Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Penasaran


__ADS_3

Happy reading


"Wow, apa seperti yang namanya kenik**tan?" batin Dewa menatap apa yang ada di depannya itu.


"Jangan dilihatin nanti aku malu," ucap Dewi menutup mata Dewa dengan tangannya yang sangat wangi.


"Kenapa mesti malu sih sayang hmm? Aku sudah janji 4 bulan lagi aku akan menikahi kamu. Walau nanti kita jauh aku sudah mengikatmu dengan sah," ucap Dewa menyingkirkan tangan Dewi dari matanya.


Ia tak akan membantah jika itu untuk kenaikkannya. Lagipula dengan menikah ia juga tak akan sepenuhnya terkekang oleh aturan suaminya.


"Aku selalu ingin merasakan ini tapi aku takut kamu akan marah lagi," ucap Dewa memberanikan diri untuk menyentuh benda itu.


"Iyalah aku marah kan kamu gak bilang," ucap Dewi mencoba menormalkan detak jantungnya.


"Sekarang aku bilang jadi kamu gak akan marah kan?" tanya Dewa dengan senyum menggodanya.


"Jangan terbuka gini, aku malu," ucap Dewi menahan tangan Dewa yang ingin menyentuhnya.


Akhirnya Dewa menarik selimut itu untuk menutupi tubuh mereka. Kemudian Dewa mencium bibir lembut Dewi tanpa di tolak oleh Dewi.


Ciuman Dewa mulai turun ke leher hingga akhirnya mulai beralih ke salah satu dada Dewi yang masih sangat fresh untuknya.


"Eughhh," leg*han Dewi terdengar pelan oleh pendengaran Dewa.


Tapi pria itu malah sangat bersemangat untuk terus melakukannya lagi. Sedangkan Dewi hanya bisa pasrah saat Dewa sudah seperti anak kecil seperti ini. Dengan pelan Dewi mulai menutupi tubuh kekasihnya yang sangat terlihat jelas jika sedang meny*** padanya.


Apa nanti jika ia mempunyai anak akan seperti ini? Tapi sepertinya memiliki anak anak yang lucu membuat ia betah di rumah terus.


Tangan Dewi mulai terukur untuk mengelus dan menyugar rambut Dewa.


"Jangan digigit Ayang, sakit," rengek Dewi saat miliknya digigit oleh Dewa.


Masa baru pertama melakukan hal ini ia sudah mendapat KDP (Kekerasan Dalam Pacaran) kan gak apik banget.


Plup


"Aku gemes sama mereka, kenapa bisa ngebentuk gini ya? Kenapa punyaku enggak?" tanya Dewa yang seketika bodoh setelah mendapat asupan gizi dari Dewi.

__ADS_1


"Astaga, kamu pas pelajaran Biologi kemana aja sampai gak tahu kayak gini?"


Sebenarnya Dewa gak bodoh dia hanya gemas hingga tak bisa berkata kata. Ia tak memiliki dua benda ini tapi ia punya yang lebih uwauu.


"Bolos mungkin, aku kan dulu gak serajin sekarang."


Dewi mengangguk pelan kemudian menarik selimut agar dadanya tak terekspos jelas oleh mata mesum Dewa.


"Emang mantan kamu dulu gak bisa buat kamu rajin?" tanya Dewi yang entah kenapa malah membahas mantan Dewa yang ia ketahui itu.


"Jangan pernah bahas dia lagi, aku sudah muak. Bahkan aku ji*ik saat mendengar namanya," ucap Dewa yang membuat Dewi bingung.


Pasalnya selama ini yang Dewi tahu adalah Dewa putus dari mantannya karena mantannya selingkuh dari Dewa.


"Kenapa? Bukannya dari rumor yang aku dengar dulu kamu itu bucin banget sama mantan kamu itu. Bahkan kamu rela nunggu dia berjam jam saat belanja. Hahaha sangat bodoh," ucap Dewi yang entah kenapa malah sakit saat bilang begitu.


Memang dulu Dewi tak dekat bahkan tahu wajah Dewa saja tidak. Ia hanya mendengar gosip saja dari teman teman yang mengkhianatinya dulu.


Bahkan dulu mereka tak sekelas tapi entah kenapa sejak masuk kelas 12 Dewa jadi sekelas dengannya bahkan satu bangku.


"Iya iya tahu, aku juga paham sama keadaan kamu yang lagi sensitif seperti ini. Kamu boleh cerita kalau kamu udah siap buat cerita. Kamu tenang aja aku akan menjadi pendengar dan penasehat kamu yang baik," ucap Dewi mencoba menenangkan Dewa yang sepertinya sedang emosi.


Dewa kesal karena Dewi seperti ingin membuat lukanya yang sudah sembuh kembali terkoyak.


Dewa menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya pelan. Ia membaringkan tubuhnya, agar tak lagi emosi.


Sedangkan Dewi sebenarnya ingin tahu bagaimana Dewa dan mantanya dulu bisa putus, pasti jika hanya sekedar selingkuh tak akan membuat Dewa dendam dengan yang namanya cewek bahkan ji*ik kan?


"Kamu mau minum lagi gak? Mumpung belum aku bungkus," goda Dewi menoel pipi Dewa yang memerah.


Entah kenapa dada Dewi seperti candunya selalu, dulu saat masih pacaran Dewa hanya mampu mencium sampai atas dada tak sampai dada indah itu.


"Mau," jawabnya sedikit kesal. Ada gengsi memang tapi semua itu hilang karena Dewi yang sudah menjadi pawangnya.


"Udah jangan marah marah lagi, cowok naf*uan kayak kamu gak pantes marah marah apa lagi ngambek di depan aku," ucap Dewi menarik kepala Dewa agar melakukan apa yang di inginkan pria itu.


Lagipula Dewi sudah mengantuk, hingga membuat Dewa sangat puas jika dibiarkan seperti ini. Dan malam ini adalah malam dimana Dewa bisa menikmati enaknya susu asli dari pabriknya.

__ADS_1


***


Sedangkan di kamar lain, Beby masih meneliti sosis yang tadi ia bawa untuk di makan bersama Satya di kamar.


"Kenapa sih Beb? Kok dari tadi cuma dilihat terus?" tanya Satya mendudukkan Beby dipangkuannya.


"Lihat deh sosisnya, mirip punyamu," ucap Beby menggeseknya dengan garpu.


Satya yang mendengar kej*******nya di samakan dengan sosis itu tak terima. Ia bahkan menatap sosis itu penuh dengan permusuhan.


"Gimana ya kalau punyamu aku potong, pasti mirip ini," ucap Beby semakin ngelantur saja hingga membuat Satya merapatkan pahanya.


"Beby, punyaku bisa hidup ini enggak. Kamu jangan buat aku emosi aja deh malam malam."


"Kenapa sih pikiran kamu juga sudah sampai sana. Yah aku tahu kamu sudah sering melihat tapi jangan kamu samakan dengan sosis sialan itu aku gak suka," ucap Satya merebut sosis jumbo yang sudah dibakar itu. Lalu ia potong kecil kecil bahkan hampir lembut tapi tak jadi.


"Sekarang buka mulut kamu dan makan sosis yang tadi kamu bawa," ucap Satya menyuapi Beby dengan sosis itu.


Dan inilah yang ditunggu Beby sejak tadi, suapan dari Satya yang membuat ia makin cinta beribu ribu kali lipat.


"Kamu juga harus makan," ucap Beby mengambil garpu yang ada disana kemudian menyuapkan potongan sosis itu ke dalam mulut kekasihnya.


"Aku kenyang makan sisa kamu tadi," ucap Satya tetap menerima suapan Beby.


"Bukan sisa tapi aku sengaja sisain buat kamu, kalau gak gitu kamu gak mau makan. Nanti kalau maag kamu kambuh aku juga yang repot. Apalagi kita mau ujian," jawab Beby yang membuat Satya berkali kali mencintai sosok Beby.


"Iya Beby sayang. Aku gak akan telat makan kok, kamu tenang aja ya," ucap Satya memeluk tubuh Beby yang ada di depannya itu.


"Kita itu cuma berdua Honey, nanti kalau kamu sakit gimana? Apalagi aku gak paling gak bisa lihat kamu terbaring lemas seperti kemarin lagi," ucap Beby dengan lembut.


Mereka memang masih memiliki keluarga, tapi keduanya seperti dibuang begitu saja oleh keluarganya. Janji orang tua Beby yang akan pulang itu sampai sekarang juga tak ada kabar. Bahkan Beby sudah sangat lelah mengharap Mama dan Papanya pulang.


Yang Beby butuh saat ini hanya Satya, kekasih hatinya yang mampu menyembuhkan sakit hatinya pada orang tua. Mereka sama sama korban broken home jadi mereka bisa cepat nyambung.


"Habis makan langsung bobo, aku gak mau kamu bergadang. Besok kita harus ke makan nenek dan kakek kan?" tanya Satya dan dianggukkan oleh Beby.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2