Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Citra Sanjaya


__ADS_3

"Pagi, Bu Nurul... bagaimana hari ini ? Apa masih sesak dan sakit dadanya ?" Tanya Dokter Dimas.


"Iya Dok, masih sakit. Apa saya bisa sembuh tanpa menjalani operasi ?" tanya Ibu Nurul.


"Ibu..." Citra protes dengan pertanyaan ibunya.


"Bisa sembuh, tapi wajib operasi." ucap Dokter Dimas sambil tersenyum.


"Kalau begitu lebih baik saya keluar dari rumah sakit ini aja, dok. Karena kami gak punya uang." jawab Nurul.


"Ibu, Citra punya uang kok buat operasi ibu. Ibu jangan pikirin hal itu lagi ya.." tukas Citra menahan air matanya.


"Sudah.. itu bisa dibahas nanti. Oh iya Bu Nurul, kenalkan ini Dokter Aksa. Beliau adalah dokter hebat Spesialis Jantung di rumah sakit ini. Sekaligus beliau juga adalah pemilik rumah sakit ini." ucap Dokter Dimas memperkenalkan Aksa.


Degh !


Jantung Citra berdebar kencang. Ada rasa takut saat mendengar nama Aksa.


Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa rumah sakit ini adalah miliknya.


Sempat terlintas pikiran untuk meminta bantuannya, tapi ada rasa gengsi juga jika harus meminta bantuan laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya.


"Halo Bu Nurul." Sapa Aksa.


"Halo Dok. Wahh, dokter ini tampan sekali. Semoga saja saya dapat menantu seperti dokter.." ucap Nurul tersenyum ramah.


Ucapan Nurul itu tentu saja membuat Aksa mengembangkan senyumnya.


"Amin, Bu !!" jawab Aksa dengan semangat.


Hal itu membuat dokter Dimas dan kedua perawat disitu tersenyum.


Tapi tidak dengan Citra.

__ADS_1


"Ibu.. kalau ngomong jangan sembarangan gitu !!" protes Citra.


"Itu kan Doa, Citra ! Kalau berdoa itu harus yang baik-baik, Nak." balas Nurul.


Citra diam karena tidak mau berdebat dengan ibunya yang sedang sakit.


"Bu, kedatangan saya kesini adalah untuk memberitahu bahwa mulai saat ini Ibu akan menjadi pasien saya. Mengenai semua rekam medis Ibu, saya yang akan menanganinya. Termasuk jadwal operasi ibu." Tutur Aksa.


"Hah ?! Kamu kok-" refleks Citra protes saat mendengar ucapan Aksa.


"Citra !! Yang sopan !!!" tegur Ibu Nurul.


"Maaf, Bu !"


Citra pun kembali diam.


"Dokter, maafin anak saya ya. Dia emang gitu, suka judes kalau sama laki-laki. Tapi Dok, saya minta di pulangkan saja. Kami tidak ada uang untuk berobat apalagi untuk operasi." ucap Nurul.


"Tapi Cit.."


"Ibu akan tetap d rawat di rumah sakit ini. Ibu sudah terdaftar yayasan untuk donasi bantuan penderita gagal jantung. Jadi untuk biaya jangan dipikirkan lagi, ya.. Kalau ibu banyak pikiran malah akan membuat sakitnya semakin terasa." ucap Aksa memotong perdebatan antara ibu dan anak itu.


"Yang dikatakan Dokter Aksa itu benar, Ibu Nurul. Saya harap Ibu Nurul meyakinkan diri saja untuk kesembuhan Ibu." timpal Dokter Dimas.


Citra mengerutkan dahinya, merasa ada yang aneh. Sepengetahuannya, uang donasi dari yayasan belum ada setengah nya dari biaya operasi ibunya.


"Benarkah itu, Dok ?" tanya Citra pada Dokter Dimas.


"Benar Citra. Maka dari itu nanti kamu ikut dengan Dokter Aksa keruangan nya. Karena ada beberapa berkas yang harus kamu tandatangani." ucap Dokter Dimas.


"Syukurlah, kalau begitu Dok. Saya jadi tidak membebani anak saya lagi." ucap Ibu Nurul.


"Ibu gak pernah membebani Citra. Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Bu." protes Citra tidak suka dengan ucapan ibunya.

__ADS_1


"Ya sudah ! Kalau begitu kami permisi dulu, Bu Nurul. Dan nona Citra, bisa ikut ke ruangan saya ?!" tanya Aksa dengan senyum penuh arti.


Citra memicingkan matanya melihat kedalam mata Aksa. Karena Citra benar-benar merasa ada yang aneh disini.


"Apa harus di ruangan anda, Dokter ?" tanya Citra.


"Tentu ! Karena ini sangat penting !!" ucap Aksa dengan yakin.


"Ayo, nona Citra ! Ikut saya !" ajak Aksa.


Citra pun mengikuti Aksa menuju ruangannya.


"Silahkan masuk nona Citra Sanjaya !!" ucap Aksa saat Citra masuk ke dalam ruangannya.


"Citra Wulandari !!!" ralat Citra dengan ketus.


"Oops.. maaf salah sebut !!" sahut Aksa tersenyum.


"Silahkan duduk nona Citra Wulandari !!" pinta Aksa kembali.


Aksa menyodorkan sebuah lembaran kertas kepada Citra.


"Silahkan dibaca dulu nona Citra Sanjaya... Oops, maaf !! Wulandari maksudnya."


"Sekali lagi kamu panggil aku begitu, aku keluar !!" ancam Citra sudah membelalakan matanya.


Aksa pun mengangkat sebelah tangannya dan jarinya membentuk huruf O menandakan persetujuan dari ancaman Citra.


Citra mengambil lembaran tersebut dan mulai membacanya.


"Apa-apaan ini !!!" Pekik Citra.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2