Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Masih Marah


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa jam pulang sekolah sudah berbunyi, Dewa dan Dewi yang tadi ketiduran itu juga sudah bangun. Bahkan Dewi sempat mengikuti pelajaran jam terakhirnya walau ada sedikit pertengkaran antara Dewa dan Dewi tadi. Dewa yang tak mau Dewi ikut pelajaran tapi Dewi tetap kekeuh ingin mengikuti pelajaran.


Setelah jam pulang Dewi langsung berjalan menuju ruang OSIS di sana ada anggota OSIS yang lain. Ia duduk di kursi itu dan menyapa teman temannya.


"Dam rapatnya bakal lama gak?" tanya Dewi pada Adam si ketua OSIS.


"Gak lama kok Dew, mungkin jika kita serius satu jam udah cukup. Dan mungkin Minggu depan langsung pemilihan ketua OSIS aja. Gue juga udah gak sanggup harus emban jabatan ini."


"Hmm oke."


Adam menatap Dewi dengan tatapan yang tak bisa diartikan, ia tak ingin lama lama di OSIS ada alasannya.


Dewi yang tak suka dengan tatapan Adam itu langsung ganti tempat duduk ke arah Desi yang sedang bermain ponselnya itu.


"Kenapa lu?" tanya Desi yang sepertinya sadr dengan kehadiran Dewi.


"Ketua lu aneh, masa dia tatapan gue kayak gitu. Risih gue sumpah," jawab Dewi sedikit berbisik.


"Dia suka sama Lu, Dew. Bahkan dari kelas 11," jawab Desi yang membuat Dewi tak bisa berkata kata.


Ia sadar dengan perilaku Adam padanya tapi ia tak bisa dengan mudah menyimpulkan kalau Adam suka dengannya. Karena ia juga selalu menjaga hati untuk Dewa.


Akhirnya setelah semua anggita osis berkumpul di sana. Adam membuka rapat itu dengan suara tegasnya khas seorang ketua OSIS.


Pertemuan atau rapat yang membahas pemilihan ketua OSIS dan wakil ketua OSIS baru itu cukup berjalan dengan lancar. Adam memberikan waktu kepada anggota OSIS atau adik kelasnya untuk menyiapkan diri sebelum tes dilakukan.


Setelah satu jam lebih berlalu Adam membubarkan anggotanya tak terkecuali Dewi yang sudah sangat ingin pulang. Mamanya sejak tadi sudah menghubunginya untuk pulang. Karena Louis di rumah hanya dengan pelayan.


"Dew," panggil Adam yang menghentikan langkah Dewi.


"Kenapa?" tanya Dewi.


"Pulang bareng aku aja yuk, lagian searah juga rumah kita," ajak Adam berharap tidak ditolak lagi oleh Dewi.


"Sorry ya, gue sama Dewa. Dia udah nunggu di warung," jawab Dewi meminta maaf. Adam mengepal tangannya erat tapi bibirnya masih bisa tersenyum.


"Oh ya sudah kalau gitu," ucap Adam sedikit kesal dan melas.


Ini sudah tak terhitung berapa kali Dewi menolaknya untuk pulang bareng bahkan jalan bareng. Karena sejak setahun yang lalu Dewa langsung posesif dengan Dewi, dimana ada Dewi disana juga ada Dewa. Bahkan kebucinan Dewa itu sudah bukan lagi menjadi rahasia.


"Gue pulang dulu. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


Adam menatap kepergian Dewi dengan kesal, bahkan ia menatap benci ke arah warung dimana Dewa dan teman temannya kumpul.


"Gue pastikan lu akan jadi milik gue, Dew," gumam Adam.


"Segala sesuatu yang tidak didasari oleh cinta yang tulus itu tidak akan pernah berjalan dengan mulus. Cinta yang lu miliki buat Dewi itu bukan cinta sejati Dam. Tapi cuma obsesi untuk memiliki," ucap Desi menepuk pundak Adam kemudian berlalu begitu saja.


Adam tersadar dan menatap Dewi yang berjalan menuju parkiran itu. Apa maksud dengan Desi apa cintanya dengan Desi itu disebut obsesi?


"Aku tak tahu tapi yang pasti Dewi harus jadi milik gue," ucap Adam dengan senyum menyeringai.


***


Dewi sampai di warung tempat kekasihnya berkumpul dengan teman temannya. Jangan lupakan jika raut wajah Dewa masih sangat kelas dan juga sangat menyebalkan.


"Ayo pulang," ajak Dewi pada Dewa yang masih diam di antara teman temannya.


"Bu Bos ada masalah? Tadi Pak Bos ngamuk ngamuk disini. Bahkan tadi Alex sampai di lempar bakwan sama dia, lihat tu muka Alex jadi berminyak," ujar Angga menunjuk Alex yang mukanya memang berminyak.


"Maafin Dewa ya, Alex. Dia lagi marah soalnya, aku saranin jangan buat jangan ganggu dia dulu," ucap Dewi pada Alex. Adik kelas yang memiliki tahu lalat di bawah bibir itu mengangguk.


"Alex juga yang salah kak. Bos Dewa hari ini lagi sensi," ucapnya pelan tapi masih bisa di dengar mereka.


"Astaghfirullah," ucap Dewi dan teman teman Dewa yang ada disana saat Dewa berdiri hingga membuat kursi yang tadi ia duduki terjatuh, kemudian Dewa berjalan menuju mobilnya.


"Bos kayaknya marah banget ya Bu?" tanya Ozi pada Dewi yang hanya tersenyum singkat.


"Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Dewi berjalan menuju mobil Dewa dan masuk ke dalam mobil itu. Tak menunggu lama Dewa melajukan mobil Ferrari meninggalkan area sekolah itu dengan kecepatan sedang.


"Masih marah?" tanya Dewi menoel pipi Dewa yang sudah duduk di mobil dengan muka masamnya itu.


Tadi Dewa mau tak mau harus ikut pelajaran karena tak mau Dewi dilirik oleh laki laki lain di kelas itu.


"Ulu ulu ulu ayangnya Dewi ngambek cuma gara gara ikut pelajaran," goda Dewi mengelus rahang Dewa lembut.


Dewa kesal bukan karena ikut pelajaran tapi karena tadi Dewi lebih memilih mengikuti rapat OSIS daripada membujuknya agar tidak marah.


"Ayang marah gara gara tadi aku ikut rapat? Atau gara gara apa?" tanya Dewi masih mengelus rahang Dewa.

__ADS_1


"Pikir sendiri."


"Jawab dong ayang aku kan gak tahu salahku dimana," ucap Dewi masih dengan lembut.


"Aku kesel sama kamu, kamu tadi pasti ketemu Adam kan? Cowok ingusan itu?" tanya Dewa dengan suara ketusnya. Tatapannya masih mengarah ke depan tanpa mau menatap Dewi.


"Iya aku ketemu Adam. Kan dia ketua OSIS masa kita rapat tanpa dia," ujar Dewi menjawab dengan jujur. Tapi hal itu malah membuat Dewa kesal dan marah.


"Mulai saat ini kamu gak boleh dekat dekat sama Adam, aku gak mau kamu deket sama dia. Titik!!!"


Dewi bingung dengan ucapan sang Kekasih kenapa tiba tiba Dewa tak memperbolehkannya untuk dekat dengan Adam.


"Tapi aku kan OSIS ayang. Adam itu adalah ketua OSIS apalagi gak lama mau pemilihan OSIS baru."


"Ya pokoknya kamu gak boleh cuma berdua sama Adam. Jika perlu aku akan ada disamping kamu saat pemilihan OSIS baru."


"Kamu kenapa tiba tiba aneh gini? Pasti kamu mengetahui sesuatu kan?" tanya Dewi dengan selidik.


Dewa diam ia belum siap menceritakan tentang apa yang ada di dalam falshdisk yang diberikan Satya itu pada Dewi dalam keadaan emosi.


"Sayang," suara lembut mengelus dada Dewa yang memejamkan matanya mengatur emosinya.


"Hufftt, kamu ingat kemarin kita terkunci di perpustakaan?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.


"Itu ulah Vivi dan Adam, Vivi mengunci pintu perpustakaan dan Adam menyabotase motor milikku kemarin, untung Satya tahu jika motor itu tak beres," jawab Dewa dengan serius.


"Vivi, Adam?" tanya Dewi tak percaya. Vivi dan Adam adalah kakak beradik kenapa mereka dengan sengaja ingin mencelakai dia dan Dewa.


"Heem, maka dari itu aku gak mau kamu terlalu dekat dengan aku. Mungkin mereka lebih ingin aku yang celaka bukan kamu. Tapi karena kamu dekat dengan aku makanya kamu kena imbasnya."


"Aku gak nyangka jika mereka yang melakukan itu, kamu tahu dari mana?" tanya Dewi yang masih begitu syok untung kemarin mereka menggunakan mobil Satya.


"Dari CCTV yang di dapatkan Satya."


"Maaf jika aku terlalu mengekang kamu tapi jujur aku tidak mau membuat kamu terluka."


Dewi tersenyum dan memeluk tubuh Dewa hingga membuat Dewa langsung menepikan mobilnya dan membalas pelukan Dewi.


"Aku gak apa apa kamu posesif gini, tapi aku yang harusnya minta maaf karena sering buat kamu marah," ujar Dewi mengelus dada bidang Dewa. Dewa mengangguk dan mengelus rambut Dewi lembut.


Dengan posisi Dewi masih memeluk Dewa, pria itu kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Dewa. Karena tadi Dewa juga ditelepon oleh Mama Karina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2