Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Arena Balap Liar


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dewi yang sedari tadi belum tidur itu hanya bisa memainkan dada Dewa saja, sedangkan Dewa dengan setia menepuk punggung Dewi agar terlelap.


"Sayang kamu bekum tidur?" tanya Dewa yang sedang menepuk punggung Dewi itu.


"Belum ngantuk," jawab Dewi dengan pelan bahkan nyaris tak terdengar.


Entah kenapa perasaan Dewi tak enak akan kepergian Dewa nanti ke arena balap.


"Ay, gak usah pergi balapan ya?" tanya Dewi dengan pelan.


"Loh kenapa? Bukannya tadi kamu udah izinin aku pergi?" tanya Dewa dengan bingung. Kenapa kekasihnya ini melarang dirinya untuk balapan.


"Gak tahu kenapa perasaan aku gak enak Ayang."


Dewa mengelus punggung kekasihnya dengan lembut. Ia tak tahu kenapa tiba tiba Dewi tak memperbolehkannya untuk ikut balapan, padahal tadi Dewi sudah mengizinkannya.


"Perasaan kamu aja sayang, aku gak akan kenapa napa. Kamu bisa pegang janji aku," ucap Dewa dengan senyum manisnya menenangkan sang kekasih.


"Aku takut kamu kenapa napa," jawab Dewi.


"Enggak akan kenapa napa, sekarang sayangnya aku tidur hmm. Ini udah jam 10 lebih loh. Besok malah ngantuk gimana saya jam pelajaran?" tanya Dewa.


"Tapi kamu gak usah pergi," rengek Dewi bahkan air matanya sudah mulai jatuh dari pelupuk mata.


"Sudah tidur sayang, dari tadi kamu ngomong yang gak jelas," jawab Dewa mengelus punggung Dewi tak lupa ia memeluk tubuh kekasihnya dengan lembut hingga membuat Dewi nyaman.


"Aku sudah janji sama anak anak sayang gak mungkin aku ingkar akan apa yang sudah aku janjikan," batin Dewa seraya mencium kening Dewi dengan pelan.


Mungkin nanti ia akan sedikit merindukan wangi dari rambut Dewi ini.


Setelah berberapa saat akhirnya Dewi terlelap juga, tangan gadisnya itu memeluk erat Dewa yang sangat kekar. Seakan Dewi takut jika Dewa pergi saat ia tidur.


"Kamu aneh sayang, tadi kamu bolehin sekarang kamu larang aku," ucap dengan pelan.


Dengan gerakan pelan, Dewa melepaskan pelukan itu walau sedikit susah tapi ia bisa membuat Dewi melepaskan pelukan itu.


Dewa membenarkan letak selimut itu agar Dewi tak kedinginan dan juga guling yang sedari tadi diam dipinggir kasur ia letakkan di sisi Dewi.


Ia turun dari kasur dan berganti pakaian, tak lupa jaket geng Alaska yang sudah berberapa hari ini tak ia pakai itu tampak terpasang di tubuhnya.


Dewa mengambil parfum dari kekasihnya dan menyemprotkannya ke tubuhnya. Sekilas Dewa melihat Dewi yang menggeliat, dalam hati semoga Dewi tak bangun dan menghalanginya untuk pergi.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku harus ke arena sekarang. Anak anak butuh aku," ucap Dewa mengecup kening Dewi dengan lembut kemudian mengecup singkat bibir tipis itu dengan pelan.


Kemudian ia berjalan keluar dari kamar itu dengan membawa kunci motor yang sudah ia modifikasi dulu.


***


Sampainya Dewa di arena balap, kedatangan langsung disambut dengan baik oleh teman temannya.


Dewa langsung menyerahkan motornya untuk di cek teman-temannya yang ahli dalam bidang mesin.


Tentu saja Dewa tak mau sampai terjadi apa apa pada dirinya, selain tak ingin tubuhnya lecet ia juga tak mau Dewi menangis hanya karena dia celaka.


Sedangkan disini lain geng motor Black Lion dan geng motor Warrior sedang mengamati Dewa yang sedang berbincang dengan teman temannya.


"Yakin mau melakukan hal ini?" Vino pada Langit yang sedang menyesap rokoknya.


"Yakin, gue udah geram banget sama yang namanya Dewa itu. Bahkan kalau gue bisa, malam ini juga gue mau habisin dia," ucap Langit dengan tawa sinis.


Langit sudah lelah kalah terus dari Dewa, anak bau kencur yang umurnya dibawah dia 2 tahun itu membuat dirinya kalah berkali kali. Bahkan dulu wanita yang ia cintai juga diambil oleh Dewa siapa lagi kalau bukan Cleo.


Langit tak tahu jika Cleo adalah seorang bi**h, yang ia tahu adalah Cleo diputuskan dwngan tidak terhormat oleh Dewa. Hal itu yang membuat Langit salah paham terus sampai sekarang.


"Sepertinya lu dendam banget sama Dewa? Apa ada problem?" tanya Vino yang sudah nangkring di atas motornya bahkan ada satu wanita yang juga berada di atas motor Vino.


"Aku dengar Dewa bukan orang yang mudah dikalahkan. Tapi aku yakin dengan bersatunya kalian bisa mengalahkan mereka," ucap wanita itu mengalungkan tangannya di leher Vino.


"Kamu ini sudah aku bilang jangan dilepas jaketnya," ucap Vino memakaikan kembali jaket yang dilepas wanita itu.


"Gerah," jawabnya dengan santai.


Wanita itu memang pacar dari Vino, memang pakaiannya seperti wanita nakal tapi Vino tahu jika pacarnya ini hanya covernya saja yang nakal tapi hatinya baik bagi Vino.


Tadi saja sebelum mereka ke arena balap, wanita itu sudah mewanti wanti Vino agar tidak ikut dalam rencana Langit. Tapi Vino tetap kekeuh ingin ikut serta dalam kekalahan Dewa.


Vino memang memiliki dendam pada Dewa karena ia tak pernah menang jika melawan Dewa, hal itu membuat Vino mau saja ketika Langit mengajaknya kerja sama dalam mengalahkan Dewa malam ini.


"Awas aja kalau kamu sampai membuat anak orang celaka. Aku memang mengizinkan kamu ikut dalam mengalahkan Dewa tapi bukan membuat dia celaka," ucap wanita itu.


Siapa sih yang mau pacarnya terlibat dalam hal yang berbau kekerasan hingga membuat salah satu orang celaka? Wanita itu sangat menentang jika Vino ikut membuat Dewa masuk rumah sakit.


"Aku gak janji," jawab Vino dengan tegas.


Kemudian wanita itu membisikkan sesuatu ke telinga Vino hingga membuat Vino membulatkan matanya.

__ADS_1


"Really?" Wanita itu mengangguk.


Sedangkan Langit dan teman-teman mereka itu hanya melongo melihat ketua mereka yang sangat patuh pada pacarnya itu.


Yang menjadi ketakutan mereka adalah ketika Vino tak mau ikut dalam memban**i Dewa malam ini.


"Awas sampai lu mengacaukan rencana kita malam ini," ucap Langit naik ke atas motornya dan mulai menjalankan ke arah arena meninggalkan Vino dan Wanita yang ada disana.


"Awas aja kalau kamu ikut ikut mereka membuat anak orang celaka. Aku gak mau anak yang ada di perut aku ini mempunyai ayah seorang pembunuh," tegas wanita itu.


Yah pacar Vino memang sedang mengandung, kandungannya juga masih muda jadi tak terlalu terlihat.


"Aku gak akan membunuh dia kok, hanya memberinya sedikit pelajaran," jawab Vino mengelus perut kekasihnya.


"Anak Daddy jangan sampai buat Mommy kamu kelelahan, Daddy mau balapan dulu. Nanti kalau kamu sudah besar, Daddy bakal ajarin kamu jadi pembalap seperti Daddy," ucap Vino dengan lembut kemudian ia mengecup perut kekasihnya.


"Awas aja kamu ajarin anak aku yang enggak enggak, masa anak yang masih di dalam perut mau di ajarin jadi pembalap liar," jawab wanita itu dengan menyentil kening kekasihnya.


"Ya bisa aja kan. Kamu jangan lepas jaket ini. Bandel banget kamu kalau dibilangin tadi," ucap Vino dan dianggukkan oleh wanita itu.


Pacar Vino turu dari motor itu dan dijaga oleh anak buah Vino yang perempuan hingga membuat Vino tenang.


"Semoga Daddy kamu gak terpengaruh orang jahat ya, Boy," ucap wanita itu pada anak yang ada di dalam perutnya.


Bersambung


Wahh pacarnya Vino keknya orang baik ya.... Terus Dewi di rumah gimana dong?


****


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukk↓↓↓


CEO And The Twins


Author: ingflora


Wajah mungkin sama, tapi tidak dengan hatinya.


Ian Xander terkejut ketika dikhianati kekasihnya yang cantik Elevika Zarin, yang meninggalkannya demi pria yang lebih kaya.


5 tahun kemudian, Ian menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan terkenal di Indonesia. Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan mantan kekasihnya itu walaupun dia berjilbab, berkacamata tebal dan tidak cantik bernama Noura. Ia jatuh cinta dan mengejarnya. Ia pun kemudian melamarnya.


Namun kemudian ia mengetahui bahwa Noura adalah kembaran Vika, mantan kekasihnya dulu. Saat itu juga ia marah dan berniat balas dendam dengan menyengsarakan Noura.

__ADS_1



__ADS_2