Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Penyesalan Satria


__ADS_3

Satria yang masih berada di kantornya, sedang duduk di kursi kerjanya sambil berputar-putar ke kanan dan ke kiri mengingat cek senilai 200 juta yang diberikan pengacara Aksa tadi pagi.


Satria membuka laci mejanya, mengambil cek tersebut dan menatap sendu cek tersebut.


"Maafin aku, Cit !!" lirih Satria.


Dia teringat ucapannya kepada Citra. Dia akui saat itu dirinya benar-benar terbawa emosi saat mengetahui keputusan Citra yang akan menikah dengan Aksa. Pikirnya, Citra seakan menutup mata dan hati untuk dirinya.


Apalagi saat Citra mengatakan kebenaran bahwa Aksa yang telah mengambil kesuciannya. Ada rasa kesal dan geram yang langsung saja muncul di hatinya saat itu, membuat dia tidak bisa lagi mengontrol ucapannya.


Tapi saat ini Satria sadar, mungkin Allah belum mengizinkan Citra berada dalam takdirnya.


Setidaknya dengan melihat Citra bahagia, itu sudah cukup bagi Satria. Tapi, apakah Citra bisa bahagia ? Sementara dia hanya dijadikan yang kedua oleh Aksa.


Satria meraih ponselnya dan membuka situs website donasi dimana ibunya Citra terdaftar. Dia mengecek jumlah nominalnya, masih sangat kurang.


Satria pun langsung bergegas menuju bank untuk mencairkan cek tersebut dan langsung mendonasikan uang itu untuk ibunya Citra.


Setelah urusannya selesai, Satria berniat menemui Citra di rumah sakit untuk meminta maaf secara langsung atas perkataan nya yang sudah sangat kasar pada Citra.

__ADS_1


Hanya dalam waktu 30 menit, Satria sudah tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar rawat Ibu Nurul.


"Cit..." Panggil Satria.


"Mau apa kamu menemui wanita murahan sepertiku ?" tanya Citra ketus.


"Maaf..." lirih Satria.


"Maaf ?" Citra mengulangi ucapan Satria.


"Iya, aku minta maaf Cit. Aku sadar ucapan ku sudah sangat keterlaluan. Aku terbawa emosi saat itu." jelas Satria.


"Aku hanya gak rela kamu dijadikan yang kedua, Citra !! Tolong mengertilah !!" ucap Satria.


"Sudah ku katakan itu urusanku, Satria !! Mau jadi yang kedua atau yang pertama aku gak peduli. Yang terpenting bagiku, ibu harus segera sembuh !! Lagipula, kita gak cukup dekat untuk membicarakan hal pribadi seperti ini." ucap Citra kali ini menatap Satria tegas.


"Baiklah. Entah kita yang gak dekat atau kamu yang selalu menjauh dariku, aku hargai keputusan mu !! Aku hanya berharap kamu menemukan kebahagiaan mu bersama laki-laki yang kamu pilih itu."


Entah kenapa hati Citra rasanya sakit mendengar kata kebahagiaan yang keluar dari mulut Satria.

__ADS_1


Kebahagiaan... apakah dirinya bisa merasakan apa itu bahagia ?


Dulu dirinya sangat mengharapkan akan datang nya kebahagiaan dalam hidupnya. Tapi seiring berjalan waktu, kejadian demi kejadian yang dia alami membuat Citra berpikir apakah kebahagiaan itu benar adanya atau hanya kamuflase belaka.


Entahlah !! Saat ini Citra hanya menjalani kehidupannya berdasarkan realita dan tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.


"Makasih, Sat !! Semoga harapanmu terkabul. Tapi, maaf jika aku harus meminta kamu untuk pergi dari sini. Aku gak mau calon suamiku marah dengan kedatangan mu kemari. Dan mulai saat ini jangan pernah lagi menemui atau menghubungi ku lagi. Karena nanti malam adalah pernikahan ku dengan Mas Aksa dan besok kami akan segera ke Singapura untuk operasi ibu." jelas Citra.


Ada rasa kecewa di hari Satria saat mendengar permintaan Citra.


Wanita yang dia sukai secara diam-diam selama ini, sekarang memintanya mundur secara terang-terangan.


"Baiklah Cit, kalau itu yang kamu inginkan. Aku mundur sekarang. Aku berdoa semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu ini. Dan aku juga berdoa untuk kesembuhan ibumu." ucap Satria.


"Makasih, Sat !!"


"Aku pamit." ucap Satria lalu meninggalkan Citra yang hanya bisa memandangi bayangan Satria yang sudah hilang.


"Maafkan aku, Sat... "

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2