
Happy reading
Sampainya di kamar yang berada di sebelah kamar Dewa itu membuat pria itu mengulum senyumnya jika begini kan ia bisa leluasa untuk masuk ke kamar Dewi nanti.
"Aku ke kamar dulu ya sayang, kalau kamu mau ke kamar aku tinggal jalan berberapa langkah. Kamu udah tahu kamar aku kan?" tanya Dewa mengelus pucuk kepala Dewi saat mereka sedang berada di depan kamar Dewi.
"Iya, aku juga mau istirahat," jawab Dewi mengecup pipi Dewa lagi.
Entah sudah berapa kali Dewi mengecup pipi Dewa hari ini, entah tadi di sekolah, rumah Dewi, dan rumahnya. Dan hal itu membuat Dewa lagi lagi tersipu hingga wajahnya kini sedikit memerah, untung ia bisa cepat menormalkan raut wajahnya.
"Kamu manis banget sih, jadi gemes pingin dikelonin," ucap Dewa mengunyel unyel pipi merah Dewi.
"Jangan di giniin pipi aku nanti kendur gimana?" tanya Dewi menatap sebal Dewa tapi juga malu karena ucapan frontal dari Dewa.
"Tinggal di kencengin lagi," jawabnya dengan mudah.
"Emang pipiku balon kalau di tiup bisa kenceng?" tanya Dewi mengecucutkan bibirnya.
"Ini bibirnya mau kena hukuman ya?" tanya Dewa mengelus bibir Dewi.
"Enggak," jawab Dewi menutup mulutnya.
"Aku masuk dulu," ucap Dewi membuka pintu kamar itu dan meninggalkan Dewa di depan pintu kamarnya.
"Padahal aku ingin sekali merasakan bibir manis miliknya," ucap Dewa memandang pintu kayu itu.
Kemudian ia berlalu menuju kamarnya, badannya sudah gerah karena dari siang tadi ia belum merasakan yang segarnya air shower.
Dewa meletakkan tasnya di meja belajarnya, menatap sekilas pigora berwarna biru itu dan berlalu menuju kamar mandi.
***
Tok! Tok! Tok!
Dewi yang sedang menata baju bajunya itu menoleh ke arah pintu. Siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Iya sebentar."
Dewi berlalu menuju pintu dan membukanya, ternyata yang mengetuk pintu kamar itu adalah pembantu rumah besar itu.
__ADS_1
"Ada apa ya Bi?" tanya Dewi dengan sopan. Pembantu rumah ini lebih tua daripada pembantu di rumahnya jadi ia harus menghormatinya begitu kata Mamanya.
"Anu non, apa non Dewi sudah makan? Kalau belum nanti Bibi buatin makan buat kalian. Karena Ibu sama Bapak baru aja selesai makan tadi sebelum Non Dewi dan Den Dewa pulang," tanya Bibi itu pada Dewi.
"Dewi sama Dewa udah makan kok Bi, Louis tadi juga sudah makan jadi Bibi gak perlu masak lagi. Kalau kita lapar nanti gampanglah," jawab Dewi tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, nanti tinggal bibi masak buat makan malam ya Non. Tapi kalau Non Dewi lapar bisa langsung bilang saya aja," ucap Bibi dan dianggukkan oleh Dewi.
"Siap kalau itu, lagipula kayak bibi masih pertama kali lihat Dewi aja. Kan Dewi sudah 3 kali ke rumah ini walau dulu itu cuma sebentar," ujar Dewi dengan senyumnya.
Dewi jadi mengingat saat pertama kali ia ke rumah ini karena perjodohan Dewa dan Dewi. Yang kedua kalinya adalah saat Dewa mengajak Dewi ke rumah dengan alibi Mama ingin bertemu padahal tidak. Dan ini adalah yang ketiga kalinya.
Setelah mengucapkan hal itu Bibi pamit pada Dewi karena masih ada kerjaan yang harus ia selesaikan. Dewi pun kembali masuk ke dalam kamar dan membereskan baju bajunya.
Bugh
"Ahh nyamannya ini kasur, gak kalah sama kasur di rumah," ucap Dewi menikmati empuknya kasur itu.
Hingga kedua matanya menangkap balkon yang mengarah ke daerah perbukitan yang jaraknya cukup jauh dari rumah itu tapi masih bisa terlihat oleh mata manusia dari balkon ini kecuali yang minusnya sudah +++++.
Dewi bangun dan berjalan menuju balkon itu, dan melihat pemandangan dari balkon sana. Cuacanya sejuk, karena hari ini tidak ada turun hujan bahkan sangat mengerti akan apa yang dirasakan Dewi.
Tanpa Dewi tahu jika Dewa sudah masuk ke dalam kamar Dewi. Pria yang baru selesai mandi itu berjalan mengendap menuju balkon. Padahal rambut Dewa masih basah karena habis keramas.
Grep
Dewa memeluk tubuh Dewi dari belakang, kemudian meletakkan kepalanya di bahu Dewi. Pada dasarnya Dewi yang pendek membuat tubuh kecil Dewi tertutup oleh tubuh Dewa.
Dewi yang kaget karena ada yang memeluknya dari belakang langsung membuka matanya. Dan saat ia melihat tangan kekar milik kekasihnya membuat Dewi tahu jika tangan yang memeluknya itu adalah milik Dewa.
"Kenapa berdiri disini hmm? Nanti kamu sakit lagi kena angin?" tanya Dewa menelusupkan tangannya ke dalam hoodie yang dipakai Dewi kemudian mengelus perut rata Dewi dengan lembut. Geli memang tapi Dewi nyaman dengan elusan itu.
"Hais aku gak akan sakit kalau cuma angin gini aja, lagipula ini ini tuh sejuk tahu."
"Dan yah kenapa kamu gak bilang kalau dari sini ada pemandangan yang sangat indah ini? Lihat tuh bukitnya hijau banget, kapan kapan aku mau ke sana boleh?" tanya Dewi menunjuk gunung itu.
"Lupa sayang, apalagi kamu gak pernah bilang kalau suka pemandangan seperti ini. Di sana banyak hewan buasnya dan juga banyak lintah. Aku jijik sama hewan yang satu itu," jawab Dewa masih memeluk Dewi dengan memberikan sedikit tiupan di leher Dewi yang membuat gadis itu kegelian.
"Tapi bagus banget tuh bukitnya," ucap Dewi masih belum puas menikmati ciptaan Tuhan di depannya.
__ADS_1
Dewi membalikkan badannya karena tangan Dewa mulai berkelana kemana mana.
Mereka saling tatap dengan, tangan Dewa yang masih berada di pinggang Dewi. Dewa menatap Dewa yang sangat tampan itu apalagi prianya itu hanya memakai kolor pendek dan kaos saja.
Tangan Dewi pun terulur untuk mengalungkan ke leher Dewa. Bahkan ia harus sedikit jinjit agar bisa mengalungkan tangannya di leher Dewa.
"Ganteng banget kalau habis mandi," ucap Dewi mengelus rahang Dewa dengan satu tangan yang masih menggantung di leher Dewa.
"Emang kalau belum mandi aku gak ganteng?" tanya Dewa menikmati elusan tangan Dewi.
"Ganteng sih tapi gak banget, kalau habis mandi pake banget apalagi rambut kamu ini. Aku suka sih, tapi kenapa gak kamu keringin dulu?" tanya Dewi mengacak acak rambut Dewa.
"Males sayang, mending gini seger gitu habis mandi," jawabnya mengecup hidung Dewi.
"Tapi nanti kamu sakit kepala," ujar Dewi yang tak ingin Dewa sakit.
"Kan ada kamu yang rawat aku," jawab Dewa dengan santainya.
"Ya kalau aku ada disini terus kalau enggak?"
"Emang kamu mau kemana?"
"Entahlah nanti."
Dewa menatap Dewi yang hanya tersenyum, bahkan gigi rapinya terlihat.
"Jangan pernah meninggalkan aku hmm."
"Aku gak akan pergi kalau bukan kamu yang nyuruh aku pergi dalam hidup kamu."
"Gak akan pernah," ucap Dewa dengan yakin.
Dewa mulai mendekat ke arah Dewi bahkan tangannya membelit pinggang kekasihnya. Dewi yang menghirup aroma mint itu memejamkan matanya dan.
Cup
"Woy!!"
Bersambung
__ADS_1
Hayo loh siapa itu? Tunggu di part selanjutnya.