Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Raka Lolos


__ADS_3

"Bagaimana ?" Tanya Mami Rachel sedikit gugup. Ia sedang mematut wajahnya di cermin, mengoleskan gincu warna merah terang ke bibirnya yang seksi. Di luar, senja sudah mulai menghilang berganti malam. Waktunya mami Rachel beraksi karena King's Club selalu ramai pengunjung, bahkan full bookingan.


"Beres, Mi." Jawab seseorang di ujung telepon.


"Bagus ! Bawa langsung ke alamat yang sudah saya kirimkan. Biarkan disana sampai semua keadaan aman." Perintah Mami Rachel lagi. Sekarang tangannya memencet ujung botol parfum, menyemprotkan nya pada bawah telinga, pergelangan tangan, dan di daerah-daerah yang jadi pusat perhatian.


Menatap pantulan tubuhnya di cermin dengan memakai gaun merah ini seperti mengingatkannya pada sesuatu. Ah, dia lupa lagi. Tangannya memijat pelipisnya, tiba-tiba merasa pusing.


"Luna ! Tolong ambilkan saya minum." Perintahnya pada wanita yang berdiri tak jauh darinya. Yang di panggil Luna menurut. Meletakkan lipstik dan bedaknya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar toilet.


***


Aksa memutuskan untuk langsung membawa jenazah Aris pulang ke rumah untuk segera di makamkan. Saat Hilda sadar, dia histeris mendengar Aris, suaminya meninggal. Saking asyiknya dia sampai pingsan lagi


Citra sibuk mengurus semuanya, tentu di bantu Lena. Tante Mia dan Om Hardi juga datang mengucapkan ikut bela sungkawa.


Roy, Ricky dan Satria akan ikut membantu proses pemakaman hingga selesai.


Orang-orang yang melayat berkumpul di ruangan tengah. Jenazah di letakkan di tengah-tengah menunggu untuk di sholatkan.


Citra duduk tak jauh dari Hilda. Tiba-tiba Aksa masuk dengan mata memerah, pandangan menunduk ke bawah. Tergambar jelas pada raut wajahnya bahwa dia sedang hancur. Tatapannya lurus menatap jenazah Aris sampai Aksa melihat Hilda yang tak berdaya duduk bersandar pada dinding. Mata itu sembab namun sudah tidak mengeluarkan air mata. Aksa berjalan menghampiri sang ibu, masih dengan menundukkan kepala. Mengatur duduknya di samping Hilda. Hilda mengangkat wajahnya menatap Aksa lalu merangkul lengan Aksa. Tangisan itu pecah lagi. Pandangan Aksa beralih menatap sang ayah yang terbujur kaku di dalam keranda bertutupkan kain warna hijau.


Hingga beberapa hari berlalu, di dalam rumah itu berubah begitu sunyi, sepi. Hilda yang sebelumnya begitu semangat dengan kehadiran Citra, kini hanya sesekali terlihat keluar kamar lalu kembali lagi. Citra juga terpuruk. Tapi melihat mereka yang benar-benar hancur, membuat Citra berusaha untuk memahami. Tidak menanyakan apapun atau mengganggu mereka terlebih dahulu. Aksa dan Hilda butuh waktu untuk menyendiri dan menerima semuanya. Sepertinya dirinya dulu saat kehilangan ibunya, dan juga bayinya.


Malam itu, Hilda menyerahkan sebuah surat kepada Aksa.


"Mama menemukan surat ini di bawah lipatan baju. Mungkin papa ingin memberikannya saat kamu pulang ke rumah." Hilda mengatur posisi duduknya di samping Aksa.


Aksa menerimanya.


"Tapi mungkin dia tidak mengira kamu akan menerimanya dalam keadaan seperti ini." Lanjut Hilda.


Hilda menyeka air matanya yang hampir basah lagi. Dia memilih meninggalkan Aksa sendirian untuk membaca surat itu. Sedangkan Citra masih berdiri di ambang pintu menatap ke arah Aksa. Dia tidak akan meninggalkan nya barang semenit, meski harus dari kejauhan.


Aksa mulai membaca surat itu.

__ADS_1


"Aksa, papa sangat merindukanmu akhir-akhir ini. Entah kenapa jarak antara kita tumbuh, hubungan kita begitu dingin, jarang sekali bicara. Papa rasa, papa alasan semua ini.


Papa tahu, kamu memandang papa sebagai ayah yang gagal, ayah yang egois dan kurang memperhatikanmu sejak kecil.


Tapi papa tak pernah merasa gagal.


Papa buka gagal menjadi ayahmu, papa gagal menjadi temanmu, mendampingimu. Terlalu sibuk bekerja dan terlalu berambisi hingga mengabaikan keinginan mu.


Papa tahu kau akan mencapai apapun yang kau inginkan. Itu sebabnya papa memaksamu untuk melakukan apa yang tak bisa papa lakukan seperti setiap ayah.


Maafkan papa jika memungkinkan, Nak.


Papa sangat merindukanmu, Aksa.


Papa mengingat hal-hal kecil. Kau ingat ? Aku biasa menemanimu jalan-jalan di taman saat kau masih kecil.


Jika kau pulang ke rumah, aku ingin kita banyak bicara, menghabiskan waktu bersama."


Dada Aksa terasa sesak. Sesak sekali. Matanya kembali basah. Citra tidak tahan lagi, dia beranjak dan mendekati Aksa, duduk di samping Aksa.


"Papa Aris tergila-gila padamu, Mas. Tapi entah kenapa tidak ada kata-kata di antara kalian." Ucap Citra lirih.


***


Siang itu Roy menerima telepon dari Satria.


"Bagaimana Roy ? Sudah ada surat panggilan dari kepolisian untuk datang memberi kesaksian dan barang bukti ?" Tanya Satria ingin memastikan kasus Raka sudah berjalan lancar atau belum.


Roy sedikit terkejut. Setelah beberapa hari, dirinya baru menyadari belum ada hal yang seperti itu.


"Belum, Sat." Jawab Roy.


"Kok aneh ? Ini sudah hampir seminggu lho ? Kenapa kamu tidak memberitahu ku, Roy ?!" Satria panik. Ada yang tidak beres.


"Mana aku tahu, Sat. Karena kematian Om Aris, aku jadi kurang fokus." Roy mengakuinya.

__ADS_1


"Hari ini aku ada urusan penting, belum bisa mengecek ke kepolisian langsung. Kalau kamu ada waktu nanti siang, coba bisa menanyakannya langsung." Satria mengusulkan. Roy mengangguk mengerti.


"Kenapa gue gak ingat sama sekali ? Apa gue mulai pikun ?" Rutuknya pada diri sendiri.


...


Roy bergerak tanpa instruksi dari Aksa. Dia bersama Satria pergi ke kantor polisi yang jaraknya paling dekat dari basecamp nya, memeriksa laporan pengaduannya beberapa hari yang lalu.


"Siapa yang pergi menangani kasus itu kemarin ?" Tanya kepala polisi kepada seseorang yang berdiri di sampingnya.


Beberapa nama polisi yang disebutkan ternyata sudah beberapa hari setelah kejadian itu mereka tidak lagi terlihat datang untuk bertugas.


Aneh ! Roy terperanjat, mencengkeram sandaran kursi dengan kuat hingga otot-otot tangannya menegang.


Sial ! Ada yang membodohi nya ! Siapa yang telah menyabotase para polisi itu ? Seharusnya kemarin dia tidak buru-buru pergi.


...


"Kenapa kemarin kita tidak menyadarinya ?" Roy masih tidak percaya dirinya begitu teledor.


"Mungkin ada orang lain yang sudah merencanakannya. Raka dalam kondisi seperti itu tidak akan bisa melakukan banyak hal. Menurut mu siapa yang melakukannya ?" Racau Satria sembari kakinya terus berjalan mengimbangi langkah Roy yang melambat.


"Aku tahu siapa yang melakukannya !" Kata Roy tiba-tiba, masih mematung di samping Satria.


"Siapa ?" Satria mulai tau sabar.


"Mami Rachel." Ada emosi yang tak bisa dijelaskan dari nada suara itu.


"Kita harus segera menemukan Raka, Roy ! Aku takut dia akan semakin berani meneror Citra. Pak Aris sudah tiada. Jika merek menginginkan posisi direktur, sasaran selanjutnya adalah..." Satria belum menyelesaikan perkataannya.


"Aksa !" Sela Roy.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung,


__ADS_2