
Happy reading
Setelah adegan menyusu yang cukup lama tadi mereka tidak langsung bangun tapi masih dalam posisi memeluk tubuh masing masing. Dewa meluk perut Dewi sedangkan wajah dan bibirnya bermain di antara gunung gunung itu.
"Suka banget main main," ucap Dewi menutup tubuhnya agar tak kedinginan.
"Suka aja, lagian gak ada larangan juga."
"Larangan itu ada ayang. Kita belum jadi suami istri jadi apa yang kamu lakukan saat ini dosa dihadapan Allah," jawab Dewi dengan pelan.
"Tapi kamu juga menikmatinya kan?" goda Dewa seraya menoel pucuk ***a Dewi.
Sudah cukup Dewi malu dengan hal itu, Dewi menjauhkan kepala Dewa dari dadanya dan memakai kembali piyama miliknya.
"Sayang."
"Aku capek mau tidur. Masih ada berberapa menit aku mau bobok," ucap Dewi membalikkan badannya kemudian menarik selimut.
Dewa yang melihat kekasihnya memunggunginya itu kesal tapi ia juga tak bisa apa apa. Akhirnya ia pun ikut tertidur seraya memeluk tubuh Dewi dari belakang.
***
Dewi dan Dewa menuju kamar mandi masing masing karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi.
Dewa sempat melihat ke arah tumpukan kado yang kemarin bibi bawa ke kamarnya. Banyak memang tapi Dewa masih malas membuka semua hadiah itu.
Tapi ia sangat ingin membuka kado yang diberikan Naila untuknya. Pasti adiknya banyak mengeluarkan uang demi dirinya. Tapi ini sudah jam 6 lebih, bisa bisa terlambat nanti.
Ia langsung mengambil seragamnya yang ada di lemari. Dan juga kaos hitam yang selalu ia gunakan sebagai dalaman sebelum seragam.
Setelah berpakaian rapi Dewa menghampiri kekasihnya yang ada di kamar sebelah.
Dewa melihat Dewi sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. Rambut Dewi memang sangat indah jika habis di sisir, hitam pirang alami itu membuat Dewi semakin cantik.
"Udah apa belum?" tanya Dewa pada Dewi.
"Kurang pakai lipblam, bentar ya," ucap Dewi menyelesaikan menyisirnya dan mulai mengambil lipblam yang membuat bibirnya tak pucat.
"Ayang sini deh bentar," panggil Dewi pada Dewa yang sedang duduk di kasurnya itu.
__ADS_1
Dewa yang dipanggil itu langsung menghampiri Dewi dan Dewi mulai mengambil lotion dan membalurkannya di kedua tangan Dewa.
"Kenapa?"
"Kamu kan jarang pakai lotion, nanti kulit kamu kusam lagi," jawab Dewi dengan senyum kemudian menyingkap sedikit celana panjang Dewa dan menggosok kaki Dewa dengan lotion.
"Kan kalau gini jadi wanginya natural," jawabnya dengan senyum.
"Aku udah wangi kok, habis pakai parfum dari kamu. Jadi gak usah pakai lotion aku udah wangi," jawab Dewa tanpa beban.
Dewi menggelengkan kepalanya, walau Dewa juga selalu memperhatikan perawatan wajahnya. Tapi kadang kala Dewa selalu bodo amat kalau Dewi tidak memaksanya.
"Aku tahu kok kalau kamu selalu wangi walau habis bangun tidur," jawab Dewi mencium aroma tubuh Dewa yang memang wangi khas anak laki laki.
Setalah itu mereka turu dari kamar bersamaan dengan Naila dan Louis yang hari ini juga sudah masuk sekolah.
Sampainya di ruang makan, Dewa dan Dewi langsung mengambil makanan untuk mereka sarapan. Mama dan Papa juga entah kenapa sudah cantik dan tampan saja. Apa mereka ingin pergi?
"Tumben sudah rapi Mah, Pah. Kalian mau kencan? Tapi Papa kok pakai jas?" tanya Dewa pada kedua orang tuanya.
"Mama kamu mau ikut ke kantor, padahal biasa bisanya gak pengen ikut. Mungkin adik kalian yang mau ikut Papanya ke kantor."
"Nanti Naila sama Louis bareng Papa dan Mama aja ya. Kalau ikut kak Dewa, Papa takut kalian terlambat," ucap Papa Albert menyuapkan udang yang sudah dikupas lagi.
"Iya Pah. Naila juga sudah lama tak diantar Papa dan Mama. Kadang Naila juga kasihan kalau Kakak yang antar, karena arahnya tak searah," jawab Naila dengan senyum manis hingga lesung pipi Naila yang jarang terlihat kini nampak manis di Naila, karena efek sedang senang karena Papa dan Mamanya mau mengantarkannya.
Hati Mama Riska kembali berdenyut saat mendengar ucapan Naila. Apa selama ini ia kurang perhatian pada Naila yang masih berusia 13 tahun ini?
"Mama dan Papa akan sering sering antar kamu kok sayang. Jadi kamu tenang aja hmm," ucap Mama Riska mengelus pucuk kepala anak perempuannya.
"Makasih mah."
Louis yang sedari tadi diam langsung menendang kaki Dewi. Dewi yang ditendang itu langsung menoleh.
"Kenapa?"
"Mama sama Papa kapan pulang?" tanya Louis. Jujur anak laki laki itu juga merindukan kedua orangtuanya tapi Mama dan Papa mereka tak juga pulang.
"Sabar mungkin 5 hari lagi mereka pulang. Kenapa? Kangen ya?" tanya Dewi menggoda adiknya.
__ADS_1
Ia tahu Louis juga termasuk anak Mama, jadi saat berjauhan dengan Mama Louis akan sangat rindu. Apalagi ini sudah kali ke empat Louis bertanya kapan pulang. Bahkan Dewi juga tahu jika adiknya itu setiap malam menelepon Mama kandungnya.
Setelah selesai sarapan mereka mulai menuju kendaraan masing masing. Hari ini sudah waktunya mereka berangkat sekolah.
***
"Sayang, anak anak kemarin ngajak main basket nanti kalau gak hujan. Tapi aku juga ingat ada kamu yang harus aku antar pulang," ucap Dewa menatap kekasihnya yang sedang bermain hp itu.
"Aku juga mau ke mall sama teman teman. Biasa anak cewek," jawab Dewi yang tahu apa yang dimaksud Dewa.
"Oke, aku izinin. Tapi sekali kalilah kamu beli sesuatu kalau ke mall. Padahal aku juga sudah memberi kami uang saku tapi tak pernah kamu pakai, padahal itu juga sudah jadi milik kamu," ucap Dewa heran.
Dewa tahu kebiasaan Dewi saat ke mall, yah gadisnya itu hanya akan jalan jalan saja melihat barang barang baru yang baru saja ada disana. Tanpa niat membeli jika tidak butuh sama sekali, kadang Dewa bingung apa Dewi bulan spesies perempuan suka shopping?
Sejak 4 bulan yang lalu, Dewa sudah memberikan kartu ATM sendiri untuk Dewi. Ia juga selalu mentransfer uang ke rekening itu. Tapi dari transaksi yang ia lihat belum ada penarikan ataupun yang lain.
"Gini ya Ayang. Kita ini masih tunangan jadi kamu belum ada kewajiban untuk menafkahi aku. Aku masih tanggung jawab Papa, jadi kamu gak usah khawatir dengan uang yang ada di ATM. Itu bakal jadi investasi buat anak anak kita nanti," jawab Dewi dengan senyum manisnya.
Dewi selalu saja bisa membuat dia berkali kali kagum dengan apa yang dipikirkannya. Padahal yang namanya perempuan pasti akan suka dengan yang namanya shopping tapi Dewi apa? Dewi hanya minta makan saja saat pergi dengan dia.
"Tapi aku mau kamu pakai kartu yang aku kasih. Walau isinya gak banyak tapi aku ingin meringankan beban Papa," jawab Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.
"Nanti deh aku pakai."
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukk....
Judul Karya: My Baby Hidden
Author: Dira61
Nara Kumaira 16 thn, terlahir kaya raya namun setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, hidupnya berubah drastis. Yang awalnya bergelimpangan harta dan kebahagiaan, mendadak Nara jatuh miskin dan berakhir dilecehkan orang misterius.
Ia pun mengandung anak dan merelakan pendidikannya. Namun setelah anak itu dilahirkan, Nara mendapat kesempatan bersekolah kembali. Ia pun menerimanya dan terpaksa menyembunyikan identitas bayi kecilnya.
Namun seiring berjalannya waktu, rahasia terbesarnya terbongkar. Ia pun tidak sangka ayah dari anak yang dia lahirkan ternyata cowok yang selama ini berada di sampingnya dan rupanya baby Alan adalah cucu dari keluarga konglomerat.
__ADS_1