Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Jatah Susu


__ADS_3

Happy reading


Hari yang tadinya sore kini sudah malam. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih 35.


Berarti mereka sudah lebih dari 2 jam di depan televisi itu. Tadi Dewi memang ingin melihat drama Korea yang baru baru ini rilis di Chanel tv Korea.


Dewa yang berbaring di paha Dewi itu membuka mantannya saat Dewi menutup televisi yang sedari tadi menemani mereka yang sedang ngobrol di sana.


Yah karena sedari tadi mereka tak fokus pada televisi yang menyala. Tapi mereka asik mengobrol dengan menceritakan apapun yang ingin mereka keluarkan. Tapi jika kalian tanya apakah Dewa sudah bilang soal mantannya tadi. Jawabannya bel, ia belum berani membuka luka lamanya.


"Udah mau tidur?" tanya Dewa pada Dewi yang hanya mengangguk.


Jujur sejujur jujurnya Dewi baru berasa lelah sekarang. Padahal tadi ia terlihat baik baik saja, bahkan lelahnya tak terlalu terasa.


"Ya sudah aku gendong aja ya ke kamar."


Dewi hanya pasrah karena apa? Karena ia juga sudah sangat lelah yang berefek pada ngantuk.


Saat digendong Dewa ia pun mulai menutup matanya dan menjatuhkan kepalanya di dada Dewa yang menggendong tubuhnya.


Dewa berjalan menuju kamarnya, ia juga masih menggendong tubuh Dewi yang sudah tertidur itu. Bahkan Dewa mengecup kening dan bibir Dewi berberapa kali saat disana.


Sampainya di kamar, Dewa langsung membaringkan tubuh Dewi di kasur empuk itu. Ternyata Dewi sudah tidur dengan sangat nyenyaknya.


Dewa tak tega jika harus membangunkan Dewi hanya karena dirinya. Sebenarnya ia juga ngantuk, karena sedari pagi ia tak bisa istirahat banyak.


Akhirnya Dewa ikut naik ke atas kasur dan memeluk tubuh Dewi yang sangat ia rindukan seharian ini. Mungkin ia akan menunda jatah susunya jika seperti ini.


Lagipula masih ada hari esok untuk meminta susunya lagi.


"Sayang aku juga mau dipeluk," bisik Dewa yang membuat Dewi berbalik dannmemekuk perut kotak kotak Dewa.


Akhirnya tanpa ba bi bu lagi. Mereka langsung tertidur dengan posisi saling berpelukan. Terlaku banyak rencana tapi lelah yang emreka rasakan terasa saat malam hari. Dan itu benar adanya.


***


Tik! Tak! Tik! Tak!Tik! Tak!


Tak terasa hari sudah mulai menjelang pagi. Jam juga sudah menunjukan pukul 3 pagi. Entah kenapa Dewi terbangun dari tidur yang sangat nyenyak itu, ia merasakan tangan kekar sedang memeluknya.


Tapi yang membuat dia geli adalah posisi Dewa yang mengangkat kaki ke perutnya. Selama memeluk dengan posesif agar ia tak kabur dengan tangan yang sudah masuk ke dalam baju.


"Dasar, pacar aku," gumam Dewi menatap wajah tenang Dewa.


"Gak terasa umur kamu udah 19 tahun aja. Kamu sudah makin besar aja pacar aku ini. Bahkan aku aja masih 18 tahun," ucap Dewi dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Semoga dihari bertambahnya usia kamu ini, kamu bisa menjadi laki laki yang lebih dewasa dan bisa lebih bertanggung jawab lagi kedepannya. Aku berharap kamu juga bisa terus setia sama aku," tambahnya seraya mengelus rambut Dewa dengan lembut.


Dewa yang sebenarnya sudah bangun itu juga mendengarkan apa yang diucapkan Dewi padanya. Tapi ia ingin lebih mendengar apalagi yang diucapkan Dewi selain itu.


Ia juga ingat jika sore kemarin Dewi tak mengucapkan kata kata seperti kebanyakan orang.


"Aku memang wanita yang beruntung bisa mendapatkan kamu. Selain tampan kamu juga sangat baik pada keluargaku. Mungkin kekayaan kamu adalah bonus untuk aku."


"Aku senang juga karena kamu sudah lepas dari jeratan masa lalu kamu. Walau aku tidak tahu banyak apa yang terjadi hingga kamu trauma pada perempuan?"


"Tapi intinya aku mencintaimu Dewa, aku bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga ini."


"Love you more sayang," jawab Dewa dengan suara seraknya.


Deg


Suara serak serak basah milik Dewa membuat Dewi langsung menatap mata Dewa. Benar ternyata Dewa sudah bangun dan sedang menatapnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Dewi sedikit terkejut dengan bangunnya Dewa.


Apa Dewa mendengar apa yang ia ucapkan tadi? Jika iya pasti ia juga mendengar ucapan cinta dari Dewi tadi.


"Hmm," jawabnya Dawa berdehem saja karena ia masih ngantuk. Tapi tangannya semakin memeluk erat tubuh Dewi.


"Sejak kamu mengelus rambut aku, tapi aku masih ngantuk jadi aku gak buka mata," jawab Dewa yang membuat Dewi memerah.


Jadi kekasihnya ini mendengar semua yang tadi ia ucapkan?


"Kenapa gak bilang kalau udah bangun. Aku berasa jadi orang bodoh karena ngomong sendiri," ucap Dewi kesal agar bisa menutupi raut malunya.


"Kamu cantik kalau lagi malu gitu. Pengen makan jadinya," ucap Dewa mengelus punggung Dewi yang polos karena pengait br*nya sudah ia lepas tadi malam.


"Ihh jangan mengalihkan pertanyaan. Kenapa kamu gak bilang kalau udah bangun?"


"Biar kamu bisa leluasa mengucapakan apa yang ingin kamu katakan. Aku juga ingin mendengarnya," jawab Dewa.


"Ihhh kamu mah."


"Gak apa apa sayang, aku senang kamu memberikan doa buat aku. Dan kamu tenang aja aku akan setia sama kamu. Kamu adalah jiwaku sekarang."


"Maaf belum bisa menjelaskan tentang masa laluku," tambahnya.


"Aku paham, dan aku tak akan membuka luka lama kamu. Aku akan menunggu sampai kamu siap menceritakan semuanya padaku," jawab Dewi mengelus rambut Dewa lagi.


Dewa selalu bernada lirih saat mengingat masa lalunya. Dewi juga kepo dengan masa lalu Dewa, pernah ia menyelidiki tentang mantan Dewa itu tapi ia tak menemukan apapun.

__ADS_1


"Hmmm."


"Ayang tadi malam kan aku gak ambil jatah aku. Aku mau pagi ini," ucap Dewa menatap Dewi yang juga sedang menatapnya.


"Masih ingat aja soal jatah," ucap Dewi menyentil kening Dewa yang sangat mulus bak jalan tol. Walaupun keningnya juga tak kalah mulus.


"Harus ingat, kan vitamin mulai Minggu kemarin," jawab Dewa dengan senyum menggodanya.


"Iya deh terserah masnya yang mau ny***," jawab Dewi mencubit pipi Dewa dengan senyum manisnya.


"Jadi boleh ya?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.


Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari Dewi, Dewa langsung membuka kancing piyama Dewi yang sudah ia buka atasnya.


"Dadaku kecil ya?" tanya Dewi menatap dadanya sendiri yang bisa terbilang lumayan. Tapi kenapa Dewi bilang kecil.


"Kecil apanya? Segini kecil besarnya segimana hmm?" tanya Dewa memainkan pucuknya itu.


"Kayak milik Dessy," jawab Dewi dengan senyumnya. Ada gelenyar aneh saat Dewa mengecup dadanya itu.


"Itu karena dia lagi menyusui sayang, makanya besar banget. Aku malah gak suka yang besarnya kayak punya Dessy. Aku sukanya punya kamu," jawab Dewa menatap dada kekasihnya.


"Emang kenapa suka punyaku? Kan baru dua kali kamu lihat," tanya Dewi pada Dewa.


"Pas aja digenggaman aku dan juga gak kebesaran di mu*ut aku," jawabnya dengan ful***.


"Dasar," ucap Dewi mengelus rambut Dewa.


Dewa yang layaknya anak kecil itu sudah mulai menyu*u di dadanya. Sepertinya mulai saat ini Dewi akan memiliki bayi besar yaitu Dewa.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya judulnya Anyelir karya Hilmiath


Blurb↓


Anyelir adalah bunga paling kuat yang dapat bertahan selama dua minggu setelah di letakkan dalam vas bunga, bahkan bunga ini akan semakin terbuka kelopak nya saat berada lama di vas bunga.


Begitulah sang pemeran utama dalam kisah ini. Tentang dia gadis kuat yang berusaha terlihat baik-baik saja di tengah luka yang di alaminya. Tanpa siapa yang tahu jika gadis tersebut memiliki gangguan Psikologis Self Injury.


Setelah di hancurkan oleh keluarganya yang brokenhome gadis tersebut juga di hancurkan olah orang yang di cintainya. Tidak berhasil dalam percintaan memang, tapi ia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya.


"Akulah pemeran utama ini, pemeran utama yang hanya menjadi pemeran figuran untuk dia yang ku anggap akan menemaniku dalam setiap jalan kisahku,"


__ADS_1


__ADS_2