
Happy reading
Tak terasa Dewi sudah merawat Dewa selama 2 Minggu lebih. Dewi juga tak mengingkari janjinya pada sang Papa yang akan merawat Dewa setalah pulang sekolah.
Selama itu pula Dewa mengikuti pelajaran secara homeschooling bersama orangtuanya dan dirinya sendiri.
Dewa tidaklah bodoh, ia hanya malas saja menghitung angka angka dan tulisan tangan ada di buku.
"Gimana belajarnya tadi?" tanya Dewi mengupas buah apel yang ada disana.
"Bagus."
"Apa kamu belum juga mengingat siapa aku?" tanya Dewi dengan sedih. Jujur ia lelah menghadapi Dewa yang bukan seperti Dewa.
"Belum."
"Ya sudahlah, aku yakin kamu akan mengingat siapa aku."
"Apa kamu juga tak ingin bertemu Cleo?" tanya Dewi pada Dewa yang sedang bersandar itu.
Mendengar nama Cleo disebut oleh Dewi membuat Dewa kesal seketika. Tapi ia harus berusaha untuk menutupinya dari Dewi. Biarlah orang menganggap dia terlalu ekstrim dalam membuat kejutan untuk Dewi.
"Cleo? Bahkan aku hampir lupa dengan pacarku itu sejak kamu yang selalu merawatku. Kenapa dia gak datang menjenguk aku ya? Padahal kita baru saja berjanji kemarin," ucap Dewa dengan muka yang sungguh sungguh padahal dihatinya ia tak tega melihat wajah Dewi yang sudah murung seperti itu.
"Aku gak tahu dia dimana tapi yang pasti Cleo sudah tak ada hubungan lagi dengan kamu," ujar Dewi dengan kesal. Bahkan Dewi memotong buah itu besar besar saking kesalnya.
"Awas piringnya pecah kalau kamu motongnya gitu," ucap Dewa yang tak tahu akhlaknya malah menghawatirkan piring daripada jari jari cantik Dewi.
"Ih dasar ya. Kamu itu cowok apa bukan sih hah? Aku gak bisa terus terus kayak gini. Aku motong buah gini harusnya kamu khawatir sama tangan aku bukan sama piring gak guna ini," ucap Dewi membanting buah itu ke piring.
Wajahnya merah menahan kesal, sudah seminggu ini Dewi menunggu Dewa yang masih dalam tahap pemulihan.
Bahkan saat ini saja, Dewi masih menggunakan seragam SMA nya dengan almamater yang sudah berada di atas sofa.
"Kamu marah?" tanya Dewa menatap takut Dewi. Entah kenapa melihat wajah Dewi yang marah seperti itu membuat Dewa takut. Ia tak bisa terus berpura pura jika melihat wajah Dewi seperti itu.
"Kamu nanya?" sewot Dewi keluar dari ruang rawat itu meninggalkan Dewa yang takut jika Dewi meninggalkannya.
Tangannya terulur untuk mengambil ponsel yang ada di samping ranjangnya.
"Awasi dan jaga kekasihku. Jangan biarkan orang jahat mendekatinya," titah Dewa pada orang yang berada diseberang.
"......"
"Beritahu apa saja yang dia lakukan di luar," tambahnya kemudian menutup panggilan itu.
Ceklek
Tiba tiba pintu dibuka dari luar, seorang dokter cantik itu datang dengan Satya yang mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dokter itu mengejek keadaan Dewa yang hanya menunjukkan muka datar.
"Sampai kapan lu bakal pura pura terus?"
"Sampai waktunya lah."
"Gue tadi lihat Dewi keluar dari ruang lu dengan marah marah. Pasti lu buat dia kesel lagi kan?" tanya Satya dan langsung dianggukkan oleh Dewa.
"Satu jam lagi aku akan datang lagi mengganti infus."
"Aku sudah tak apa. Bisa di lepas sekarang?" tanya Dewa pada dokter itu.
"Tunggu sampai kamu benar benar sembuh," jawab Dokter itu dengan senyum manisnya.
Akhirnya Dewa pasrah dan mengangguk, dokter itu meninggalkan mereka berdua di kamar.
"Tumben sendiri, Beby gak ikut?" tanya Dewa.
Hanya Satya dan Tama diantara banyaknya teman teman Dewa yang mengetahui jika Dewa hanya pura pura amnesia.
"Ada, tadi ngejar cewek lu yang mencak mencak gak jelas."
"Oh."
"Lu apain lagi Dewi sampai kayak reog gitu?" tanya Satya menarik kursi itu.
"Reog tuh kesenian dari Ponorogo Jawa Timur. Yang ada meraknya itu loh masa lu gak tahu?" tanya Satya yang kemarin baru saja lihat live Reog Ponorogo di laptopnya.
"Oalah, lu samain pacar gue kayak singa hah?" tanya Dewa tak terima jika Dewi disamakan dengan singa.
"Bukan singa, tapi harimau."
"Ya itu."
"Jawab napa."
"Tadi Dewi motong motong buah, terus gue godain lah dia malah motong kasar. Terus gue bilang kasihan piringnya kalau dia motongnya kasar gitu," cerita Dewa mengambil ponselnya dan melihat wallpaper Dewi ada di latarnya.
"Pantes aja, Dewi kayak gitu. Lu gak ingat apa kalau Dewi gak suka dibandingkan, apalagi tidak dipedulikan. Lu malah khawatir sama piring daripada pacar lu," jawab Satya yang tak habis pikir dengan Dewa.
"Habis dia gemesin kalau lagi ngambek," jawab Dewa dengan senyum manisnya.
"Serah lu dah serah. Eh gue ada berita mau kasih tahu lu," ucap Satya pada Dewa.
"Napa?"
"Langit udah nyerahin diri ke polisi tadi pagi, gue tahu dari anak geng sebelah katanya Langit menyerahkan diri," jawab Satya pada Dewa yang sedang asik dengan ponselnya langsung menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa dia nyerahin diri ke polisi?" tanya Dewa dengan bingung sekaligus kaget dengan apa yang diucapkan Satya.
__ADS_1
"Gak tahu, denger denger dia baru ketemu sama Cleo dan akhirnya dia menyerahkan diri," jawabnya dengan santai mengambil buah yang sudah dipotong itu.
"Ambil yang belum di potong itu punya gue," ucap Dewa menatap tajam Satya.
"Ah elah sama aja kali, sama sama buah juga," jawab Satya yang menaruh kembali buah apel itu.
"Itu Dewi yang potong. Gue gak mau lu makan, itu punya gue," ucap Dewa yang mulai menatap tak suka Satya.
"Dasar bucin."
"Gue udah kangen sama pelukan hangatnya setiap hari. Gue selalu nahan kalau mau peluk dia selama ini. Ternyata pura pura itu gak mudah."
"Itu tahu."
"Untuk Vino, dia gak terlihat sama kecelakaan ini. Dia bantuin lu saat diserang Langit dulu, walaupun Vino bekerja sama dengan Langit tapi dia rela ngalah demi lu."
"Ya gue tahu itu."
"Ozi?"
"Adiknya sudah dioperasi berkat uang dari lu."
"Itu yang hasil kita, bukan uang gue. Lagipula gue cuma keluar bensin doang."
"Bukan cuma bensin tapi juga tenaga dan lainnya, lu tahu kan biaya lu masuk rumah sakit kayak gini juga gak murah."
Kadang ia herman eh heran dengan Dewa yang kelewat baik pada orang. Tapi ia bangga mempunyai Dewa sebagai sahabatnya yang paling baik walau wajahnya buat orang pingin nojok.
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkk
Rahim Sengketa
Author Asri Faris
Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.
"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng
"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo
Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?
Haruskah Ajeng terima?
Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?
__ADS_1