
Happy reading
Karena dirasa sudah terlalu siang mereka harus menyiapkan makan siang dan bersiap. Karena sore nanti mereka harus pulang.
"Pico main dulu disini ya, Mommy mau buat makan siang dan juga siap siap pulang. Nanti Pico kita bawa ke kota biar ada temannya," ucap Dewi meletakkan Pico di lantai yang beralaskan tikar itu.
Kemudian Dewi meninggalkan Pico dan masuk ke dalam vila. Saat ini belum ada yang pulang jadi Dewi memutuskan untuk masak sendiri, Beby juga sedang merajuk bahkan jika sudah seperti ini mungkin Beby sulit untuk mengembalikan mood wanita yang satu itu.
Bibi juga sedang keluar, jadi mau tak mau dia yang masak untuk mereka semua. Untung Dewa dengan senang hati membantu kekasihnya walaupun sedikit.
"Habis metikin cabe, selanjutnya apa yank?" tanya Dewa pada kekasihnya yang masih memotong sayuran itu.
"Kamu ambil air dan panaskan ya, kita buat sup sama udang goreng tepung aja."
"Udang goreng tepung?" tanya Dewa yang dianggukkan oleh Dewi. Untung disana banyak bahan makanan yang bisa diolah.
"Oke," jawabnya dengan senyum manisnya.
Tinggal mengambil air dan mendidihkan saja, itu adalah hal yang mudah. Bahkan anak SD juga bisa.
Mereka berdua berbagi tugas, Dewa yang sejatinya jarang ikut Mama Riska ke dapur untuk membantu itu cukup kesulitan. Tapi ia masih tahu mana yang bawang mana yang kunyit.
Dewi yang melihat betapa kesusahannya Dewa dalam meracik bumbu itu membuat ia sedikit merasa bersalah tapi hanya sedikit.
Dewi mengambil tisu dan mengelap keringat kekasihnya itu dengan lembut.
"Nanti kalau kita sudah nikah, sering sering bantu aku ya Ayang," ucap Dewi menghentikan usapannya dan menatap mata Dewa.
"Kalau aku gak sibuk pasti aku bantuin istri aku ini," ucap Dewa mencubit hidung Dewi. Ia lupa jika tadi tangannya tadi memegang bawang merah.
"Ih tangan kamu bau Ayang. Kamu tadi kan belum cuci tangan," ujar Dewi mengusap hidungnya.
"Ups maaf sayang, aku gak sengaja. Reflek tadi," ucapnya dengan senyum manisnya yang membuat Dewi yang tadinya ingin marah tak jadi.
"Haiss."
Mereka kembali melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda karena mereka berulah tadi.
__ADS_1
Tak terasa sudah 1 jam lebih mereka berkutat di dapur, masakan mereka juga sudah selesai dibuat.
"Biar aku aja, kamu udah capek masak kan," ucap Dewa saat Dewi ingin mengangkat piring itu.
"Gak capek kok Ayang, ini ringan. Lagian kalau dilakukan berdua kan lebih cepat selesai," jawab Dewi dengan senyum manisnya.
"Gak tetap enggak, kamu udah capek. Mending kamu cuci tangan dulu terus mandi di kamar. Sore ini kita mau pulang kan," ucap Dewa tak ingin dibantah. Akhirnya Dewi mengangguk dan diam menatap Dewa yang sedang menata makanan meja makan itu.
"Anak anak kok belum pulang ya Ay?"
"Mungkin masih di jalan," jawab Dewa tanpa melihat Dewi.
"Aku coba chat aja ya, ini udah jam 2 kurang seperempat loh," ujar Dewi mengechat teman temannya dan menyuruh untuk pulang.
Lagipula mereka belum membelikan adik adik mereka oleh oleh khas daerah sini. Jika nanti mereka pulang tidak membawa apa apa pasti mereka sangat kecewa.
Setelah memindahkan makanan yang mereka buat tadi. Dewa dan Dewi mencuci tangan mereka di wastafel dapur itu, lagi dan lagi Dewa berbuat jahil pada kekasihnya.
"Sayang, udah jangan jahil nanti aku marah nih," ucap Dewi menatap Dewa seraya mengibaskan tangannya yang belum ia lap.
"Kamu juga gitu," ucap Dewa seraya ia mengambil tisu dan mengelap tangan kekasihnya dengan lembut.
"Aku dulu yang mandi baru kamu," ucap Dewi dan dianggukkan oleh Dewa. Ia juga sudah merasa jika badannya lengket karena keringat.
Dewa dan Dewi berjalan menuju kamar yang berada di lantai atas. Dengan Dewi yang berada di depan Dewa membuat pria itu leluasa melihat langkah dan tubuh kekasihnya dari belakang.
"Nanti kita mampir ke toko kucing ya, aku mau beli kucing buat teman Pico," ucap Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.
"Iya kita nanti beli kucing serta kandangnya, asalkan kamu senang aku juga senang sayang," ucap Dewa mengecup singkat pipi Dewi.
Pria itu mulai berjalan mendahului Dewi kemudian duduk di ranjang dan memainkan ponselnya sedangkan Dewi berjalan menuju lemari dan mengambil bajunya yang ada disana.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Dewa lebih dahulu memotret Dewi yang sedang memilih baju bajunya.
"Gak sadar aja cantik, apalagi kalau sudah sadar," ucap Dewa dengan senyum untung saja Dewi tak mendengarnya.
Dewi masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandinya. Memang pada dasarnya cewek jika mandi sedikit lama daripada laki laki. Tapi seorang Dewa tak akan menggedor-gedor pintu kamar mandi walau ia sudah sangat gerah.
__ADS_1
Dan benar saja setengah jam kemudian Dewi keluar dengan keadaan fresh. Untungnya ia masih memegang ponselnya kemudian ia memotret Dewi dengan santainya. Memang Dewa sangat suka memotret Dewi dengan cara seperti ini agar tak ketahuan dengan Dewi.
"Aku udah selesai mandi, sana gih kamu mandi dulu. Aku mau ke bawah cari Pico," ucap Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.
Tapi sebelum itu Dewi sudah menyiapkan pakaian yang akan dipakai Dewa yaitu kaos dan jaket serta celana. Jika untuk dalaman biarkan Dewa yang ambil sendiri.
Dewa masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Dewi keluar dari kamar mencari keberadaan Pico.
"Pico kamu dimana sayang?" teriak Dewi memanggil Pico.
Pico tak ada di tempat yang tadi ia meletakkan kucing itu disana. Bahkan jejak jejak Pico juga sudah tak ada.
Dewi tak habis pikir dengan kucing barunya. Jika ia belum menemukan Pico ia tak mau pulang. Tapi jika Pico pergi bagaiman?
Dewi mencari keberadaan Pico keseluruh vila. Tanpa tahu jika Dewa sudah selesai mandi dan berpakaian. Awalnya Dewa kaget saat kekasihnya tak ada di sana, tapi ia ingat tentang anak anaknya.
"Pasti Dewi sedang berada di ruang makan," ucap Dewa berjalan menuju dapur atau ruang makan.
"Pasti ada di ruang makan," ucap Dewa dengan santainya.
Ia keluar dari kamar itu menuju ruang makan, tapi belum juga sampai ruang makan Dewi sudah berlari dan menangis. Dewa yang bingung itu langsung memeluknya.
"Kenapa sayang, kok datang datang kamu nangis?" tanya Dewa mengelus punggung Dewi yang sangat lelah.
"Ayang huaaaa hiks hiks," tangis Dewi makin pecah saat ditanya seperti itu.
Dewa yang tak mendapat jawaban dari Dewi itu langsung mengajak Dewi duduk.
"Sekarang kamu bilang, kenapa kamu tiba tiba nangis gini?" tanya Dewa dengan pelan.
"Ayang Pico hilang, aku sudah cari dia kemana mana tapi tidak ada. Aku sedih, Ayang aku mau Pico."
Dewa yang mendengar itu sempat tersenyum dengan tipis. Jika Pico hilang ia bisa menguasai Dewi sepenuhnya.
"Ayang ayo cari Pico, aku gak mau kucingku hilang. Dia anak kita tahu kamu gak sedih dia pergi?" ajak Dewi dengan sedihnya. Bahkan air matanya sudah menetes dengan derasnya.
Dewa yang diajak untuk mencari Pico itu hanya menggeleng. Mereka akan pulang, masa harus mencari Pico lagi, ia jelas tak mau.
__ADS_1
Tapi jika melihat wajah Dewi yang sedih itu hanya bisa mengangguk mengiyakan ajakan Dewi.
Bersambung