Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Godaan Setan


__ADS_3

Happy reading


Keesokan harinya.


Hari ini adalah hari libur jadi Dewi pagi pagi sudah datang ke rumah sakit tak lupa Dewi membawa bunga mawar satu tangkai.


"Udah ingat aku?" tanya Dewi saya Dewi sudah berada di depan Dewa yang juga mentapnya.


Sebenarnya Dewa gemas dengan Dewi yang setiap hari menanyakan hal yang sama saat bertemu. Udah ingat aku? Itulah yang selalu ditanyakan Dewi.


Dan sama Dewa hanya menjawabnya dengan gelengan hingga membuat Dewi menunduk. Sampai kapan Dewa akan mengingatnya.


"Ya sudahlah kamu mau makan apa? Kata dokter kamu sudah boleh makan makanan lain selain bubur?" tanya Dewi yang tak mau menelantarkan kekasihnya hanya karena sedih.


"Susu aja," jawab Dewa yang sebenarnya memiliki artian lain. Dewa mengingkan susu Dewi yang sejak di puncak itu sudah menjadi candunya.


"Susu yang mana nih? Susu yang asli atau yang palsu?" tanya Dewi yang memiliki ide iseng aja pada Dewa. Siapa tahu setelah ini Dewa bisa ingat.


"Yang asli boleh," jawab Dewa yangs ketika lupa jika ia sedang amnesia.


Godaan duniawi memang membuat ya tersesat, hingga membuat Dewa mau tak mau harus jujur jika ia menyukai susu Dewi.


Dewi melihat sekitar dan mulai berjalan menuju pintu itu kemudian menguncinya. Dewa yang memang dasar otaknya mesum itu langsung memberikan ruang untuk Dewi naik ke kasur itu.


Walau kepalanya masih sedikit pusing tapi bibir dan tangannya baik baik saja.


Dewi yang melihat itu sepertinya menyadari sesuatu yang janggal. Kenapa Dewa seakan tahu akan apa yang ada di pikirannya. Kan Dewa sedang amnesia.


"Ayo naik."


Dewi yang masih bingung itu langsung naik ke atas ranjang itu dan menghadap Dewa yang masih sedikit pucat.

__ADS_1


"Jawab aku sekali lagi. Kamu ingat aku kan?" tanya Dewi dengan penuh penekanan.


Dewa yang ditanya itu hanya bisa tersenyum tak menjawab. Ia malah menarik baju Dewi sedikit dan melepaskan baju itu dengan pelan. Dewi akhirnya melepaskan baju yang ia pakai.


"Aku mau ini dulu, nanti aku jawab ya," ujar Dewa menujuk dada Dewi yang memiliki ukuran sama seperti gadis remaja normal hanya kelebihan sedikit.


Dewa mengeluarkan pepaya itu dari batoknya dan dengan pelan ia menyandarkan tubuh Dewi di sisi ranjang.


Dewa mulai mendekatkan bibirnya untuk meminum susu itu, walau tak ada yang keluar tapi hal itu malah membuat Dewa semakin bersemangat.


"Sshhh sakit," gumam Dewi meringis pelan.


"Maaf sayang."


Deg


Rasanya sama seperti Dewa yang tak amnesia, jika ia merasa sakit Dewa pasti akan mengatakan maaf sayang kemudian melanjutkan apa yang menjadi kebiasaannya.


Plup


Dewa menatap Dewi yang sepertinya kecewa dengan dirinya. Ia tak sanggup melihat wajah Dewi yang sangat menyedihkan seperti ini.


Akhirnya Dewa memilih untuk jujur saja, ia tak mau tersiksa terlalu lama karena Dewi yang tak bisa ia sentuh.


"Aku sempat amnesia kemudian aku ingat lagi setelah Papa menceritakan semuanya. Dan pagi itu aku memiliki rencana untuk memberikan kamu kejutan saat ulang tahu kamu 4 bulan lagi. Tapi sepertinya aku gagal, aku tak bisa berlama lama mendiamkan kamu seperti ini. Aku kangen semua yang ada pada diri kamu," jawab Dewa dengan serius.


Dewi mencoba mencari kebohongan yang ada di mata Dewa tapi tak juga ia temukan. Akhirnya pertahanan Dewi hancur sudah, ia menangis karena merasa dibohongi oleh Dewa seperti ini.


"Aku takut kamu tak lagi mengingat aku."


"Aku akan selalu mengingat kamu sayang. Jangan khawatir ya, bahkan setiap malam aku selalu rindu dengan pelukan kamu. Aku kesepian tidur sendiri disini."

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua saling memeluk dengan tangis Dewi yang mulai mereda. Ia tak mau membuat baju dewa basah karena dirinya.


"Jangan nangis, melihat kamu gini buat kepalaku pusing lagi. Jadi kamu harus tetap tersenyum dan bahagia. Aku akan cepat sembuh kalau kamu disisinku terus."


"Nanti aku pijit kalau kamu sudah sembuh."


"Heem aku tunggu tapi untuk pagi ini aku mau susu asli yang tadi kamu tawarkan ke aku," jawab Dewa dengan senyum mesumnya.


"Sini sini, kalau kamu sembuh aku akan menambah jatah susu buat kamu. Satu Minggu tiga kali," jawab Dewi yang membuat Dewa makin bersemangat.


"Bener ya tiga kali,'' ujar Dewa dengan wajah berbinar.


"Iya asal sama aku aja jangan sama Cleo," ujar Dewi yang membuat Dewa tertawa. Kekasihnya ini bisa saja membuat ia tersenyum.


"Aku hanya bercanda sayang, tak mungkin aku menghianati cintaku ini hanya karena cewek murah seperti Cleo."


"Aku gak tahu ada apa kamu sama Cleo dulu. Tapi aku mau kamu sama aku terus gak boleh sama yang lain," ujar Dewi posesif kemudian menarik pelan tengkuk leher Dewa agar mengarah ke dadanya.


Akhirnya di pagi itu Dewa dan Dewi menikmati kembali pelukan dan usapan lembut masing masing. Bahkan Dewi sedari tadi tak bisa menghentikan senyum manis dari bibir indahnya itu.


Dan yah seperti biasa godaan setan selalu membuat mereka lupa waktu jika saat ini sudah pukul 8 pagi. Sudah waktunya sarapan hingga membuat suster yang mengantar makanan harus menunggu di luar.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk judulnya ada di bawah ini↓↓↓


Judul: Menjemput kembali hidayah yang terhempas


Karya: Alinatasya21


Tsamirah Zahrana Az Zahra adalah seorang gadis Desa berparas Ayu penuh dengan pesona yang mampu membius kaum Adam bertekuk lutut di hadapannya dan berlomba-lomba untuk memantaskan diri mendapatkan Cinta dari Seorang Zahrana. Satu persatu kaum Adam datang silih berganti dalam kehidupan Zahrana, berawal dari ia duduk dibangku SMP. Sampai akhirnya ia lulus pendidikan SMK akhir dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya, ia memilih bekerja dan mencari Jati dirinya.Ia berjuang untuk bisa menjadi seorang Muslimah yang di Ridhoi Allah, namun siapa sangka di tengah proses Hijrahnya dia jatuh hati dengan seorang laki-laki bernama Muhammad Zaid Arkana, hingga ia terjerat dalam lumpur dosa yg tak berkesudahan dan melemahkan biduk iman dan kesucian hati Zahrana. Akankah Zahrana berjodoh dengan Muhammad Zaid Arkana atau akan hadir sosok Pria lain yang akan menjadi sosok Cinta Sejati Zahrana? mari simak kisahnya dalam novel Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas!

__ADS_1



__ADS_2