
Happy reading
"Jangan pergi!"
Teriak Dewi saat ia mengalami mimpi buruk, ia langsung melihat ke samping kasur dan ternyata Dewa tidak ada.
Dewi panik, ia mulai mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Dewa tapi tak kunjung diangkat oleh Dewa.
Ia tak bisa langit menahan tangisnya, ia tak bisa mencerna apa yang sedang ia pikirkan.
Kemudian ia menelepon teman teman Dewa dan menanyakan dimana Dewa? Dimana kekasihnya.
"Dewa celaka dan dibawa ke rumah sakit," jawab Tama yang tak bisa berbohong pada Dewi.
Laki laki itu selalu di tatap istrinya, jika sampai Tama berbohong awas saja nanti malam mungkin begitu arti tatapan mata Nafisah.
"Rumah sakit mana?" tanya Dewi dengan nafas memburu. Ini masih pukul 4 pagi, tapi kecelakaan itu jam 2 pagi tadi.
"Cendana Putih. Gue gak bisa kesana karena Nafisah yang gak kuat bau obat. Tapi lu tenang aja, banyak teman teman yang jagain Dewa kok," ucap Tama.
Tanpa ba bi bu Dewa langsung turun dari ranjang itu dan berlari menuju lantai bawah. Ia tak tahu harus gimana, bahkan Dewi lupa untuk memberitahukan hal ini pada Mama dan Papa.
Dewi mengambil salah satu kunci motor milik Dewa. Untungnya ia bisa mengendarai motor jika tidak mungkin ia akan kebingungan mencari dimana kunci mobil.
Dengan kecepatan penuh Dewi menjalankan motor metik itu. Pak Anas yang sedang berjaga langsung membuka gerbang karena sepertinya calon Nona mudanya itu sedang buru buru.
Dewi mengendarai motor itu seperti orang yang sedang kesetanan. Ia berkali kali menerobos lampu merah untungnya tak ada polisi disana.
Dewi tak menganggap makian orang yang hampir menabrak motor mereka. Bagi Dewi yang ada dipikirannya adalah Dewa, Dewa, dan Dewa.
"Ya Allah kenapa kamu memberi cobaan pada Dewa seperti ini," gumam Dewi saat ia hampir sampai di rumah sakit.
Dan tak lama Dewi sampai di rumah sakit, karena masih pagi jadi belum banyak yang ada disana.
"Kamar Flamboyan ada dimana?" tanya Dewi dengan nafas terengah-engah pada resepsionis yang ada disana.
"Lantai VIP Nona."
__ADS_1
Tanpa mengucapkan terima kasih Dewis udah berlari menuju lantai atas yang merupakan lantai VIP untuk petinggi di rumah sakit ini.
Dewi berlari menuju kamar Dewa dan ia melihat Angga dan Andre di depan kamar itu. Kedua laki laki yang melihat Dewi itu saling pandang.
"Gimana nih? Lu ingat pesan Dewa tadi kan?" tanya Angga pada Andre.
"Mau gimana lagi Dewi sudah sampai disini. Dia harus tahu apa yang terjadi pada Dewa," jawab Andre pada Angga yang sangat takut pada Dewa.
"Pacar gue mana?" tanya Dewi dengan air mata yang sudah tak bisa lagi ia tahan.
"Ada di dalam tapi sebelum lu masuk lu harus steril dulu," jawab Andre yang tak mau menutupi apapun dari Dewi.
"Dia kenapa? Kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit hah? Kenapa kalian gak bantuin dia pas dia celaka? Kalian dimana!!!" teriak Dewi mengeluarkan amarahnya. Hanya karena uang untuk membantu Ozi Dewa harus masuk rumah sakit.
"Kita juga gak tahu kalau semua ini akan terjadi Dewi. Lu pikir kita gak sedih melihat Dewa berbaring seperti itu? Niat dia baik cuma mau bantu adiknya Ozi aja," jawab Andre melawan Dewi.
"Hahaha jangan pikir gue gak tahu kalau lu yang udah pengaruhi Dewa buat ikut balapan kan?"
"Lu gak tahu apa apa soal kita, pacar lu itu ketua geng yang harus mengayomi anak buahnya. Jangan egois jadi orang," teriak Andre yang tak ingin disalahkan. Niatnya baik karena ingin membantu Ozi, ia juga tak menyangka jika Dewa akan mengalami hal se tragis ini.
Satya yang menemani Dewa itu langsung bangun dan membangunkan Dewi yang terduduk di depan pintu itu.
"Dew bangun, kuatin Dewa buat dia bisa kembali," ucap Satya yang membuat Dewi makin hancur. Kenapa dengan Dewanya?
"Dewa kenapa Ya? Apa ada cedera serius sama dia?" tanya Dewi pada Satya dengan nada lirihnya.
"Dewa harusnya sudah bangun setengah jam yang lalu tapi kata dokter Dewa mengalami koma karena cedera di otaknya karena hantaman balok dari Langit tadi," jawab Satya dengan jujur.
Ia tak mengindahkan apa yang di ucapkan Dewa sebelum koma tadi, ya Dewa sempat bangun sesaat saat ia ingin periksa.
"Koma? Dewa koma?" tanya Dewi yang tak kuat menahan bobot tubuhnya hingga ia pingsan untung Satya cepat tanggap langsung menggendong tubuh Dewi ke sofa yang ada disana.
Satya menatap Dewi yang sangat pucat, ia mengambil minyak kayu dan mengusapkan di hidung Dewi.
"Kenapa lakik sama binik sama sama ngerepotin sih? Untung kalian sahabat gue yang paling baik dan gue sayang," gumam Satya yang pada dasarnya receh.
Satya sudah goodmood karena tadi sebelum ke arena balap ia mendapat servis dari Beby walau tak bisa dengan itu tapi Satya mendapatkan dari tangan Beby. Dan akibatnya ia sangat senang hari ini, walau ia mendapat tiga pukulan di wajah tampannya. Satya yakin jika Beby melihat ia bonyok seperti ini akan langsung menertawakan dirinya.
__ADS_1
Tak lama Dewi terbangun dari pingsannya, hal yang pertama ia cari adalah Dewa yang terbaring di ranjang king size itu.
"Lu udah bangun Dew?" tanya Satya dan dianggukkan oleh Dewi.
Dewi pikir apa yang ia lihat sebelum pingsan tadi adalah mimpi tapi apa, kenapa bukan mimpi kenapa harus kenyataan? Kenapa Dewa sampai seperti ini.
"Lu gak apa apa gue tinggal disini sendiri? Gue harus hubungin Beby sebelum gue di dapat amukan dari cewek yang satu itu. Gue gak siap tidur di luar. Lu tahu kan Beby kalau marah gak main main," ucap Satya yang malah bercerita pada Dewi hingga membuat sudut bibir Dewi terangkat.
"Gak apa apa, gue juga harus jagain Dewa biar dia bisa kembali," jawab Dewi dengan tatapan kosong menatap Dewa.
"Owkehh lu jangan buat hal yang gila ya Dew, gue gak mau kalau Dewa bangun gak lihat lu. Bisa bisa yang ngamuk bukan cuma Beby tapi juga Dewa."
"Iya."
"Jangan sedih sedih, karena gak butuh sedih dari lu. Dia cuma mau lu ada disampingnya saat bangun dan tidur kembali. Lu ajak ngobrol gih siapa tahu dia langsung bukak mata," tambah Satya yang kini malah membuat Dewi muak.
Ia langsung bangun dari sofa itu dan berjalan menuju kursi yang ada di samping Dewa. Dan mengusir Satya.
Bersambung
Sad sih Dewa harus koma dulu, jangan ngarep Tya bakal cepet buat Dewa sadar.... Hahahaha ya walau waktu cepat tapi part-nya yang lama, Tya harap kalian bisa tenang nunggunya...
*****
Nah sambil nunggu Dewa bangun gimana kalau kalian baca novel teman Tya ini.
Cintai Aku, Istriku
Author Mom Al
Tidak pernah di cintai oleh istrinya sendiri, membuatnya selalu berusaha untuk mencari perhatian agar sang istri bisa jatuh cinta kepadanya-- Fareza Syarief (32tahun).
Airin Kusuma (26tahun) langsung menjadi janda ketika beberapa jam baru saja sah menjadi istri seorang pengusaha Furniture, pernikahan yang singkat membuat Airin di cap sebagai wanita pembawa sial oleh orang lain.
Bagaimana kisah asmara mereka selanjutnya? Dan bagaimana kehidupan Airin ketika ditinggal oleh sang suami?
__ADS_1