak aku makan disana tapi gak mau, gak baik sering sering makan ayam geprek."


"Buka mulutnya, biar aku suapi," ujar Dewi menyendokan bubur itu dan Dewa dengan ekspresi yang pura pura dipaksa itu menerima suapan Dewi.


"Kalau aja gak pura pura, udah aku peluk kamu hari ini. Kangen banget aku sama bau tubuh kamu, dan sepertinya kamu sengaja dandan biar aku terpesona," batin Dewa yang melihat Dewi mengaduk bubur itu. Kebiasaan Dewi memang gitu kalau dengan bubur oplosan beda lagi kalau bubur ayam.


"Kepala kamu masih sakit?" tanya Dewi dengan lembut.


"Hmm sedikit."


"Kenapa kamu mau rawat aku? Aku tak ingat kamu siapa, bahkan aku tak ingat tentang kejadian selama 2 tahun ini. Apa kamu benar ada di masa depanku atau tidak," tanya Dewa yang membuat Dewi menganggukkan kepalanya.


"Aku tunanganmu, kalau kamu gak percaya kamu bisa lihat cincin yang ada di jari kamu. Aku juga mempunyainya."


Dewi memperlihatkan cincin mas yang ada di jari manisnya begitupun dengan Dewa yang melihat cincin titanium itu di jarinya.


"Aku tak ingat apapun tentang kamu bahkan aku tak ingat kalau kita tunanganku," jawab Dewa kembali membaringkan tubuhnya.


"Aku akan sabar menunggu kamu ingat, walau itu akan menyakiti hatiku lagi," jawabnya menyuapkan suapan terakhir buburnya itu.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yuk↓↓↓


Istri Siri Tuan Bryant


Author: Asma Khan


Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.


Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.


Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.


"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"


Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.


"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"


Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.

__ADS_1


Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?


Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


__ADS_2