
Happy reading
Malam harinya ternyata hujan sangat lebat hingga membuat luapan air disekitar rumah itu tinggi.
Dewi yang sedang duduk di depan tungku perapian yang berada di kamarnya. Ia tak kedinginan jika seperti ini.
Ceklek
Dewi yang sedang bermain ponsel itu langsung menoleh ke sumber suara pintu dibuka itu. Dewa membuka pintu yang berhubung dengan kamarnya.
"Kok belum tidur?" tanya Dewi pada Dewa yang kini duduk dibelakangnya dengan memeluk tubuh Dewi dari belakang.
"Masih jam 9, belum ngantuk. Aku jadi ingat kamu kalau hujan gini," jawab Dewa meletakkan dagunya di bahu Dewi.
Rasa hangat dari perapian itu membuat Dewa betah lama lama disana. Apalagi ada Dewi yang bisa ia peluk.
"Kayaknya sekolah banjir deh Ay," ucap Dewi memperlihatkan story teman temannya yang bilang jika kawasan sekolah itu banjir.
"Besok sekolah apa enggak?"
Jujur saja jika banjir, Dewa tidak mau pergi ke kesekolah. Mending di rumah tidur, kalau bisa kelon sama pacar. Chuaakkzzz🤣
"Tunggu aja pemberian lebih lanjut," jawab Dewi dengan senyumnya mulai membuka aplikasi yang biasa ia pakai untuk mengunggah sesuatu yang bagus.
Hingga ia melihat ada akun kekasihnya yang muncul di laman aplikasi itu.
Di sana Dewa mengupload foto candid dirinya yang entah kapan Dewa ambil. Untung saja Dewi tetap terlihat cantik saat itu.
"Kapan kamu ambil foto foto ini?" tanya Dewi memperlihatkan foto itu pada Dewi.
"Rahasia," jawabnya semakin memeluk erat Dewi.
Yang membuat Dewi senang lagi adalah caption panjang dari kekasihnya. Padahal biasanya Dewa sangat jarang menambahkan caption di setiap postingannya.
"I love you without knowing how, when, or from where. I love you simply, without any problems or vanity."
Postingan itu juga banyak dikomentari oleh para pengikut Dewa.
"Tumben caption-nya panjang banget?" goda Dewi menatap Dewa yang masih memeluknya.
"Biasa."
Dewi yang iseng itu memotret tangan Dewa yang memeluk perutnya dan juga Dewa yang sedang menyandarkan dagu Dewa di bahunya.
"Ganteng banget sih, jadi gak rela kalau ada yang deketin kamu," ucap Dewi mengelus pipi Dewa.
"Pokonya kamu gak boleh pergi dari aku. Aku gak mau kamu pergi, kamu hidup aku sejak pertama kita bertemu," ujar Dewa terdengar geli di telinga Dewi. Kenapa kekasihnya bisa seperti ini, terdengar alay tapi sepertinya ada makna lain di dalam ucapan Dewa.
"Kamu kenapa? Ada masalah apa sampai kamu bicara seperti itu?"
"Kamu percaya cinta pada pandangan pertama?"
"Percaya, kan kamu juga yang ngalamin," jawab Dewi pada Dewa yang masih memeluk dirinya.
Dewa mengangguk dan membenarkan ucapan Dewi. Ia juga jatuh cinta pada Dewi sejak pandangan pertama.
"Jawab ayang! Kenapa kamu seperti takut seperti ini?" tanya Dewi mendesak Dewa untuk menjawab apa yang terjadi.
__ADS_1
"Satriya menyukai kamu sayang, bahkan tadi dia bilang kalau aku sampai menyakiti kamu. Aku gak nyaman dengan ucapannya, aku gak mau kamu pergi."
Akhirnya Dewi tahu kenapa Dewa seperti ini. Ia membalikkan badannya dan menatap Dewa yang hampir menangis. Lucu sih saat melihat Dewa yang biasanya tegas jadi mellow begini.
"Uluh uluh kenapa kamu jadi pesimis gini sih? Dimana Dewa yang biasanya percaya diri kalau calon istrinya ini tak akan berpaling? Bahkan kamu juga sudah mengklaim aku milik kamu. Kenapa kamu takut kalau aku akan meninggalkan kamu?" tanya Dewi dengan nada menggoda.
Iya juga, kenapa hanya omongan Kakak sepupunya membuat Dewa sekhawatir ini. Apa karena dia sudah tahu jika Satriya orangnya nekat.
"Aku takut," ucap Dewi meletakkan kepalanya dj dada Dewi.
"Gak ada yang bisa buat aku menjauh dari kamu. Kalau bukan kamu yang sudah berbuat kesalahan yang fatal dan menyuruh aku untuk pergi dari hidup kamu," ucap Dewi dengan senyum manisnya mulai mengelus rambut Dewa dan menyisir rambut wangi itu dengan jarinya.
"Gak akan aku menyuruh kamu pergi."
"Yakin? Gimana kalau suatu saat orang dari masa lalu kamu datang? Apa kamu tetap bisa bilang begini?" tanya Dewi dengan lembut.
"Yakin, aku gak akan pernah mengenang masa laluku yang membuat aku seperti dulu. Aku ingin berubah demi keluarga kita, aku sudah tak senakal dulu."
Sebenarnya Dewi percaya dengan Dewa tapi yang tak ia percaya adalah masa lalu Dewa yang bisa saja merebut Dewa darinya. Sebagai seorang pasangan ia tak akan pernah setuju jika kekasih yang ia cintai memiliki hubungan lain dengan orang lain.
Mereka sama sama diam, mereka masih dengan pikiran yang berbeda walaupun posisinya sama.
Ting
Ting
Ting
Ponsel Dewi itu banyak notif yang mentag dirinya di aplikasi hijau. Dewa sendiri juga mendengar suara itu masuk.
KELAS 12-MIPA 2
Aries: Woy sekolah kena banjir woy!! Besok sekolah pa kagak?
Lala: Kagak
Sinta: 2
Dita: Saya izin pak, rumah Mak sama Bapak kebanjiran.
Pak Andi: Pengumuman :
Diberitahukan kepada Anak anakku semuanya besok libur masuk sekolah karena banjir.
Desa: Hore libur!!!
Tanti: Yah gak ketemu ayang deh kalau libur.
Tania: Siapa ayang lu?
Tanti: @Dewa calon imam gue.
Sinta: Tahu Dewi habis lu Tan.
Tanti: Apa salahnya gue mengaguminya sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna.
Desa: Gak salah sebenarnya, tapi yang jadi masalah Dewa mau sama lu atau malah ngebuang elu.
__ADS_1
Tanti: Jangan patahin semangat gue dong. Siapa tahu Dewa khilap kan terus sama gue.
Dania: @Dewi cowok lu mau di embat.
Dewi: @Tania awas kalau masuk sekolah gue tandain muka lu.
Riski: Kalau @Dewa sama @Tanti gue sama @Dewi aja.
Tanti: Boleh boleh.
Dewi: Dewa udah cukup gak perlu yang lain.
Tania: Dasar bucin
Pak Andi: Kenapa kalian malah ribut gara gara cewek dan cowok sih. Emang gak mau sama saya saja.
Dania: Bapak jangan godain teman teman saya nanti mereka pada mau.
Pak Andi: Loh apa salahnya? Saya kan masih jomblo Dania. Orang cewek yang saya suka gak bales bales perasaan saya.
Dania: Pokonya gak boleh. Bapak itu cuma buat saya, gak boleh yang lain.
Pak Andi: Jadi artinya apa?
Dania: Artinya apa Pak?
Pak Andi: Dasar kamu gak peka.
Entah kenapa di group chat itu hanya mereka berdua saja yang membalas. Bukan lagi menjadi rahasia jika Pak Andi yang notabene adalah guru baru yang merangkap sebagai wali kelas 12 MIPA 2 itu menyukai Dania. Karena usia Pak Andi juga masih muda sekitar 23 tahun sedangkan Dania masih 19 tahun.
Riski: Pacarannya di lanjut di CP aja Pak. Kita yang jomblo ini gak bisa buat apa apa.
Pak Andi: Iri bilang bos.
Riski: Bos tak pernah iri dengan bawahan. Eh maap pak gak sengaja.
Pak Andi yang tak gampang tersinggung itu hanya membalas emot senyum.
Grup kelas itu jadi ramai karena chat chat itu, bukan masalah libur tapi masalah asmara. Dimana Dania belum menerima Pak Andi sebagai kekasihnya.
Dewa yang mendengar Dewi tertawa itu langsung berdehem dan Dewi memperlihatkan chat kelas mereka.
"Pak Andi cocok sama Dania ya Ayang, orangnya juga ramah."
"Jadi aku gak ramah?"
"Kamu bisa jawab sendiri kan?" tanya Dewi mengecup kening Dewa dan mengelus rambut pacarnya itu.
"Udah malam nih mau tidur apa enggak?"
Dewa tak menjawab tapi ia malah mengangkat tubuh Dewi dan merebahkannya di kasur empuk itu.
Bersambung
Halo semuanya, Tya mau bilang nih kalau di novel ini yang aku ceritakan bukan hanya Dewa dan Dewi aja ya. Random, tapi tetap cerita utama Dewa dan Dewi yang menjadi tokoh utama.
Mungkin setelahnya akan aku spill bab Pak Andi dan Dania yang tak kalah sweet daripada Dewi dan Dewi. Kalau ada waktu aku buatkan cerita tentang guru dan murid itu.
__ADS_1