
Happy reading
Cups
"Sudahlah jangan menangis lagi," ucap Dewa mengelus punggung kekasihnya yang sedang menangis.
Dewa tak bisa melihat kekasihnya ini terus menangis. Setelah Beby dan Satya tadi pulang.
"Aku cuma gak nyangka kalau Adam dan adiknya jahat sama kita," ucap Dewi menghapus air matanya dengan kasar.
Dewa akan membalas air mata Dewi yang sudah jatuh karena Adam dan Vivi. Dewa sangat tidak menginginkan air mata keluar dari wanita wanita yang ia cintai yaitu Mama, Naila, dan Dewi sebagai kekasihnya kecuali itu air mata kebahagiaan.
Dewa menatap mata berair Dewi kemudian menghapusnya.
Dewa mengecup bibir Dewi yang bergetar karena menangis. Dewa menghentikan isakan yang keluar dari mulut Dewi. Pria itu membawa kekasihnya kepangkuannya dan kembali mencium bibir Dewi, tangan Dewi di letakkan di leher Dewa.
Dewa yang merasa tak mendapat balasan dari Dewi itu langsung menggigit pelan bibir bawa Dewi hingga mau tak mau Dewi membuka mulutnya.
Ciuman itu berakhir dengan panas, Dewa dan Dewi seperti tak kenal tempat jika sudah begini. Tangan nakal Dewa yang tadi mengelus punggung bergetar Dewi beralih masuk ke dalam hoodie Dewi.
"Eughh Dewa."
Mama Riska dan Papa Albert yang ingin keluar itu dapat melihat dengan langsung kedua anaknya itu berciuman.
"Pah, anak kita pah," ucap Mama Riska syok melihat apa yang ia lihat.
"Kayak gak pernah muda aja sih ma," jawab Papa mengelus perut Mama Riska.
Mereka yang ingin ke supermarket membeli susu hamil untuk Mama Riska itu harus disuguhkan oleh pemandangan yang membuat jiwa muda mereka bangkit. Bagaimana tidak jika Mama dan Papa melihat anak dan calon mantunya sedang berciuman di ruang tamu dengan posisi yang sangat int*m.
"Papa mereka belum menikah," ucap Mama Riska dengan kesal. Suaminya ini selalu saja membela Dewa dan Dewi jika anak anak mereka berbuat salah.
"Tapi mereka mengingatkan kita tentang masa muda kita. Kenapa kemarin Mama kayak nolak gitu saat Papa mau menikahkan mereka?" tanya Papa menatap istrinya.
"Mama pikir mereka tidak akan sejauh itu," jawab Mama Riska menatap suaminya.
Keduanya berjalan menuju kedua anaknya dan berdehem di belakang mereka. Dewi yang menyadari ada Mama Riska dan Papa Albert itu langsung melepaskan ciuman Dewa.
__ADS_1
"Ada Mama Papa," ucap Dewi ingin beranjak dari pangkuan Dewa tapi sepertinya pria itu aku mau karena Dewa masih menahan Dewi dan menjatuhkan kepalanya di dada Dewi.
"Biarin aja, biar mereka cepet nikahin kita," jawab Dewa lirih bahkan yang dengar hanya Dewi saja.
"Ma pa ini gak seperti yang kalian lihat kok. Ini cuma anu apa aku sama Dewa," ucap Dewi tak jelas karena ia gugup dan takut pada Mama dan Papa Dewa yang memergoki mereka.
"Dewa biarkan Dewi lepas dari pangkuan kamu," ucap Mama Riska menjewer Dewa. Bukannya mengaduh sakit tapi Dewa malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Gak mau Mama, Dewa udah PW," jawab Dewa yang semakin memancing rasa kesal Mama Riska.
"Ih udah PW, gimana kalau Dewi Mama pulangkan ke rumahnya kamu masih PW?"
"Diapelin ke rumahnya," jawab Dewa dengan santainya.
"Yang udah sayang, nanti kita malah dapat masalah sama Mama dan Papa," ucap Dewi menatap Dewa yang sepertinya sangat tak mau melepaskannya.
"Kita gak ngapa ngapain kok Ma Pa. Dewa aja nih yang bendel," ucap Dewi dengan melas.
"Sepertinya benar yang di katakan papa, kalian harus secepatnya menikah," ucap Mama Riska menatap anak dan calon menantunya.
Dewa yang mendengar kata menikah langsung mengangkatnya kepalanya, kemudian menatap Mamanya dengan tak percaya.
"Masalah nikah aja cepet," ucap Mama Riska mencewer lagi telinga Dewa.
Dewi yang ada kesempatan untuk bangun itu langsung bangun dari pangkuan Dewa.
Dewa sempat tak terima Dewi bangun dari pangkuannya. Tapi apa boleh buat disana ada Mama Papanya tak mungkin ia merengek. Bisa bisa ia ditertawakan oleh Mama dan Papanya.
"Mama sama Papa mau kemana?" tanya Dewa pada Mama dan Papanya yang sudah berpakaian santai.
"Ke supermarket beli susu hamil, tapi masih di rumah aja udah lihat kalian berciuman," jawan Mama Riska.
"Hmm, kamu laki laki Dewa. Jangan pernah merusak Dewi karena Papa dan Mama sudah menganggap dia sebagai anak kandung kami sendiri. Kalau sampai kamu membuat dia sakit atau merusaknya siap siap mendapat hukuman dari dua keluarga kita," ucap Papa Albert dengan dingin sangat berbeda saat bersama Mama Riska tadi.
Dewa yang mendengar ucapan Papanya itu langsung menatap Dewi yang menunduk. Dewi masih merasa malu dan bersalah karena hal ini.
"Dewa masih tahu batasannya kok, Pa. Dewa gak akan merusak Dewi sebelum menikah. Tanya aja Dewi, kami cuma kissing dan cium kening aja tak lebih."
__ADS_1
"Hmm. Itu tadi cuma peringatan aja," jawab Papa Albert.
"Dewa kan udah janji sama Mama Papa. Kalian bisa pegang ucapan Dewa."
"Iya Ma, Pa. Kami tidak pernah kelewat batas kok. Cuma kissing aja gak lebih," ucap Dewi ikut membela Dewa. Karena pada dasarnya Dewi juga menikmati ciuman Dewa.
"Kami percaya, tapi tolong jaga kepercayaan kami ya sayang. Mama gak mau kamu kenapa napa, apalagi umur kalian masih muda," pesan Mama Riska dan dianggukkan oleh mereka.
Setelah itu, Mama dan Papa Dewa pamit pergi. Meninggalkan Dewa dan Dewi yang berada di ruang tamu itu.
"Malu banget aku," ucap Dewi menutup wajahnya dengan bantal sofa yang ada disana.
"Kenapa mesti malu, mereka pernah muda dan pernah melakukan apa yang kita lakukan," jawab Dewa dengan senyum tangganya kembali menyentuh bagian tubuh Dewi.
Dewi yang tak mau adegan tadi terulang lagi langsung berlari menuju kamarnya dan tak sengaja berpapasan dengan Naila dan Louis yang sedang duduk di tangga.
"Kakak kenapa?" tanya Naila mencium punggung tangan Dewi.
"Gak apa apa dek, Kakak mau ke kamar."
"Halah pasti ke gep."
Ucapan Louis sangat tepat, tapi kenapa adik ya bisa tahu padahal antara tangga dan tangga itu cukup jauh.
Hingga Dewi teringat ucapan teman temannya tadi sebelum pulang.
"Kalian besok mau ikut ke puncak gak?" tanya Dewi pada kedua adiknya. Tapi tampaknya kedua adiknya itu tidak tertarik dengan ajakan Dewi.
"Naila lusa ulangan kak, jadi harus belajar. Maaf ya Naila gak bisa ikut," jawab Naila dengan sopan. Baginya Dewi adalah kakak sekaligus teman untuk Naila.
"Louis males keluar, besok Papa Albert janji mau ajarin Louis main PS."
"Jadi kalian gak mau ikut ke puncak?" tanya Dewi. Padahal ia ingin adik adiknya ikut.
"Ya sudah kalau begitu, kakak ke atas dulu ya," ucap Dewi dan dianggukkan oleh mereka.
Dewi berjalan menuju kamarnya dengan langkah cepat. Ia tak mau Dewa masuk ke kamarnya untuk saat ini tapi sepertinya hal itu tidak akan terlaksana karena kamar Dewa dan kamar samping itu terhubung.
__ADS_1
Bersambung