
Happy reading
"Gak mau nengok Adik?" tanya Mama Riska yang seolah menggoda Papa Albert untuk menyentuhnya.
"Emang udah boleh jenguk adik? Bukannya belum dibolehin sama dokter," ucap Papa Albert mengelus lembut perut rata sang istri.
"Belum juga sih, kan Mama cuma nawarin Papa aja," jawab Mama Riska dengan senyum.
Papa Albert menggelengkan wajahnya, istrinya itu selalu saja menggodanya. Kadang kadang ia tak bisa menahannya jika sudah digoda dengan istrinya itu.
"Gimana kalau aku gak bisa nahan?" tanya Papa Albert dengan senyumnya mulai mengelus paha Mama Riska.
"Ya tinggal dikeluarkan apa susahnya?" tanya Mama Riska dengan beraninya malah merem** dada Papa Albert.
"Nih yang aku gak suka dari kamu, kumat lagi kan nakalnya. Jangan goda aku kalau kamu gak mau tanggung jawab," ucap Papa Albert menatap lembut Mama Riska.
Kapan sih Papa ganteng ini menatap istrinya tajam, tak akan bisa. Karena apa? Karena Papa Albert sangat mencintai istrinya ini. Bagiamana tidak cinta jika mereka sudah bersama sejak lahir. Bahkan menurut cerita Nenek dan Kakek Dewa dulu, Riska selalu nangis saat Mama Albert ingin membawa Albert pulang.
Dan lihatlah sekarang dua bayi itu sudah menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai. Bahkan keposesifan Papa Albert kini menurun pada Dewa yang notabene adalah anak pertama mereka.
"Harusnya aku yang minta tanggung jawab kami, ini hasil perbuatanmu loh," ucap Mama Riska menyentuh perutnya.
"Apa iya itu anak aku?" tanya Papa Albert ikute mendrama dengan sang istri. Entah kemana sifatnya yang dingin dan tegas.
"Kamu nanya? Kamu nanya ini anak kamu atau bukan? Sini aku jawab!"
Haduh sepertinya istrinya itu sudah mulai terkena syndrom toktok. Walaupun Mama Riska tak pernah mengunggah apapun di aplikasi itu tapi kegabutan Mama Riska ya hanya bisa menscroll aplikasi itu.
"Ini anak kamu, buah cinta kita berdua. Kamu gak mau ngakuin hah? Dasar suami d..."
__ADS_1
"Hayo kamu mau ngomong apa? Aku suami durhaka gitu?" tanya Papa Albert.
"Loh aku gak bilang loh ya, kamu yang bilang kalau kamu suami du..."
"Dasar istriku ini bisanya mengelak saja," gemas Papa Albert mencubit pipi istrinya yang ingin menggembung lagi karena nafsu makan istrinya sejak hamil ini sangat banyak.
Bahkan dimalam haripun Mama Riska juga akan memakan makanan yang ada di kamar mereka.
"Pah, kayaknya Satriya suka deh sama Dewi," ucap Mama Riska dengan posisi yang masih di pangkuan Papa Albert.
"Kok Mama tahu kalau Satriya suka sama Dewi? Jangan suudzon sama keponakan sendiri," ucap Papa Albert tak mau istrinya berprasangka buruk dengan Satriya.
"Dari tatapannya tadi, aku lihat Satriya mengagumi Dewi. Dan Dewi sepertinya risih dengan Satriya," jawab Mama Riska.
Papa Albert mengangguk saja ia tahu jika banyak laki laki yang mengungkap calon menantunya tapi ia tak bisa melepaskan Dewi begitu saja. Ia sudah terlanjur sayang dengan anak anak temannya itu. Bagi Papa Albert, Dewi adalah anugrah yang datang dalam hidup keluarganya.
Karena Dewi, Dewa bisa kembali ke jalan yang benar walau bandelnya masih ada. Karena Dewi pula, Mama Riska tak sedih lagi. Dulu Dewa sangat sangat jarang pulang ke rumah utama yang membuat Mama Riska sering kali bersedih.
"Gimana kalau sampai Satriya rebut Dewi dari Dewa, aku gak mau Dewi pergi. Aku gak mau Dewa kembali seperti dulu lagi," ucap Mama Riska dengan khawatir.
Tentu saja kebahagiaannya baru saja datang berberapa bulan ini karena Dewi. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Dewa jika Dewi pergi.
"Gak akan kok, Mah. Dewi pasti setia sama anak kita," jawab Papa Albert tersenyum mandinya.
"Percaya sama Papa."
Mau tak mau Mama Riska harus percaya dengan suaminya. Bukan ia tak suka dengan Satriya tapi Mama Riska takut anak dari kakaknya itu akan merebut Dewi dari Dewa. Seperti yang dilakukan kakak Mama Riska saat ingin merebut Papa Albert. Untung Papa Albert gak bisa disentuh sembarang orang.
"Adik mau di elus sambil baringan. Lagian Bibi belum selesai masaknya," ucap Mama Riska menyandarkan kepalanya di dada bidang Papa Albert.
__ADS_1
"Ohh anak Papa mau dimanja juga?" tanya Papa Albert menggendong tubuh istrinya menuju kasur.
Mama Riska tak menjawab tapi ia hanya tersenyum manis. Suaminya ini akan selalu sweet jika bersamanya tapi berbeda dengan wanita lain selain Naila, dan Dewi yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.
Mama Riska yang dibaringkan itu langsung mengambil bantal untuk suaminya. Sedangkan Papa Albert langsung membuka sedikit baju istrinya hingga memperlihatkan perut putih itu walau masih ada bekas jahitan saat Mama Riska melahirkan Naila dulu.
"Mungkin kamu sudah tak bisa lahiran normal lagi sayang, bekas jahitan kamu aja gak hilang walau sudah hampir kembali seperti dulu," ucap Papa Albert mengelus lembut perut itu.
"Gak apa apa yang penting anak kita bisa selamat sampai di dunia. Aku mau kamu punya anak banyak agar tidak sepi," ucap Mama Riska menumpuk tangannya di atas tangan suaminya.
Kenapa Mama Riska bilang seperti itu, karena sebelum mereka menikah Papa Albert selalu memiliki cita cita agar memiliki banyak anak. Tapi setelah kelahiran Naila dulu Papa Albert jadi trauma dengan kelahiran sesar istrinya.
"Tapi aku cuma mau kamu selamat itu aja gak lebih."
"Sudah jangan bahas masa lalu, aku gak mau kamu sampai membeda bedakan kasih sayang kamu sama Naila. Dia anak kita, buah cinta kita. Awas sampai aku tahu kamu ketus lagi sama dia. Asal kamu tahu ya Naila gak salah, tapi kita yang salah terutama kamu. Andai kalau kamu tidak menebar benih kamu dirahim aku."
"Jadi aku yang salah?"
"Bisa jadi seperti itu, Naila sudah banyak berkorban demi kita. Bahkan kamu tahu dia akan menginap di rumah temannya agar dia tak melihat kamu marah."
"Apa aku sekejam itu?"
"Iya kamu bahkan sangat kejam."
"Nanti kita ke kamar Naila. Aku gak mau dia semakin jauh sama kita, kamu juga sibuk terus jadi gak bisa mantau pekerjaan dan juga anak kamu."
Papa Albert mengelus perut istrinya dan memikirkan tentang putrinya itu. Memang benar jika dia jarang memberi perhatian pada Naila, tapi Papa Albert tak membenci Naila hanya sedikit kecewa saja. Padahal Naila tidak salah apapun.
"Sudah jangan sedih, aku tahu kamu juga sayang sama Naila tapi ego dalam diri kamu yang tak menyukainya."
__ADS_1
Mama Riska mengelus rambut Papa Albert yang sedang mengelus perutnya yang masih datar.
Bersambung