Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Ternyata kamu pelakunya !


__ADS_3

Wajah yang tenang itu berubah menakutkan bagai hewan buas dengan taring tajam yang siap mengunyah mangsanya hidup-hidup.


"Apa yang anda lakukan ? Lepaskan rambut saya !" Teriak Leony setengah menjerit.


"Kamu berani memeras saya ?! Apa kamu tidak tahu kenapa suami mu bisa meninggal, hah ?!" Bentak Raka pada Leony yang memasang muka ketakutan.


Raka menarik rambut Leo semakin kuat, tanpa belas kasihan, padahal wanita itu sedang hamil. Ya, setidaknya Leony sedang menjalankan peran itu.


"Aku bisa saja membunuh mu juga. Kenapa harus repot-repot keluarkan uang ? Ya, kubunuh saja kamu !" Raka tertawa lagi. Kini suaranya lebih terdengar menakutkan. Mirip sekali dengan psikopat di film-film.


"Aku akan mengirim mu pada suami mu agar kalian bisa bersama selamanya. Kamu harus berterima kasih kepada saya !" Raka tertawa lagi.


Leony masih tidak berniat mengatakan apa-apa meski jantungnya rasanya mau copot. Dia masih berusaha terisak senatural mungkin, seakan kematian sudah begitu dekat.


"Tapi sebelum aku membunuhmu, aku akan mengatakan sesuatu. Suamimu bersedia melakukan perintahku untuk membunuh seseorang karena dia ingin menyelamatkan nyawa kalian dariku. Tapi kalian malah datang sendiri kesini, jadi bukan salahku jika aku membunuhmu ! Aku juga membunuh nya demi tutup mulut. Dan itu juga yang akan aku lakukan padamu !" Raka mengatakan semuanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Ia melepaskan cengkeraman tangannya pada rambut Leony lalu beralih mengambil gelas yang ada di depan Leo, memukulkannya pada ujung meja hingga ujungnya menjadi lancip, mengerikan. Leony masih berusaha tenang. Dengan kasar Raka menarik tangan kanan Leony dan menancapkan ujung lancip tadi pada telapak tangannya. Leo menjerit kesakitan.


"Sedikit lagi," desis Leony dalam hati.


"Aku akan menyiksamu pelan-pelan, seperti aku menyiksa Charlotte dan Bu Nurul. Aku meminta Charlotte menyuntikkan obat yang langsung bereaksi mematikan saraf dan jantung. Hingga membuat wanita itu meregang nyawa." Terang Raka diselingi tawa yang menakutkan. Dengan tangannya yang menekan dan memutar-mutar ujung pecahan gelas yang di tusukkan ke telapak tangan Leony seperti mainan.


Leony meringis menahan rasa terbakar dan perih yang amat sangat pada tangannya.


"Sekarang waktunya," Batin Leony.

__ADS_1


"Tolong !!!" Ia menjerit sekuat tenaga membuat Raka tertawa terpingkal-pingkal. Raka tidak tahu di luar sana sudah ada beberapa orang yang siap sedia membantu Leony.


Beberapa detik kemudian tiba-tiba lampu mati, dan itulah waktunya Leo kabur bersama orang-orangnya.


...Flashback Off...


Setelah melihat semua bukti dari Leony, Roy sempat syok. Dia benar-benar tidak menyangka jika Raka adalah dalang dari semuanya. Selama ini di bandingkan Ricky, Raka lah yang memiliki hubungan baik dengan Aksa. Tapi ternyata dia penjahatnya.


Roy menarik nafas panjang dan menyandarkan punggungnya pada kursi.


"Aksa akan syok melihat ini !" gumamnya dalam hati.


Roy mengirim pesan kepada Leo, mengucapkan terima kasih dan mengirim sejumlah uang sebagai imbalan untuk semua kerja kerasnya mendapatkan semua bukti ini.


***


Dia kaget saat tidak ada siapa-siapa yang menjaga kamar Citra. Apakah ada Aksa di dalam ? Lena membuka pintu pelan, niat hati hanya ingin mengintip agar tidak menggangu mereka, tapi yang di lihat berbeda. Melihat seorang perawat yang hendak menyuntikkan sesuatu ke tabung infus Citra, awalnya Lena biasa saja, saat melihat perawat itu memakai sepatu yang biasa dipakai preman, Lena mulai curiga. Dia membanting pintu dengan kasar, meraih pisau di balik jaketnya dan melayangkannya ke arah pria itu dengan tepat. Lengan pria itu terluka, alat suntik yang ia pegang terjatuh. Ia berjongkok mengambilnya dan saat dia berdiri, dia melempar vas bunga ke arah Lena dan mengenai kepalanya hingga berdarah-darah. Lena kurang waspada hingga pria tadi berhasil pergi.


"Woi, berhenti !!!"


Citra terbangun dan nampak bingung melihat Lena yang sudah berdarah-darah keluar mengejar seseorang.


Lena terus mengejar perawat palsu itu. Wajahnya merah karena darah, namun luka seperti itu tidak cukup bisa menghentikan langkahnya. Penjahat itu berlari masuk ke dalam lift. Pintu lift sudah menutup saat Lena tiba, hingga Lena akhirnya berputar arah menuruni anak tangga, menambah kecepatan. Dia harus sampai di lobi sebelum penjahat itu keluar dari lift. Tinggal melewati tangga terakhir untuk sampai di lobi, nafasnya sudah ngos-ngosan. Kepalanya mulai pusing karena darah yang terus keluar. Saat Lena tiba di lobi, tepat di depannya pria itu keluar. Lena sudah tidak kuat untuk berlari. Ia paksa kakinya untuk bergerak maju, tinggal beberapa meter lagi, Lena mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke arah penjahat itu tepat mengenai kepala belakangnya.


Penjahat itu jatuh tersungkur, begitu juga Lena. Dia ambruk dan tiba-tiba semuanya gelap.

__ADS_1


Dari kejauhan Ricky memicingkan matanya.


"Bukankah itu cewek yang selalu bersama Citra ?"


Menangkap ada yang janggal, Ricky berlari ke arah Lena, bersimpuh di dekatnya dan membatunya duduk, menopang tubuh Lena dengan dadanya.


"Apa yang terjadi ?"


Tak mampu mengucapkan kata-kata lagi, Lena hanya mengarahkan telunjuknya ke arah penjahat yang masih terkapar di tepi jalan.


Dari arah berlawanan ada sebuah mobil Jeep melaju begitu cepat mengarah ke pria itu. Ricky buru-buru menyandarkan tubuh Lena pada sebuah pohon dan bergegas menghampiri pria tadi. Mereka pasti ingin menghilangkan barang bukti lagi. Kali ini Ricky tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia memasang badan untuk penjahat tadi, mengambil kayu yang tergeletak tidak jauh dari situ, melempar kayu itu tepat mengenai ban mobil Jeep hingga mobil itu oleng dan menabrak sebuah pohon di tepi jalan hingga keluar asap dari ruang mesin.


Ricky beralih ke mobil Jeep itu, berniat mengeluarkan 3 orang yang masih ada di dalamnya. Mereka belum meninggal meski terluka parah. Dia bisa mendapatkan informasi dari mereka nantinya. Saat Ricky menyeret tubuh yang terakhir, tiba-tiba mobil itu meledak dan tubuh Ricky terpental jauh. Punggungnya juga sedikit terbakar.


Di dekat kejadian ledakan itu banyak orang berkerumun menonton tapi tidak ada yang melakukan apa-apa.


Satria datang, melihat seorang wanita pingsan di dekat pohon. Kepalanya berdarah.


"Mungkin itu Lena."


Beberapa meter dari posisi wanita itu ada sekitar 3 orang laki-laki dengan luka yang cukup parah terkapar di tepi jalan. Tak jauh dari mereka ada mobil Jeep yang terbakar. Satria bergegas memanggil beberapa perawat karena mereka harus segera di tolong.


Di balik semak-semak, Satria menemukan seseorang terkapar dengan punggung terbakar.


"Kesini, Mas !" Panggilnya pada dua perawat laki-laki yang membawa brankar.

__ADS_1


Baru saja Satria hendak melangkah, tiba-tiba dia berhenti. Dia seperti menginjak sesuatu. Dia kemudian membungkukkan badan, mengambil sebuah ponsel yang tergeletak tepat di bawa kakinya. Layarnya sedikit retak, tapi masih berfungsi. Satria lalu memasukkan ponsel itu dalam saku celananya.


"Siapa tahu ini bisa menjadi petunjuk !"


__ADS_2