Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Pernikahan


__ADS_3

Aksa yang sedari tadi memainkan ponsel, tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada suara langkah kaki yang menuruni tangga. Matanya terbuka lebar melihat sosok wanita yang menuruni tangga penuh dengan keanggunan.


Dengan balutan gaun merah, rambut bergelombang terurai di depan pundak kiri, anting kecil tidak terlalu panjang namun pas di telinga, bibir merah, mata lentik, pipi merona.


Citra nampak bak bidadari turun dari surga.


Wanita cantik itu menghampiri Aksa dengan ragu-ragu.


Bagaimana tidak ? Setelah kemarin sempat berselisih dengan sang suami perihal Aksa yang menemani Amanda malam itu, ternyata membuat Citra cemburu.


Dan malam ini Aksa sengaja menyiapkan makan malam romantis di suatu tempat yang sudah dia booking hanya untuk mereka berdua.


"Silahkan duduk bidadariku." Aksa menarik tempat duduk dan mempersilahkan Citra untuk duduk.


"Kamu sangat cantik malam ini, sayang." Bisik Aksa di telinga Citra, membuat wanita itu sedikit malu.


Pelayan mulai berdatangan membawa menu makanan yang masih hangat memenuhi meja makan berhiaskan tiga lilin merah di tengahnya.


"Silahkan, Nona." seorang pelayan menyajikan sepiring kecil makanan pembuka.


Namun saat Citra hendak menyendok makanannya, dia merasa ada sesuatu yang agak keras disana.


Citra menyibak makanan itu, dan benar saja... sebuah kota cincin terlihat disana.


Aksa pun langsung berdiri dan mengambil kotak itu, membukanya lalu berlutut menghadap Citra.


"Citra Wulandari, aku benar-benar mencintaimu. Aku berjanji akan selalu menyayangimu, membahagiakanmu, dan juga menjagamu. Kamu adalah nafas, detak jantungku, gairah hidup, angan dan harapanku. Terimalah rasa sayangku dan semua kekuranganku. Aku hanya manusi la biasa yang sangat mungkin membuatmu marah atau kecewa. Namun selama aku masih ada dalam kesadaran ku, aku akan berusaha sekuat tenaga dan semampuku untuk tidak menyakiti hatimu, sayang. Aku benar-benar mencintaimu, Citra."


Citra tertegun. Apakah Aksa mengatakannya dengan sungguh-sungguh ? Kalimat itu terdengar sangat indah jika tanpa ingkar.


"Janji ? Kamu akan selalu ada di sampingku sampai akhir cerita hidupku ?" Citra berucap dengan kekhawatiran yang nampak jelas di raut wajahnya.


"Iya sayang, aku janji. Apapun yang terjadi, kamu adalah prioritas ku." Sahut Aksa dengan sangat serius.


Senyum mengembang di wajah cantik Citra saat cincin itu mulai terpasang di jemarinya.

__ADS_1


Mereka pun menikmati dinner romantis yang tak terasa malam semakin larut.


Mereka kembali ke kamar.


Citra memejamkan mata, berharap esok hari hatinya sudah bisa memaafkan Aksa sepenuhnya.


***


Esok harinya saat bangun, Citra tidak melihat Aksa di sampingnya. Perlahan dia duduk dan memperhatikan sekitar.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Citra tersenyum saat tahu yang datang adalah Hilda dan disusul Lena di belakangnya, yang membawa gaun putih yang cantik, seperti gaun pernikahan.


"Sayang... Mama kangen sekali sama kamu." Hilda langsung berhambur memeluk Citra. Dan dengan pelukan erat, Citra membalas pelukan itu.


"Citra juga kangen, Ma."


Hilda duduk di samping Citra, menggenggam tangan Citra dengan penuh perasaan.


"Mama tahu kamu dan Aksa saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tapi kamu juga harus tahu, tidak ada cinta lain di hati Aksa. Semenjak mengenalmu, dia bahkan sudah membuang jauh-jauh kisahnya dengan Amanda. Mama mohon, maafkan anak mama. Mama tidak sampai hati melihatnya bersedih saat kamu mendiamkannya seperti kemarin. Dia bahkan terlihat seperti seseorang yang tidak punya semangat hidup. Kamu adalah semangat bagi Aksa. Bukan hanya semangat, tapi segalanya." Bisik Hilda membuat Citra tersentuh.


"Terima kasih sayang..."


Lena menghampiri dan meletakkan gaun itu di dekat Citra. Seketika tangan Citra terukur meraba gaun tersebut.


"Cantik sekali... gaun siapa ini, Len ?" Tanya Citra penasaran.


"Gaun Nyonya Citra Sanjaya !" Jawab Lena dengan senyum mengembang di bibirnya.


Citra menatap Hilda meminta penjelasan.


"Iya sayang, hari ini adalah hari pernikahanmu. Aksa ingin mengadakan pesta pernikahan yang mewah untukmu. Dulu Pernikahan kalian belum dirayakan dan belum sah secara hukum. Kini saatnya, Aksa ingin menjawab keraguan mu atas statusmu di hatinya."


Seperti ada angin lewat, Citra bak terbang ke surga.


"Bersiaplah, mereka akan membantu kamu. Kami akan menunggu di luar." Ucap Hilda pamit saat beberapa tim perias sudah datang.

__ADS_1


...


Aksa menoleh ke arah wanita cantik yang perlahan menuruni tangga dibantu Hilda dan Amanda di sampingnya. Tak hanya Aksa, namun semua mata kini sedang memandangnya dengan kagum. Tidak ada lagi yang memandangnya dengan rendah, memandangnya hanya sebagai wanita malam.


Termasuk Amanda, wanita itu juga ikut mengantar Citra ke pelaminan, tempat dan posisi yang dulu pernah ia tempati.


Beberapa menit yang lalu, saat Citra masih di hias. Amanda datang menemui Citra, memeluknya dan meminta maaf. Dia menyatakan ketulusannya ikut bahagia dalam acara bahagia ini.


"Kini dia sudah benar-benar menjadi milikmu, selamanya ! Selamat ya Cit. Sekarang kamu adalah Nyonya Sanjaya satu-satunya. Status mu kan di ingat semua orang."


...


"Saya terima nikah dan kawinnya Citra Wulandari binti Yusuf dengan mas kawin tersebut tunai."


"Bagaimana saksi, sah ?"


"Sah !"


"Sah !"


"Sah !"


Suara itu menggema di seantero bangunan mewah itu.


Citra mengecup tangan Aksa penuh tangis dan haru.


"Terima kasih, Mas."


Mereka memang sudah pernah melakukan akad pernikahan, tapi itu hanya dengan pak Haji atau penghulu yang bisa menikahkan secara siri. Berbeda dengan akad kali ini, adalah dengan penghulu KUA dan mendapat buku nikah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2