
Happy reading
"Manja."
"Manjanya juga sama pacar sendiri, eh kita itu udah pacaran apa belum sih yank?" tanya Dewa yang sedikit bingung apa mereka sudah bisa dikatakan pacaran.
Dewa tak pernah menembak Dewi, karena ia sudah yakin jika Dewi adalah kekasihnya dan calon istrinya.
"Kita bukan pacar jadi nanti gak ada kata putus," jawab Dewi yang menghentikan jalan Dewa. Posisinya mereka berada di anak tangga ke 10.
"Dewi Arabella anak dari Mama Karina dan Papa Deren, mulai saat ini kamu adalah pacarku, tunanganku, dan juga calon istriku. Kekasihmu ini tidak menerima penolakan," ucap Dewa menggengam tangan Dewi.
Tidak romantis tapi terkesan memaksa, tapi Dewi cukup senang mendengar hal ini.
"Kamu maksa."
"Ya karena kamu itu calon istri aku sayang, jadi aku harus maksa kamu buat terima aku," ujar Dewa dengan senyum menawan miliknya.
"Ya deh apa aja buat Tuan Dewa Sanjaya Putra."
Cups
"I love you Nona."
"Me too Tuan," jawab Dewi tersenyum manis.
Mereka pun tertawa di anak tangga itu, cukup sederhana tapi cukup membuat Dewi maupun Dewa senang.
"Udah yuk kita ke kamar."
"Mau gendong?" tawar Dewa pada Dewi yang langsung dianggukkan oleh Dewi.
Dengan senyum Dewa berjongkok di depan Dewi. Dengan senyum cerah (secerah cintaku padamu), dia menaiki punggung Dewa dengan nyaman. Dengan dagu yang ia letakkan di pundak Dewa.
Dengan langkah pasti Dewa mulai mengendong tubuh Dewi menuju kamar perempuan itu.
"Kita udah pacaran kan ya?" tanya Dewi.
"Lebih daripada itu sayang," jawabnya dengan senyum manisnya. Senyum yang tak pernah Dewa tunjukkan kepada orang lain selain keluarga dan juga kekasihnya ini.
Akhirnya mereka sampai di kamar bernuansa putih abu abu milik Dewi entah kenapa gadis itu tidak memakai warna cerah seperti merah, kuning, pink atau biru?
__ADS_1
Dewa menutup pintu kamar itu dan menurunkan Dewi di kasur.
"Aku ke kamar mandi dulu hmm, mau cuci wajah. Gerah gak tahan juga pakai celana panjang mau tidur," ucap Dewa mengelus pipi Dewi yang masih menatapnya.
"Jangan lama lama kalau dikamar mandi, nanti malah ditemeni mbak Kun lagi," ujar Dewi yang membuat Dewa menggeleng. Dia tak terlalu percaya dengan hal gaib walau ia percaya jika kita hidup berdampingan dengan mereka'.
Dewa bangkit dari duduknya menuju kamar mandi yang memang ada di dalam kamar itu. Jadi tak perlu susah susah ke kamar mandi dapur jika ingin mencuci muka.
"Bahkan di kamar mandi pun ada foto aku," ucap Dewa menatap foto candid yang dipasang di atas tempat sabun.
Ternyata Dewi tak kalah bucin dengan Dewa. Padahal dulu ia pikir hanya Dewa yang bucin terhadap Dewi tapi nyatanya sama saja.
Ia melepas celana panjangnya, karena Dewa tak tahan jika tidur dengan celana panjang. Ia selalu memakai boxer kesayangannya.
Setelah selesai mencuci muka, tangan, kaki, dan lain' itu, Dewa keluar dari kamar mandi hanya memakai celana boxer tanpa atasan karena kaosnya ia lepas tadi di rumah keluarga. Entah bagaimana jika ada yang menemukan jaket serta kaos milik Dewa di bawah.
Dewi yang sedang memainkan ponselnya itu kemudian tatapannya mulai mengarah ke arah kamar mandi. Tiba tiba wajahnya memerah karena melihat tubuh Dewa yang hampir dibilang polos.
"Kenapa gak pakai baju sih?"
"Halah kamu juga senang aku cuma pakek kolor," jawab Dewa berjalan menuju tempat tidur dan melompat menuju Dewi yang sedang bersandar di head board.
"Kamu tuh, bisa gak sih jangan buat aku malu."
Dewa menjadikan paha Dewi sebagai bantal untuk ya tidur dengan tangan meraih ponsel milik kekasihnya yang ada di kasur.
"Boleh aku buka?" tanya Dewa pada Dewi.
"Boleh. Kalau ponsel kamu boleh aku lihat apa enggak?" tanya Dewi menatap ponsel Dewa yang tadi ia bawa.
"Boleh sayang, biar gak ada yang perlu disembunyikan sama kita," jawab Dewa mulai membuka sandi ponsel itu hingga terlihatlah foto dirinya yang tengah memeluk Dewi dari belakang.
Dewa tersenyum melihat itu, ia tak bisa lagi menahan tarikan bibirnya untuk tidak tersenyum.
Hal pertama yang ia buka adalah aplikasi hijau yang sudah lama ingin ia lihat.
Sedangkan Dewi yang memang sudah tahu sandi ponsel kekasihnya itu mulai mengetikkan sandi ponsel itu.
Tak jauh beda dengan ponsel miliknya, layar utama itu memperlihatkan dia yang sedang tidur di apartemen milik Dewa. Dengan tubuh yang tertutup selimut tapi pundaknya yang sedikit tak tertutup.
"Kamu ambil foto ini kapan?" tanya Dewi memperlihatkan foto itu.
__ADS_1
"Lama banget, saat kamu menginap di apartemen aku. Tanpa kamu tahu aku foto kamu," jawabnya tanpa menatap wajah Dewi karena ia masih sibuk dengan aplikasi yang dibukanya tadi.
"Ini namanya melanggar privasi aku ayang."
"Enggak juga aku sudah bilang tapi kamu gak jawab karena tidur."
"Ishh."
Tak jauh dari Dewa yang membuka aplikasi WhatsAppnya Dewi juga membuka WhatsApp milik Dewa. Terlihat nomornya dinamakan My Angel, diurutan paling atas.
Tak ada yang aneh di WhatsApp kekasihnya, bahkan dari banyak wanita yang chat dengan Dewa tak ada satupun yang tersimpan. Bahkan kontak di WhatsApp itu tak sampai 20 kontak.
Bugh
Dewa meleparkan ponsel Dewi di kasur dan mulai memeluk perut Dewi dengan lembut.
"Sayang elus kepala aku biar cepat tidur," manja Dewa yang mau tak mau Dewi harus menurutinya.
"Terus kalau kamu tidur dulu, aku gimana?" tanya Dewi menatap Dewa dengan tangan yang mengelus kepala Dewa dengan lembut.
"Tinggal tidur aja apa susahnya. Aku maunya kamu elus elus biar cepat bobo."
"Iya iya bayi gede yang manjanya cuma sama aku. Kalau aja anak anak tahu ketuanya mania seperti ini pasti diketawain sama mereka," ujar Dewi dengan tawa yang tak bisa ditahan.
"Aku manja juga karena sudah menemukan orang yang tepat untukku buat bermanja."
"Kenapa bilang seperti itu? Banyak yang bilang seseorang akan berubah jika bertemu orang yang tepat. Apa itu benar? Karena menurutku orang itu berubah karena kemauannya dalam diri sendiri."
"Karena tanpa adanya seseorang yang ingin membuatnya berubah dia tak akan berubah. Jadi intinya kamu adalah orang yang berhasil membuat aku berubah seperti ini," jawab Dewa dengan senyum manis. Ia masuk ke dalam kaos Dewi yang longgar kemudian ia mengecup perut Dewa.
Tapi tatapan matanya malah terarah ke dua gunung yang tidak berpelindung itu.
"Sayang gak pakai bra ya?" tanya Dewa menyentuh dada itu.
"Gak pernah suka kalau tidur pakai bra, kamu tahu sendiri kan."
"Heem, dan aku suka dengan itu. Ini lihat sangat besar," ujar Dewa menyentuh dada itu dengan lembut.
Dengan cepat Dewi melepas pegangan tangan Dewa di dadanya. Ia merasa geli karena disentuh oleh Dewa.
"Jangan nakal."
__ADS_1
Bersambung