
Setelah menyuruh anak buahnya menghubungi Aksa dengan maksud untuk memprovokasi Aksa dan Aris, Darius tertawa senang.
"Hahaha... ternyata lebih menarik seperti ini, lempar batu sembunyi tangan !" Gumamnya.
"Tinggal satu lagi dan permainan ku akan semakin menarik !" lanjutnya berseringai.
"Rudolf !!!" Darius memanggil seorang anak buahnya.
"Iya, Bos !" Pria bertubuh besar dan tegap itu pun menghampirinya.
"Aku mau kamu menjalankan rencana ku !!" titahnya.
"Baik, Bos ! Apa rencananya ?"
"Berikan sedikit sentuhan agar kejadian tadi mengarah pada Amanda dan Aris!" titahnya.
"Baik, Bos ! Saya akan memberikan bukti-bukti palsu yang akan mengarah kepada mereka." ucap Rudolf menerima perintah dari sang majikan.
"Tapi ingat, kamu harus bermain cantik ! Usahakan bukti yang kamu buat itu terlihat nyata." pinta Darius.
"Kalau masalah itu, serahkan pada Rudolf, Bos !" jawabnya.
"Bagus !" Sahut Darius sambil berseringai.
Dia benar-benar merasa di atas awan sekarang. Bahkan dia merasa semesta sedang berpihak padanya.
Ia yang melakukan tapi orang lain yang akan di tuduh. Itulah triknya !!
Dan lagi, ia ingin memberi sedikit pelajaran kepada Amanda yang sudah mulai berani bermain di belakangnya.
Pasalnya, Darius ternyata mengetahui Amanda yang diam-diam bekerjasama dengan Aris meminta agar Aksa tidak menceraikannya, dengan menjanjikan posisi Direktur tetap aman di tangan Aris.
***
Lena beberapa kali mencoba menghubungi Aksa karena ada sesuatu hal penting yang harus di laporkan, tapi nihil !! Tidak ada satupun panggilan yang di jawab.
"Masih belum di jawab ?" Tanya Roy masih heran.
Lena menanggapi pertanyaan Roy dengan gelengan kepala.
Tumben Aksa begitu teledor.
Roy berjalan mondar-mandir di depan Lena, semakin gusar. Melihat itu membuat Lena tidak tahan lagi, ia menarik tangan Roy untuk duduk di sampingnya dari pada membuatnya pusing karena terus mondar-mandir seperti itu.
__ADS_1
"Duduk, sini ! Capek lihat Pak Roy mondar-mandir terus, menganggu konsentrasi saja !" gerutu Lena.
"Apa-apaan sih ?! Gue juga lagi pusing mikirin Aksa !! Yang dipikirin malah gak bisa di hubungi !! Awas aja nanti, gue cincang tuh dokter resek !" Kesal Roy malah membuat Lena tertawa.
"Emang berani ? Nanti malah bapak yang di bedah paksa !" Lena terkikik.
"Habisnya ngeselin !! Kondisi lagi ruwet, istri baru sadar, eh malah main di tinggal gitu aja ! Mentang-mentang udah ada bodyguard sama sohibnya ! Sekali-kali emang harus di kasih pelajaran nih, Aksa !" ucap Roy sambil mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
"Aku gak ikutan ya, Pak ! Gajiku bisa di potong nanti." ucap Lena mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
Roy menghentikan aktifitasnya, menoleh ke arah Lena.
"Bodyguard payah ! Sama 20 orang preman gak takut, sama potongan gaji aja takut !!" Cibir Roy.
"Ya iyalah. Gaji di potong sama dengan pemasukan berkurang, Pak. Kalau cuma 20 orang preman mah kecil !!" ucap Lena sambil menjepitkan jarinya.
Pria di sampingnya itu tidak bergeming, masih diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya jatuh ke bawah.
"Kenapa, Pak ?" Tanya Lena merasa curiga.
"Gue jadi mikir, emang Aksa kemana sih ? Sampai gak bisa di hubungi !!"
"Pulang ke rumahnya, menemui Amanda !!" Jawab Lena sedikit berbisik yang membuat Roy terkejut.
Lena langsung memberi kode agar Roy mengecilkan suaranya, takut Citra terbangun.
"Tapi kenapa dia kesana ?" Tanya Roy dengan suara pelan.
"Mungkin mau menginterogasi Amanda." Lena berspekulasi.
Pikiran Roy mulai terbang kemana-mana. Dia tahu selicik apa wanita bernama Amanda itu. Bukannya Roy takut jika Amanda melukai Aksa, karena Amanda tidak mungkin melukai laki-laki yang sangat dia cintai itu. Tapi Roy takut jika Aksa jatuh dalam jebakan Amanda.
"Gue susul, deh !" ucap Roy.
Roy pun segera bangkit, namun Lena menghentikan langkahnya.
"Bapak disini saja. Mungkin beberapa orang jahat itu sedang mengintai rumah sakit ini, menunggu kita lengah dan segera beraksi. Mereka saja sudah bertindak sejauh ini." ucap Lena menunjukkan amplop coklat itu pada Roy.
"Apa bapak yakin Amanda dan Pak Aris adalah pelakunya, sesuai bukti yang ada di amplop itu ?" Lanjut Lena membuat Roy terduduk kembali.
"Tidak !" jawab Roy menggeleng.
"Yup ! Tapi kita belum ada bukti lain, Pak. Meski ada kemungkinan mereka bersekongkol, menurutku tidak akan sejauh ini. Pasti ada campur tangan orang lain yang ingin mengadu domba mereka. Yang lebih janggal lagi, mereka bisa memiliki bukti-bukti ini dan mengirimkannya kesini tanpa meminta bayaran. Lalu apa lagi tujuannya selain untuk menggiring opini dan mengadu domba Pak Aksa dan Pak Aris. Sejujurnya aku tahu Pak Aris tidak membenci Bu Citra, aku bisa melihat kekhawatirannya saat kejadian penembakan itu, dan orang jahat tidak memiliki ekspresi seperti itu. Pak Aris hanya ingin menyelamatkan harta warisan leluhurnya, itu saja ! Ya, tapi mungkin caranya saja yang salah. Jadi di mata Pak Aksa, Pak Aris adalah orang yang jahat." Terang Lena panjang lebar menyampaikan opini nya.
__ADS_1
"Betul !!! Tapi gue sekarang mengkhawatirkan Aksa. Amanda itu seperti ular !! Dia sangat licik !! Gue takut Aksa tidak menyadari bahaya di depannya, hingga dia tidak sempat melawan dan sudah kalah dengan jebakan yang di buat wanita ular itu !!"
Roy benar, kuncinya ada pada Aksa. Sekali dia kalah, semuanya selesai !
***
Amanda sedang duduk melamun di tepi kolam renangnya hanya menggunakan lengerie. Entah kepada siapa dia memamerkan keindahan tubuhnya. Kakinya di celupkan kedalam air, menggoyangkan maju mundur, menikmati dinginnya air sore itu.
"Argh...." Amanda menjerit frustasi sambil menendang-nendang air di kolam itu.
"Apakah aku jahat menurutmu, Sa ?" Tangisnya menjadi-jadi.
"Apa aku tidak berhak mencintaimu ?"
"Aku mencintaimu, Aksa !! Sangat !!!"
"Aku tidak bisa merelakan mu !!"
"Aku bisa gila !!!"
"Aku akan memberikan apapun. Kembalilah, walau hanya semalam, aku merindukanmu !"
Amanda meracau di pengaruh minuman keras. Dia mabuk. Kali ini dia benar-benar hancur. Dia tahu Aksanya, jika Aksa sudah memutuskan sesuatu, maka ia akan melakukannya. Rencananya dengan Aris pun belum tentu berhasil, apalagi dengan kondisi Citra saat ini, sudah pasti akan membuat Aksa semakin membenci dirinya.
Amanda meneguk botol keduanya hingga habis.
"Amanda !!" terdengar suara seseorang memanggilnya dengan keras dari belakang.
Dia berdiri dan menoleh ke asal suara. Tapi kepalanya terasa begitu berat, pandangannya berkunang-kunang, dan semua di sekelilingnya berputar-putar.
Seseorang berlari menghampirinya saat dirinya terhuyung ke belakang, jatuh ke dalam kolam.
Dia masih bisa melihat meski samar-samar, jika orang itu juga ikut menceburkan dirinya ke dalam kolam, menarik dirinya dalam pelukan orang itu dan membawanya ke permukaan.
Dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.
.
.
.
Bersambung,
__ADS_1