Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Ambisi


__ADS_3

"Buka mata pelan-pelan sayang. Jangan tergesa-gesa, pelan-pelan saja agar tidak pusing dan pingsan lagi." Aksa memberi arahan pada Citra yang baru saja sadar.


"Dimana aku, mas ? Apa yang terjadi ?" Citra bertanya-tanya.


"Sekarang kamu di rumah sakit. Kamu baru saja selesai menjalani operasi pengambilan peluru karena tadi kamu tertembak saat berada di rumah papa." Aksa menjelaskan pelan-pelan.


Mendengar itu, dengan lemas Citra mengangkat tangannya, menyentuh perutnya. Pikirannya mulai kacau.


"Bagaimana dengan kandungan, mas ? Anak kita bagaimana ? Dia baik-baik saja kan ? Aku gak mau kehilangan anak kita, mas..." tangis Citra pecah.


"Tidak apa-apa sayang. Kandungan mu tidak apa-apa. Calon anak kita kuat sayang." jawab Aksa memeluk Citra agar istrinya tenang.


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja." ucap Aksa sambil mengecup kening Citra cukup lama hingga tak sadar ia pun meneteskan air mata.


***


Aris masih kebingungan dengan apa yang baru saja dia alami. Ia pun memutuskan memanggil Ricky. Menurut Aris, Ricky satu-satunya orang yang mengerti semua tentangnya. Dan Ricky juga pasti bisa di andalkan untuk sebuah penyelidikan.


"Ricky, tolong segera temui Om di rumah sakit. Dan tolong bawa senjata. Ada yang ingin mencelakai Om." ucap Aris lewat sambungan telepon.


"Apa ?! Ada yang ingin mencelakai Om ? Lalu keadaan Om bagaimana sekarang ? Baik-baik saja kan ?"


"Ceritanya panjang. Kamu segera lah kemari." pungkas Aris.


"Baik Om, aku kesana sekarang !" jawab Ricky mengakhiri teleponnya.


***


Lena sudah sampai di depan rumah Roy. Ia turun sambil melihat kiri dan kanan memastikan tidak ada yang mengikutinya. Lena segera membuka gerbang dan masuk membawa serta dua orang penjahat yang tak di kenal itu.


"Turun kalian !!!" Bentak Lena dengan suara tinggi kepada kedua penjahat itu agar segera turun dari mobil. Kedua tangannya mencengkram erat kerah masing-masing penjahat itu.


Dari arah dalam, Roy berlari menghampiri mereka.


Bugh... bugh... dua pukulan keras tepat mengenai wajah kedua penjahat itu.


"Masuk ke dalam !! Cepat !!!" Hardiknya.


Lena kemudian meminta pemilik mobil yang membawa sepeda motor nya untuk segera pergi membawa mobilnya.


"Mas, ini kunci mobil anda. Dan ini sebagai tanda terima kasih. Mereka berdua adalah penjahat yang mencoba membunuh majikan kami. Anda tadi melihatnya sendiri. Kamu harus menyelidiki mereka karena polisi saat ini belum bisa di andalkan. Mohon kerjasamanya, dan sekali lagi terima kasih."


Lena memberikan kunci mobil berserta sebuah amplop berisi sejumlah uang kepada pemilik mobil yang dia pakai tadi.

__ADS_1


"Baiklah, uangnya saya terima mbak. Terima kasih. Saya janji saya tidak akan melaporkan kejadian ini." pemilik mobil itu pun segera menjauh dari sana dengan mobilnya.


Lena segera masuk dan menutup pagar rumah Roy. Baru beberapa langkah Lena beranjak dari pagar, tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras.


Bruuakkkk...


Pintu pagar rumah jebol di tabrak sebuah mobil jip di ikuti satu mobil lainnya di belakangnya.


Dor.. dor.. dor..dor..


Tembakan bertubi-tubi menyerang Lena secara tiba-tiba. Untungnya refleks Lena sangat bagus hingga tidak ada satupun tembakan yang mengenainya.


Dor, dor, dor, dor...


Lena menghabiskan pelurunya membalas mereka satu persatu.


Sialnya, ternyata mereka dalam kondisi siap sehingga hanya terkena bagian yang tidak berbahaya. Hanya terkena tangan dan pundak salah satu dari mereka.


Mendengar suara keributan, Roy pun segera bergegas melihat apa yang sedang terjadi.


Dan betapa kagetnya dia melihat Lena yang kewalahan menghadapi kurang lebih ada dua belas orang pembunuh bayaran. Ia pun segera membantu Lena.


"Ayo Pak, kita pergi saja dari sini. Kita tidak mungkin menang melawan mereka semua."


"Sial !! Kita belum sempat mendapat informasi sedikitpun dari mereka !!!" umpat Roy.


Para penjahat itu tidak lagi mengejar Lena dan Roy karena sasaran mereka bukanlah untuk membunuh Roy ataupun Lena. Mereka hanya di tugaskan untuk memastikan tidak ada informasi yang bocor dari kedua penjahat yang tertangkap itu.


"Siapa mereka ? Kenapa mereka bisa tahu rumah pak Roy ? Mungkin yang menyuruh mereka masih ada hubungannya dengan keluarga pak Aksa, Pak Aris, dan anda." Lena menduga-duga sambil melajukan motornya menuju rumah sakit.


"Entahlah. Tapi sepertinya mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati." seru Roy dari belakang.


Roy dan Lena pun tiba di rumah sakit dan segera menuju kamar rawat Citra yang sudah di beritahu oleh Aksa sebelumnya.


Disana juga sudah ada Hilda yang langsung berangkat ke rumah sakit begitu Aris memberitahunya jika Citra tertembak.


"Bagaimana keadaan Citra, Sa ?" Tanya Roy prihatin.


"Alhamdulillah, Citra susah sadar tadi setelah operasi pengambilan peluru. Sekarang dia lagi istirahat. Lalu bagaimana dengan pelaku yang tertangkap itu ? Apa kalian mendapat informasi dari mereka ?" tanya Aksa tidak sabar.


"Maaf Sa, kita kehilangan mereka. Tiba-tiba ada yang datang membebaskan mereka. Gue sama Lena gak bisa melawan mereka karena jumlah mereka cukup banyak dan di lengkapi senjata." Jelas Roy.


Aksa mengeratkan giginya, wajahnya berubah merah, perasaannya benar-benar geram.

__ADS_1


"Papa ! Apa sekarang papa puas ???" Sarkas Aksa pada Aris.


"Aksa ! Pelankan bicaramu pada papa, Nak." Seru Hilda yang tidak suka dengan nada bicara Aksa pada papanya.


"Sudahlah Hilda, tak apa !! Ini salahku, biarkan saja anakmu melampiaskan amarahnya padaku." Timpal Aris.


Roy dan Lena yang menyadari adanya pembicaraan keluarga, langsung menjauh dari mereka.


"Kalau bukan karena ambisi papa, semuanya tidak akan terjadi !! Citra tidak akan tertembak !! Untung saja istri dan calon anakku bisa di selamatkan!!" ujar Aksa.


"Tapi ambisi papa ini untuk kebahagian mu, Aksa !!" Sentak Aris.


"Kebahagiaan bukan hanya di ukur dari harta, Pa ! Dan kebahagiaan Aksa ada di Citra !"


"Dan Aksa minta maaf, mulai sekarang aku tidak akan lagi menuruti permintaan papa untuk mempertahankan Amanda. Aku juga sudah mengurus perceraian ke dengan Amanda melalui pengacara baruku." lanjut Aksa.


"Apa hanya segitu baktimu padaku ? Ingat Aksa, rumah sakit ini di bangun dari keringat kakekmu !" Hardik Aris dengan memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Bukankah sudah pernah aku katakan, aku akan berbakti pada papa tapi tidak dengan mengikuti ambisi papa. Dan aku rasa, sebaiknya papa gantikan saja posisiku dengan Ricky! Bukankah kalian berdua juga sudah memiliki sebuah rencana ? Oh ya, Ricky juga selingkuhan Amanda !! Dari pada mereka selingkuh, terus-menerus menambah dosa, kenapa tidak Ricky saja yang menikahi Amanda ?!" Timpal Aksa.


"Aksa ! Yang dicintai Amanda itu adalah kamu, jika Amanda mencintai Ricky, papa tidak akan pernah memintamu menikahi Amanda !!" Sentak Aris keceplosan.


"Apa ?! Jadi papa sengaja menjodohkan ku dengan wanita ular itu untuk menjadikanku umpan ?!" Pekik Aksa terkejut tidak percaya.


Bukan hanya Aksa yang terkejut. Hilda sang mama pun sama terkejutnya. Dia tidak pernah menyangka suaminya mengorbankan putra mereka satu-satunya hanya demi harta.


"Papa !! Kenapa papa seperti itu ???" Pekik Hilda.


"Diam kamu Hilda !!! Kamu tidak usah ikut campur ! Dan kamu Aksa, papa melakukan semua ini karena bakti papa terhadap kakekmu. Papa dan Om Hardi menjadi saksi mata bagaimana keluarga Haryanto menekan kakekmu yang mengatasnamakan persahabatan dan merebut harta milik keluarga Sanjaya. Papa dan Om Hardi tentu saja tidak akan tinggal diam begitu saja." Jelas Aris.


"Tapi caramu itu salah, Pa !!" tukas Hilda.


"Lalu cara yang benar bagaimana ? Apa aku harus merelakan semuanya ? Apa kamu siap jatuh miskin, hah ?!" Hardik Aris pada Hilda.


"Sudahlah, Ma !! percuma bicara dengan orang yang sudah di butakan oleh harta. Semuanya hanya akan terlihat salah dan sia-sia!!" sahut Aksa.


"Hari ini kalian menyalahkan sikapku. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kalian akan berterimakasih padaku !"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2