Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Ke Belanda


__ADS_3

Happy reading


Sampailah mereka di rooftop restoran. Dewa langsung menatap Dewi yang ada di depannya.


Tangannya kini mulai menggenggam tangan Dewi. Ia tak tahu bagaimana reaksi Dewi nanti yang pasti ia akan menerima apa yang akan di katakan Dewi nantinya.


"Apa?"


"Minggu depan aku harus ke Belanda," ucap Dewa yang membuat Dewi terdiam.


Apa ini artinya Dewa akan meninggalkannya ke Belanda? Bukan Dewi tak senang tapi bagaimana jika nanti Dewa terpikat oleh cewek cewek cantik disana.


"Kamu ke Belanda? Minggu depan? Kenapa bilangnya baru sekarang?" tanya Dewi dengan sendu.


Ingin menangis tapi buat apa? Dewa tak akan tetap tinggal walau ia nangis kejer.


"Aku ingin bilang sama kamu tapi aku selalu gak ada waktu yang tepat. Aku gak mau membuat kamu sedih, aku hanya ingin kamu tetap tersenyum."


"Aku juga tak bisa menolak keinginan kakek karena aku adalah satu satunya cucu laki laki mereka."


Dewi yang mendengar itu tersenyum tipis, ia tak mau menangis karena ini memang yang terbaik untuknya.


"Aku akan sering sering ke Indonesia kok sayang. Aku gak akan disana terus."


"Hahaha."

__ADS_1


"Kenapa kamu kok takut gitu? Takut aku marah ya?"


*Memang kamu gak marah?" tanya Dewa menatap wajah cantik Dewi.


"Aku gak marah, aku pikir memang ini yang terbaik buat kamu dan juga aku. Kita akan melewati sesi sebelum akhirnya kita bersama sebagai suami istri. Kesetiaan dan kejujuran kita akan diuji dengan adanya kamu ke Belanda."


Mendengar jawaban Dewi malah membuat Dewa sedih. Ia tak percaya jika Dewi akan memiliki pemikiran yang dewasa seperti ini.


Dewa memeluk tubuh Dewi dengan erat. Ia ingin menolak perkataan Kakeknya tapi ia harus bagiamana.


Dewi membalas pelukan Dewa dengan tangan yang mengusap punggung Dewa yang sangat lebar itu.


"Harusnya aku yang sedih, kok malah kamu yang nangis?" tanya Dewi menggoda Dewa yang sepertinya menangis.


"Aku tak mau kehilangan kamu."


"Kamu ikut ke Belanda ya," ucap Dewa pada Dewi yang sedang memeluk dirinya itu.


"Aku mau di Indonesia aja. Lagian aku juga gak mau tinggalin orangtua dan orangtua kamu ayang. Mereka udah jadi keluarga aku," jawab Dewi dengan senyum manisnya.


Bukannya ia tak mau ke Belanda tapi ia memikirkan bagaimana nanti jika ia pergi.


"Kamu gak jadi ke Jepang?" tanya Dewa yang tahu jika Dewi sangat ingin ke Jepang karena nenek dari Mama Karin orang sana.


"Nenek bakal ke indo berberapa bulan lagi. Dan akan menetap disini, kan kakek udah gak ada. Saudara saudara Mama juga udah mencar," jawab Dewi dengan senyum manisnya membuat Dewa mengangguk.

__ADS_1


"Jadi kamu ikhlas biarin aku ke Belanda?" tanya Dewa lagi dengan wajah melas.


Ia berharap Dewi bisa ikut atau paling enggak Dewi tak membiarkan dirinya pergi karena ia tak bisa tanpa Dewi saat ini.


"Kamu pergi aja gak apa apa. Kakek kamu kangen sama kamu makanya nyuruh kamu kuliah disana."


Dewa sudah tahu jika akhir dari perbincangan mereka adalah Dewi yang mengizinkan ia untuk tetap berangkat ke Belanda.


"Udah jangan sedih, kita masih ada hp buat komunikasi," ucap Dewi dengan senyum manisnya.


"Gimana kalau mau peluk kamu?" tanya Dewa.


"Yah nanti kita peluk, cium, apa apa harus virtual kalau enggak kamu pulang bentar ke Indonesia," jawab Dewi mengecup tangan Dewa. Untung gak bau terasi tangan laki itu.


Akhirnya Dewa mengangguk ia masih ada waktu satu Minggu untuk bersama.


"Satu Minggu ini kamu harus tidur terus di apartemen aku gak boleh nolak. Aku gak mau nanti aku nyesel karena gak bisa peluk dan cium kamu sepuasnya."


"Iya."


Kenapa Dewa tak memutuskan untuk menikah saja? Rasanya ia lebih tak sanggup jika harus meninggalkan Dewi di awal mereka menikah. Apalagi jika Dewa ingin membawa Dewi ke luar negeri pasti gadis itu gak mau.


Surat surat dan segala perlengkapan untuk ke Belanda sudah disiapkan oleh Papa Albert. Hanya tinggal berangkat saja, tapi Dewi pasti akan sedikit susah apalagi sekarang musim orang orang mau ke luar negeri juga. Entah itu kerja atau kuliah.


Tamat

__ADS_1


Tunggu season 2 yak.


__ADS_2