Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Sudah Pantas


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa hari sudah pagi, entah kenapa dada Dewi terasa sedikit linu entah apa sebabnya. Tapi ia tak ambil pusing, ia sudah mandi dan sedang menunggu kekasihnya yang sedang berganti seragam di walk closed itu. Untungnya ia memiliki seragam baru yang kebesaran dan juga celana yang sempat ia beli dulu sebelum sekolah entah apa maksud Dewi dulu sampai beli celana seragam padahal ia pakai rok.


Tak lama Dewa keluar dari walk closed, Dewi yang sudah menyiapkan kaos kaki dan dasi miliknya.


"Ayang, sekali kali kamu harus tertib. Pakai dasi, bukan cuma pakai kaos dan kancing baju di buka semua."


"Gak mau sayang, gerah banget sumpah. Apalagi pakai dasi ini rasanya mencekik leher aku," jawab Dewa menarik kembali dasi yang sudah dipasang kekasihnya.


"Kenapa kamu bandel banget sih hmm? Tertib dikit aja gak akan buat kamu menyesal kok."


"Tetap gak mau, nanti aku gak cool lagi. Nanti kamu malah ilfil lagi sama aku," jawab Dewa memberikan kecupan singkat di bibir pink kemerahan Dewi.


"Haiss, aku lebih suka cowok rapi daripada cowok cool," jawab Dewi menatap lembut Dewa. Agar kekasihnya itu tidak terus terus mendapatkan omelan dari guru mapel atau guru BK.


"Kayak Adam?" tanya Dewa dengan cemburu.


Jika soal kerapian Adam adalah pria yang perlu diawasi Dewa. Ia tak mau Dewi terpincut dengan Adam yang notabene adalah Ketua OSIS dan juga ketua kedisplinan. Bahkan dulu Dewa adalah orang yang sangat sering berhadapan dengan Adam karena ketidak disiplinnya Dewa saat itu. Tapi bodohnya Dewa juga tak tahu jika di sana ada Dewi. Calon tunangannya dulu sebelum bertemu.


"Aku tetap gak mau, aku gak mau rapi cuma gara gara kamu. Dan juga aku gak mau dikira adik dari Adam yang tak lain adalah ketua kedisiplinan," Dewa kekeuh untuk tidak memakai dasi itu bahkan Dewa melemparkan Dasi itu ke atas lemari.


"Astaga Ayang, itu dasi aku. Kenapa kamu lempar ke atas lemari?" tanya Dewi dengan kesal pada Dewa.


"Karena aku gak mau rapi kayak Adam si curut bajingan itu. Aku mau jadi diriku sendiri, kamu tahu kan aku tak mau menjadi orang lain. Karena ini sifatku, terlihat badboy walau kenyataan aku sangat berprestasi," jawab Dewa menarik tangan kekasihnya agar keluar dari kamar itu.


Dewa membiarkan kancing bajunya terlepas begitu saja bahkan kaos yang ia pakai sangat terlihat untungnya polos jika ada motif hello kitty kan jadi lucu.


Akhirnya Dewi pasrah dengan kekasihnya yang tak mau ia atur. Tapi lihat saja saat ia nanti sudah menjadi istri Dewa. Tak akan ia biarkan Dewa berandal seperti ini.


Mereka berdua turun dari kamar, ternyata Louis belum turun hingga membuat Dewi harus membangunkan Louis terlebih dahulu. Belum juga sampai di kamar adiknya, Louis sudah berlari saat mendengar suara Dewa.


"Kak Dewa," teriak Louis berlari menuju Dewa. Untung Dewa bisa dengan cepat menangkap Louis.


"Jangan lari lari, nanti jatuh," ujar Dewa menurunkan Louis dan mengacak rambut bocah SD itu.


"Hehehe, kak Dewa kapan kesini?" tanya Louis pada Dewa.

__ADS_1


"Tadi malam, kak Dewa juga yang mindahin kamu ke kamar," bukan Dewa yang menjawab tapi Dewi.


Wanita itu sangat tak suka jika adiknya terlalu senang dengan Dewa daripada ia. Tapi apa boleh buat Dewa memang selalu bisa mengambil hati orang orang yang ada di rumah ini.


"Yuk turun, kita sarapan bareng. Habis itu kakak antar kamu ke sekolah," ucap Dewa mengajak adik dan calon istrinya ke bawah.


"Pulangnya?"


"Di jemput pak Amar," jawab Dewa menggandeng tangan Dewi yang ada di belakang itu.


"Kenapa sih kok kayak cemberut gitu?" tanya Dewa dengan pelan.


"Louis lebih suka kamu daripada aku," jawab Dewi tanpa basa basi.


"Jadi kamu cemburu sama aku? Hey sayangku, hari ini kamu cantik. Kamu tetap kakak kandung dari Louis, bagaimana pun Louis dia akan tetap sayang dan cinta sama kamu sebagai adik ke kakak. Sedangkan aku, aku hanya calon kakak ipar, tentu aku gak mau kalau kita menikah nanti Louis gak suka sama aku," ujar Dewa yang dianggukkan oleh Dewi sambil tersenyum.


"Iya."


Mereka bertiga sampai ruang makan, sarapan sudah tersaji di atas meja. Akhirnya mereka menikmati sarapan pagi mereka untuk pertama kalinya seperti keluarga. Dewa sebagai ayah, Dewi sebagai ibu dan Louis sebagai anak.


"Kamu pantes jadi Ibu buat anak anak aku yank. Gimana kalau kita nikah aja?" ajak Dewa dengan senyum cerah.


"Bukannya aku gak mau Ayang, tapi kita itu masih sekolah. Tunggulah sampai kita lulus SMA atau enggak sampai kita lulus kuliah. Aku masih ingin menjadi desainer yang bisa buat ranjang baju kamu dan anak anak kita nanti."


"Bahkan kamu sudah memikirkan untuk merancang baju untuk anak anak kita?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.


"Lagipula aku gak mau cuma berdiam diri di rumah aja. Kalaupun aku dirumah aku ada pekerjaan."


"Iya kamu benar, tapi rasanya aku tak tahan untuk segera menghalalkan kamu sayang," ucap Dewa menatap wajah Dewi yang sangat lembut memperlakukannya.


"Kita pikir nanti aja, sekarang kita sarapan dulu. Aku gak mau sampai sakit perut karena gak sarapan," ajak Dewi pada kekasih dan adiknya yang sedari tadi diam memakan makannya.


Setelah sarapan Dewa, Dewi, serta Louis berjalan menuju mobil Dewi yang terparkir di garasi rumah.


"Kak kenapa gak pake motor aja? Mumpung cuaca juga hangat biar kak Dewi juga bisa merasakan hangat dikit."


"Kamu yakin mau naik motor?" tanya Dewa pada Louis yang mengangguk sedangkan Dewi menatap langit yang ternyata juga cerah setelah berberapa hari hujan terus.

__ADS_1


"Aku gak apa apa."


Akhirnya Dewa memutuskan untuk menaiki motornya dengan Louis yang ada di depan. Untungnya Dewi juga membawa jaket hingga tubuhnya hangat dan Dewa menarik tangan Dewi untuk memasukkan tangan Dewi ke sakit jaketnya agar lebih hangat lagi.


"Pelan pelan aja, telat sampai sekolah gak apa apa," pinta Dewi pada Dewa ia tak mau dengan naik motor membuat ia sakit lagi.


"Hmm."


Motor sport milik Dewa itu melaju meninggalkan area rumah Dewi yang memiliki halaman sangat luas itu.


Tak banyak perbincangan dalam perjalanan menuju sekolah Louis itu karena Dewi menyandarkan kepalanya di bahu Dewa dan Dewa juga menikmati itu ia tak mau membuat Dewi sakit.


Akhirnya berberapa saat motor itu sampai di depan sekolah bertingkat dua itu. Sekolah tempat Louis belajar.


"Uang sakunya masih atau udah habis?" tanya Dewa pada Louis.


"Habis kak, kemarin Mama ngasihnya dikit."


Dewa mengeluarkan uang dari dalam tasnya, kemudian memberikan pada Louis.


"Terima kasih kakak ipar," ucap Louis menerima uang dengan senang hati.


Setelah itu Louis pamit pada kedua kakaknya, tak terkecuali Dewi yang tadi memeluk Dewa.


"Siap."


"Hmm."


"Kamu kedinginan?" tanya Dewa.


"Enggak ternyata naik motor pagi pagi gini enak banget," jawabnya tanpa malu memeluk erat tubuh Dewa.


"Dasar. Lain kali aku bakal aja kamu keliling kalau udah gak musim hujan lagi."


"Hmm."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2