
Happy reading
Berbeda dengan Dewi dan Nafisah yang sudah berada di ruangan kepala sekolah. Kini Dewa, Tama, dan Satya berada di rooftop.
"Jadi?"
Tama merasa orang yang paling disudutkan disini. Terlihat sekali keduanya sangat kecewa dengan Tama dan Tama menyadari hal itu.
"Maafin gue," ucap Tama pada mereka.
"Apa lu udah gak anggap kita ini sahabat dan saudara lu?"
"Bukan gitu, gue cuma gak mau orang orang tahu kalau gue udah nikah. Lagipula masih ijab kok, rencananya nanti kalau udah lulus bakal adain resepsi. Kalian pasti orang pertama yang bakal aku undang," jawab Tama dengan senyum tipisnya.
Tama sedari dulu memang tak bisa senyum dengan lebar berbeda jika ia sudah berada di rumah bersama Nafisah. Anak dari asisten Papanya itu sangat membuat dia jadi orang lain.
"Bukan masalah undangannya Tama, tapi kejujuran kamu. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu menikah seminggu yang lalu? Padahal kamu itu sudah kami anggap sebagai saudara kami sendiri," ujar Satya yang tak lagi bercanda. Pria itu menatap Tama kecewa.
"Hmm, kita gak apa apa kalau lu mau rahasiakan pernikahan lu dari teman teman dan semua siswa di SMA ini. Tapi kita itu bukan cuma teman tapi lebih dari sahabat. Kita sudah bersahabat sejak SD. Kenapa lu gak ada niatan untuk mengatakan kalau lu menikah?"
Dewa, cowok yang sangat bucin pada Dewi itu kini berucap sangat panjang karena kekecewaan.
"Maaf sekali lagi, gue gak mau ngerepotin kalian. Apalagi acaranya mendadak, gue meminta maaf yang sedalam dalamnya sama kalian," ujar Tama menatap kedua sahabatnya.
Mereka berdua menghembuskan nafasnya, meski kecewa dengan Tama tapi mereka juga tak bisa apa apa.
"Lagipula semua sudah berlalu dan kalian juga sudah tahu. Maaf kalau gue gak ngundang kalian karena memang pernikahan ini mendadak dan cuma dihadiri dua keluarga saja," tambah Tama masih merasa bersalah kepada sahabat sahabatnya.
"Hmm, gue cuma kecewa. Dan yah gue dan Satya selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Nafisah."
Dewa memeluk tubuh Tama memberi selamat pada sahabatnya yang sudah tak lagi bujangan karena sudah menjadi suami.
"Iya, gue juga harap lu bisa menjadi suami yang baik untuk istri lu. Doakan gue sama Beby ceper nyusul," tambah Satya dengan senyum menawannya.
Bagaimana jika nanti mereka sudah sama sama memiliki istri dan anak apakah hidup mereka akan bahagia terus?
__ADS_1
"Gue doakan, tapi gue persen jangan rusak cewek kalian. Gue gak mau sahabat sahabat gue jadi cowok brengsek," ucap Tama pada keduanya yang tanpa sadar menampar Satya.
Dewa menatap Satya yang hanya meringis, ia memang brengsek karena sudah mengambil kesucian Beby tapi itu hanya sekali dua kali atau bahkan tiga kali, Satyapun lupa sudah berapa kali.
"Gue brengsek, tapi gue gak akan pernah lari dari tanggung jawab," ucap Satya dengan penuh keyakinan.
"Gue tahu."
Setelah itu mereka sudah kembali seperti sedia kala, asa kecewa dalam hati Satya dan Dewa memang masih ada tapi mereka juga yakin Tama memiliki alasan lain kenapa tak mau mempublikasikan pernikahan dia dengan Nafisah.
"Astaga gue lupa."
Karena terlalu asik dengan sahabat sahabatnya, Satya menyadari sesuatu.
"Lupa kenapa?" tanya Dewa pada Satya.
"Cewek gue masih di UKS, kalau terjadi apa apa gimana? Gue turun dulu mau ke UKS," ucap Satya langsung bangun dari duduknya dan berlari menuju ke UKS yang berada di lantai 1.
Sekolah mereka memiliki tiga tingkat atau tiga lantai dan saat ini mereka masih berada di lantai paling atas.
"Memang ya si bucin yang gak bisa jauh dari kekasihnya."
"Hmm, lu juga gitu. Gue lihat lu sayang banget sama Nafisah. Oh ya Dewi ngabarin kalau dia sama Nafisah ada di ruangan kepala sekolah. Dewi nganter dia karena cewek gue gak enak sama Nafisah," jawab Dewa pada Tama.
"Sorry karena buat istri lu luka. Gue juga gak bisa menghentikan video itu sampai terjadi kayak gitu," ucap Dewa menatap langit langit.
Ia tak malu jika videonya dengan Dewi tersebar tapi yang membuat ia tak terima karena jika dari belakang Dewi seperti tidak berciuman dengan Dewa.
Lagipula hampir semua orang tahu jika dia dan Dewi sudah tunangan walau tak ada yang ia undang selain teman temannya dulu.
"Gue juga maklum karena fans lu banyak. Dan Nafisah itu orangnya gak tegaan, pernah dia membahayakan nyawanya sendiri demi nolong kucing yang hampir jatuh dari balkon. Untung saat itu gue ada disana," ucap Tama.
Dewa mengangguk, sepertinya sahabatnya ini sangat mencintai Nafisah. Ia senang karena Tama adalah cowok normal. Pernah ia dan Satya dulu berpikir jika Tama ini tidak normal hingga mereka harus menjaga jarak.
***
__ADS_1
Satya yang sudah sampai di UKS itu langsung berlari menuju kekasihnya yang sedang makan buah jeruk itu tak lupa ia mengunci pintu UKS itu.
Satya menyatukan dua brangkar itu dan ikut naik ke atas brangkar lalu memeluk Beby.
"Kenapa kamu lari lari gitu?" tanya Beby dengan santai ia mulai menyuapkan buah jeruk itu ke mulut Satya.
"Kangen kamu," jawabnya mulai memeluk perut Beby dan menyandarkan kepalanya di belahan dada Beby.
"Lah gombal banget, aku tuh gak akan pernah kemakan sama gombalan kamu karena kalau kamu sudah gini minta yang lain."
Satya menatap Beby dengan senyum mengembang, Beby memang tahu apa yang ia inginkan.
"Pengen kawin beb," ucap Satya tiba tuba membuat Beny langsung menatap Satya bingung.
"Kawin? Disini? Dih gak banget, aku maunya di kamar bukan di UKS kayak gini," jawab Beby yang sepertinya salah tanggap dengan apa yang diucapkan oleh Satya.
"Beby sayang, bukan kawin yang itu. Kamu mah otaknya ngeres mulu, aku mau kita nikah kayak Tama dan Nafisah."
"Kita ini sudah terlalu jauh membuat dosa sayang, aku tak mau semakin lama membuat dosa lagi," ucap Satya yang sepertinya mendapat hidayah dari Tama tadi.
"Hais kamu ini habis kepentok apa? Kamu pikir nikah itu mudah apa? Nikah itu tak semudah yang kamu pikir. Banyak ujian yang akan datang kedepannya. Apalagi kita ini masih SMA. Tunggu berberapa tahun lagi sampai kita berdua sama sama siap," jawab Beby yang membuat Satya kesal tapi ia juga tak bsia membantah apa yang diingkan kekasihnya.
"Oke."
Mereka memang bukan anak anak baik yang selalu masuk saat jam pelajaran seperti anak baik baik. Tapi mereka juga anak muda, jiwa nakal mereka masih mendominasi apalagi mereka adalah anak anak yang paling berpengaruh di sekolah ini.
"Mau nen," pinta Satya yang membuat Beby menatap Satya tak percaya.
Baru berberapa menit lalu Satya tak ingin menambah dosa lagi. Tapi ini apa, baru juga berucap masa sudah lupa.
"Katanya dosa?"
"Aku udah kangen sama bola milikku ini, yang makin gede tiap harinya," jawab Satya mulai mengambil bola kesukaannya dan you know lah. Tya gak mau banyak ikut campur urusan mereka yang anu.
Bersambung
__ADS_1