Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Dalang Dari Tersebarnya Video


__ADS_3

Happy reading


Cup


Dewa mencium bibir Dewi dengan lembut, bibir yang selalu membuat candu Dewa itu ingi selalu dan selalu ia cium.


Tidak ada paksaan dalam ciuman mereka, bahkan Dewi dengan pelan juga membalas ciuman dari Dewa. Mereka hanya mengikuti naluri sebagai seorang pasangan saja tidak lebih. Bahkan Dewa juga yang mengajarkan Dewi tentang ciuman, sebelum Dewi adalah gadis polos walau dia terlihat bar bar dan ceria di setiap orang yang ia temui.


"Eughhh," le*uhan itu terdengar sangat se*si di telinga Dewa.


Tangan Dewa yang hampir saja menyentuh dada Dewi itu langsung terhenti oleh suara laki laki yang menganggu kesenangan mereka.


"Woy!! Ngapain lu berdua disana hah?" teriak Satya dari bawah. Karena jaraknya juga tak terlalu jauh hingga bisa membuat Satya dan Beby melihat apa yang mereka lakukan di sana.


"Ck ganggu aja sih," ujar Dewa mengeluarkan tangannya dari dalam hoodie Dewi.


Dewi tersenyum dan memeluk Dewa dengan erat, ia akan selalu malu setelah Dewa mencium bibir pink milik Dewi.


"Sudah jangan marah, mungkin mereka memang ada urusan yang penting hingga datang kesini," ucap Dewi mengelus dada Dewa.


"Tapi mereka ganggu sayang, aku belum puas tahu," jawab Dewa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dewi dengan lembut.


"Woy! Kalian ini kenapa masih pelukan di sana hah? Bukain pintunya, pacar gue kepanasan nih," ujar Satya yang masih melihat kebucinan bosnya dari atas.


"Ini gak panas Satya jangan lebay," jawab Dewa menatap tajam Satya.


Akhirnya keduanya itu memutuskan untuk masuk dari balkon dan menemui Satya yang ada di ruang tamu. Dewi juga ikut serta karena Dewa tak mau menjadi obat nyamuk karena Beby dan Satya sangat tidak tahu tempat jika bermesraan.


"Satya mau ngapain sore sore kesini?" tanya Dewi penasaran.


"Gak tahu, nanti kalau kita sudah sampai di bawah kita tanya," jawab Dewa dengan senyum nya tanpa mau menjawab apa yang ditanyakan Dewi. Karena dia sudah tahu ada urusan apa Satya kesini.


Sampainya di lantai bawah, Dewa melihat Satya dan Beby di ruang tamu.

__ADS_1


"Beb besok pagi jadi?" tanya Satya.


"Jadi dong, kan kamu juga udah janji.


"Mau kemana?" tanya Dewa yang sudah sampai di sudah sampai di sana.


"Biasalah anak muda," jawab Satya.


"Hais, jangan jawab gitu. Kan gak seru kalau cum nka berdua," ucap Beby pada kekasihnya.


"Besok kan udah libur, dan kita rencana mau ke puncak vila tempat nenek Beby yang sudah meninggal. Nah kita berangkatnya besok pagi dan pulangnya lusa sore," jawab Satya dengan jujur.


"Nah iya, terus kalau berdua kan gak seru. Rencananya kita mau ajak kalian, sekali kali kita healling sebelum ujian sekolah. Pasti setelah ini kita gak ada waktu lagi buat liburan," ucap Beby dengan antusiasnya. Karena selain ingin liburan Beby juga ingin ke makam Neneknya.


"Gimana yank? Mau ikut mereka ke puncak?" tanya Dewa pada Dewi.


Dewi masih memikirkan ajakan teman temannya ini. Pemandangan di puncak pasti lebih bagus. Tapi ia tak bisa meninggalkan Louis di sini sendiri, ia masih tak enak dengan Mama Riska dan Papa Albert.


"Aku belum tahu, nanti aku hubungi kalian tentang keputusanku dan Dewa," jawab Dewi yang masih bingung dan mereka mengangguk. Sedangkan Dewa hanya tersenyum, ia yakin banyak pertimbangan untuk Dewi mengiyakan ajakan Beby tadi.


"Mau bawa Mama sama Papa juga boleh kok, di sana kamarnya ada banyak," jawab Beby dengan senyum.


"Hmm."


"Gimana?" tanya Dewa pada Satya.


"Dalang dari tersebarnya video itu adalah Vivi, Dew. Adik dari Adam itu menaruh suka pada lu dan membenci Dewi karena sudah merebut kamu dan juga menolak kakaknya."


"Aku juga sudah lihat CCTV dimana kamu dan Dewi berciuman, dan disana Vivi juga merekam kalian berciuman," jawab Satya memberikan bukti CCTV yang sudah ia ambil dari sekolah.


"Vivi? Vivi adiknya Adam? Suka sama Dewa? Tapi kenapa aku gak tahu, bahkan Adam tak pernah cerita kalau dia punya adik," ucap Dewi syok mengetahui hal ini.


Ia baru saja tahu jika ketua OSIS SMA Lentera Bangsa memiliki seorang adik, dan adiknya itu menyukai Dewa?

__ADS_1


"Kamu dekat banget sampai bilang gitu," ujar Dewa menatap Dewi. Seakan akan Dewi itu dekat sekali dengan Adam bahkan sampai cerita cerita segala.


"Aku gak dekat sama Adam, kan kita satu organisasi jadi aku sedikit tahu bahkan dia sering cerita sama aku tapi aku gak tanggepin dia kok," jawab Dewi dengan jujur.


"Awas ya yank, kalau kamu sampai ada apa apa sama dia? Bukan cuma kamu yang aku hukum tapi dia juga akan merasakan bagaimana rasanya disiksa seorang ketua gangster seperti aku," sepertinya Dewa tak main main dengan ucapannya.


"Enggak kok aku gak kayak yang kamu pikirkan kok."


"Terus dimana dia sekarang?" tanya Dewa pada Satya.


"Hari ini dia gak masuk dan Adam, sepertinya dia juga kaget saat tahu jika video itu tersebar," jawab Satya lagi.


Sebelum Dewa menjawab, tiba tiba Bibi menyuguhkan minuman dan cemilan untuk mereka.


"Dimakan den," ucap Bibi ramah.


"Makasih ya Bi, tahu aja kalau kita juga haus," ucap Satya dengan tak tahu dirinya langsung meminum jus jeruk yang di bawa bibi tadi.


"Honey, tahu diri dikit lah. Ini tuh rumah orang," ucap Beby mencubit lengan Satya.


"Sakit Beb, kamu mah penganiayaan," ujar Satya mengelus lengannya yang panas karena cubitan Beby.


"Makasih ya Bi," ujar Dewa pada Bibi dan di balas anggukkan oleh bibi. Bibi pamit undur diri, meninggalkan mereka berempat disana.


Akhirnya mereka melanjutkan pembahasan mereka, Dewi? Jangan ditanya ia sangat sakit hati dengan kenyataan ini. Ia ingin menangis lagi tapi ia tahan karena tak mau dibilang cengeng oleh Dewa dan teman temannya.


Dewa menggengam tangan Dewi seraya mengelusnya. Tanpa menunggu dua kali Dewi memeluk tubuh Dewa dengan erat.


"Kalian tunggu disini dulu, mau apa aja juga terserah sekalian makan malam nanti," ucap Dewa pada keduanya.


"Enggak deh Dew, gue sama Beby mau pulang. Sekalian jalan jalan nanti," jawab Satya menatap lembut kekasihnya.


Beby dan Satya pulang hingga menyisakan Dewi dan Dewi yang masih saling memeluk.

__ADS_1


Cup


Bersambung


__ADS_2