Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Hari yang Melelahkan untuk Dewa


__ADS_3

Happy reading


Setelah menyelesaikan lukisannya, Naila keluar dari kamar tak lupa ia mengunci kamarnya agar tidak ada yang masuk. Sungguh Naila adalah pribadi yang tertutup, bahkan Papa dan Mamanya saja jarang ke kamarnya.


Naila menuruni tangga dan melihat calon kakak iparnya yang sedang menimbang bahan bahan membuat kue itu.


"Kakak semangat banget mau bikin cake ultahnya Kak Dewa. Kenapa gak beli aja?" tanya Naila duduk di kursi itu.


"Karena kakak suka memasak, apalagi masak kue. Kalau beli nanti gak spesial dong kue ulang tahunnya," ucap Dewi menatap Naila.


"Memang harus sepesial ya, kan sama aja kak. Sama sama dimakannya," ucap Naila dengan bingung. Padahal sama sama dimakan, dimana bedanya?


"Bagi kakak tetap beda, apalagi ini adalah hasil tangan kakak sendiri. Kamu mau ikut bantu atau lihat aja?" tanya Dewi pada adiknya.


"Mau bantu tapi gak bisa jadi lihat dulu aja kak, bolehkan."


"Sekalian kakak ajarin kamu buat kue mau gak?" tanya Dewi pada adiknya.


Seseorang tak akan pernah bisa melakukan sesuatu jika tidak mencobanya. Bukan begitu teman teman.


"Emang boleh Kak?"


"Boleh dong, kenapa gak boleh segala. Sini ikut buat kue," ajak Dewi pada Naila.


Akhirnya dua gadis beda usia itu mulai membuat cake untuk Dewa.


"Mama sama Papa kemana kak?" tanya Naila setelah mengayak tepung tepung itu.


"Katanya mau keluar tadi, biasalah Papa Albert kalau gak ke kantor. Biasanya juga jalan jalan sama Mama." Naila tersenyum dan mengangguk paham.


***


Berbeda dengan Dewi yang sedang menyiapkan cake untuk Dewa yang sedang berulang tahun hari ini.


Dewa kini malah disibukkan dengan pekerjaan Papanya yang dilimpahkan padanya. Padahal kata Papanya tadi hanya meeting tapi kenapa ia harus mengerjakan semua ini.


Sepertinya ia butuh penyemangat dan Dewi adalah obatnya. Tangannya mengambil ponsel yang ia letakkan disamping laptop itu.


Dewa mulai memanggil nomor kekasihnya tapi nihil. Dewi tak mengangkat bahkan Dewa juga mengirimkan banyak pesan dan telepon untuk Dewi tapi sepertinya kekasihnya itu masih tidur.

__ADS_1


Tapi apa iya, ini sudah pukul 9 pagi. Masa Dewi masih tidur, rasanya ia tak percaya. Tapi jika sudah bangun tak mungkin Dewi tak mengangkat telepon darinya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Sekretaris Papa Albert datang dengan setumpuk map yang ada di tangannya. Dewa tahu apa yang membuat sekretaris Papanya itu datang.


"Maaf Tuan Muda, Tuan besar menyuruh saya untuk memberikan berkas ini pada Anda. Beliau bilang jika Anda harus mempelajari tentang apa yang ada di map ini."


"Semuanya?" tanya Dewa dengan ekspresi terkejut.


"Iya Tuan Muda. Nanti jam 11 kita ada meeting di sebuah mall X. Dan kita tidak boleh telat," jawab Sekretaris Papa Albert itu yang menjalankan perintah Tuannya dengan bagus.


Dewa mengangguk dan menyuruh Sekretaris Papa Albert untuk keluar dari ruangannya. Dewa mulai mempelajari apa yang disuruh Papanya, karena mungkin saja itu yang terbaik untuk dirinya.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih 45 menit. Dewa pun bersiap untuk meeting dengan sekretarisnya yang khusus di tugaskan untuknya.


Memang jarak dari kantor ke mall itu tak terlalu jauh hingga ia bisa sedikit santai.


Di dalam mobil, Dewa nekat sibuk dengan ponselnya hingga mengabaikan Keberadaan wanita cantik di sampingnya. Kenapa? Karena Dewa tidak tertarik dengan wanita manapun jika bukan Dewi.


"Tuan, kita hampir sampai tolong jangan bermain ponsel terus," ucap wanita itu pada Dewa.


Akhirnya mereka sampai di mall, Dewa langsung turun dari mobil dan diikuti oleh Farisa di belakangnya membawa berberapa berkas di tangannya tak lupa juga tab yang berisi data data penting.


"Restoran VIP no 37, Tuan."


Mereka pun berjalan masuk, sampai di dalam mall itu Dewa sangat dihormati karena bangunan ini adalah salah satu aset dari kekayaaan Keluarga Dewa. Dan Dewa adalah salah satu pewaris kekayaan keluarganya.


Tapi saat ia ingin masuk pandangannya mengarah ke arah sudut mall. Ternyata disana ada Mama dan Papanya. Kenapa malah mereka keluar, saat saat seperti ini.


Saat Dewa ingin menghampiri keduanya, Farisa langsung menarik tangan Dewa karena ternyata mereka sudah ditunggu sejak tadi.


"Lepas, siapa kamu pegang pegang saya!!"


Dewa menghempaskan tangan Farisa dengan kasar. Ia tak suka badannya di pegang oleh wanita lain.


"Maaf Tuan."

__ADS_1


Huhh, baru setengah hari saja sudah membuat moodnya hancur seperti ini apalagi kalau nanti Dewa sudah menjadi CEO menganggantikan Papa Albert. Tapi demi Dewi ia pasti bisa.


Saat Dewa masuk, Papa Albert melihatnya. Ia tersenyum saat anaknya tak mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Bahkan Dewa dengan tegas memperlihatkan ketidak sukaannya dengan wanita lain.


"Anak itu sepertinya akan kesusahan jika aku tak ikut andil," ucap Papa Albert menemani istrinya yang tiba tiba ingin makan kentang.


"Jangan dulu, biarkan dia belajar. Lagipula kalau dia sudah bertekad untuk bisa, pasti bisa. Kamu gak usah bantu dia dulu," ucap Mama Riska memakan kentang goreng yang tadi ia pesan.


"Hmm. Gimana masih mau jalan jalan atau udah mau pulang?" tanya Papa Albert pada istrinya.


"Masih mau keliling tapi Papa temenin."


"Ya sudah tapi kalau capek bilang, aku gak mau kamu kenapa napa."


"Iya papa."


Setelah selesai memakan kenang goreng itu, Mama Riska dan Papa Albert pergi dari restoran itu.


Sedangkan Dewa yang sudah duduk itu menatap benci wanita disebelah kliennya itu.


"Selamat siang Nak Dewa," sapa pria paruh baya yang seusia ayahnya itu bahkan lebih tinggi.


"Siang."


"Kemana Tuan Albert, kenapa Anda yang datang?" tanya pria itu masih basa basi.


Dewa yang memang tak terlalu suka berbasa basi dengan tegasnya langsung menyuruh sekretarisnya membuka meeting kali ini.


Sekretaris pria itu mulai membuka meeting dengan Sekretaris Dewa. Sedangkan yang membuat Dewa jengkel adalah wanita yang ada di samping pria itu.


Setelah menjelaskan tentang apa yang dibahas itu, Dewa mempertanyakan tentang apa keuntungan yang perusahaannya dapatkan jika menerima tawaran itu. Tentu saja Dewa tak mau jika ia hanya cuma cuma menerima tawaran mereka.


"Pembagian proyek ini adalah 50% sama rata, Nak Dewa."


"Tapi menurut saya proyek yang Anda tawarkan ini tak akan berjalan dengan baik Tuan Sartono. Bahkan disini tertulis jika anggaran biayanya saja melebihi apa yang saya bayangkan jika hanya membuat sebuah pasar," jawab Dewa berpikir secara logis.


Tuan Sartono menatap Dewa, ia kira akan mudah melabuhi anak bau kencur yang ada di hadapannya ini tapi dugaannya salah. Dewa menuruni sifat Albert yang sangat teliti.


Tuan Sartono mulai memberi perintah agar para sekretaris keluar dari ruangan itu hingga meninggalkan dirinya, Dewa, dan gadis cantik yang seksi ada disana.

__ADS_1


Bersambung


Kita kira siapa gadis cantik nan seksi yang ada disana? Kenapa Dewa menatap benci pada gadis itu?


__ADS_2