Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Salah sasaran


__ADS_3

Mobil Aksa memasuki area parkir Apartemen. Tadi setelah dari unit apartemen Roy, Aksa sengaja keluar dulu memutar arah ke rumah besar, agar Raka tidak mengikuti nya lagi.


"Ayolah..." Aksa berbicara pada dirinya sendiri.


Dia harus menata moodnya. Jangan sampai menunjukkan mimik muka kusut ini di depan Citra. Wanitanya itu tidak boleh melihatnya dengan kondisi seperti ini, karena Citra tidak boleh stres.


Aksa tiba di depan unit apartemen nya. Aksa memencet beberapa tombol password apartemen. Tangannya mendorong gagang pintu hingga terbuka. Ini sudah pukul 12 malam. Lampu ruang tamu hanya di nyalakan satu, membuat ruangan itu kurang pencahayaan, redup. Seharusnya Citra sudah tidur. Saat kakinya melangkah lebih jauh memasuki ruangan, Aksa tidak berniat menyalakan lampu karena ia mendapati Lena sedang tidur di sofa, di dekat kamar utama, dimana Citra berada. Mungkin karena Aksa sedang tidak berada di rumah, tidur di sofa membuat Lena bisa lebih sigap mengambil tindakan ketika ada hal berbahaya yang mengancam Citra.


Bodyguard sewaan Roy itu benar-benar totalitas dalam bekerja. Setidaknya, itu membuat Aksa lega.


Aksa berjalan mengendap-endap melewati Lena. Karena ruangan yang sedikit gelap, membuat Aksa kurang fokus memperhatikan jalan. Kakinya tidak sengaja terantuk ujung meja, membuat vas bunga di atasnya sedikit bergoyang. Aksa menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Lena. Gadis itu masih tertidur pulas. Dia pun menghembuskan nafas lega.


Alih-alih tidak ingin mengganggu, Aksa malah mendapat serangan tiba-tiba dari Lena.


Sebenarnya Lena sudah bisa membaca kehadiran Aksa dari langkah kakinya. Namun wanita itu memilih untuk pura-pura tidur, ketika momennya pas, baru dia beraksi. Lena bukan bodyguard abal-abal yang bisa di kelabui.


Saat Aksa lengah, Kena bergerak cepat. Wanita dengan setelan babydoll pendek itu melompat dari sofa, mencengkram kedua pundak Aksa, memutar tubuh Aksa hingga membelakangi tubuhnya, lalu menendang kakinya hingga Aksa berlutut. Lena sedikit membungkukkan badannya, mengunci leher Aksa menggunakan tangan kanannya dan sebelah tangan yang lain memelintir tangan Aksa kebelakang. Dengan posisi kaki kanan Lena yang menekan kaki Aksa, membuat laki-laki itu tidak bisa berkutik.


"Siapa kamu ? Ada urusan apa kesini ? Siapa yang menyuruhmu ? Jawab !!" Lena memberondong Aksa dengan pertanyaan seakan-akan dirinya adalah lelaki jahat yang di utus datang kesini untuk mencelakai Citra.


Karena beberapa lampu utama tidak di nyalakan membuat Lena tidak bisa mengenali laki-laki di depannya dengan jelas.


Lena memelintir tangan Aksa semakin kuat. Aksa mengadu dan mengumpat.


"Kamu gila, ya ?! Ini aku, Aksa. Boss kamu !!!" bentak Aksa kesal sembari menggerakkan badannya berusaha melepaskan diri.


"Apa ?!" Lena kaget.


Ia langsung melepaskan cengkeramannya, membebaskan tubuh Aksa, lalu berlari menyalakan lampu.


Setelah lampu semua menyala, ia melihat laki-laki di depannya dengan seksama. Dan benar saja, itu adalah Aksa, suami Citra. Ia menundukkan sedikit badannya ke depan.

__ADS_1


"Maafkan saya, bos." Lena meminta maaf.


Aksa masih memijat pergelangan tangannya yang terasa sakit. plintiran tangan Lena cukup kuat, membuat tubuhnya rasanya sakit semua. Lena menertawakan Aksa tanpa suara.


"Habisnya lampu mati, pak. Tidak kelihatan jelas." ucap Lena merasa malu dengan sikapnya yang salah sasaran.


Tangan kanannya mengusap-usap belakang rambutnya yang di potong pendek.


"Iya, lain kali jangan saya yang jadi korbannya !! Kalau Roy tidak apa-apa, saya dukung !" gumam Aksa sedikit jail. Dia suka membayangkan jika Roy yang harus kesakitan karena terkaman Lena. Sepertinya mereka berdua bisa di comblangin. Aksa terkikik, sembari berlalu melewati Lena.


Mendengar kegaduhan di ruang tamu, membuat Citra terbangun dan langsung keluar dari kamarnya.


"Sudah pulang, Mas ?" tanya Citra sembari meraih tangan kanan Aksa lalu mengecup punggung tangannya.


"Maafkan aku, sayang... gara-gara kami gaduh, jadi membangunkan mu." sesal Aksa. Tangan kanannya mengusap puncak kepala Citra.


Citra menautkan kedua keningnya, pertanda ia sedang merasa heran.


"Lampu utama mati, wajar kalau dia salah orang. Dia tidur di sofa dan melihat jam segini ada laki-laki masuk apartemen, wajar kalau reflek mukul pakai sapu." Aksa ikut menjelaskan.


"Hah ?! Tidur di sofa ?" Citra mengulangi perkataan Aksa yang ia dengar. Ia merasa heran, kenapa Lena bisa tidur di sofa ?


"Iya, Bu. Bapak kan lagi tidak di rumah, saya hanya ingin menjaga ibu. Meski hanya bisa memukulnya pakai sapu, itu sudah lumayan sakit." Lena menimpali, menjawab kebingungan Citra.


Citra hanya tersenyum.


Tugas tambahan Lena selai jadi bodyguard adalah menjaga kerahasiaan identitas asli nya sebagai bodyguard.


Karena yang Citra tahu, Lena di sewa Aksa sebagai asisten rumah tangga. Kondisi Citra sedang hamil, dia butuh bantuan dalam mengurus rumah.


Mendengar pengakuan kedua orang di depannya membuat Citra terkejut, memandang Aksa dan Lena bergantian.

__ADS_1


"Ada-ada saja kamu,"


"Tidur di kamar tamu saja, Len. Kamu kan bukan bodyguard yang bisa bela diri. Gak usah takut aku kenapa-kenapa. Aku akan baik-baik saja. Gak akan ada yang tiba-tiba datang kesini." ucap Citra.


Pandangannya beralih memperhatikan pergelangan tangan Aksa yang memerah. Ia meraih tangan Aksa dan memandu nya untuk duduk di sofa.


"Tolong ambilkan es batu di taruh icebag ya, Len." pinta Citra tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Aksa.


"Baik, Bu." Lena bergegas mengambilkan apa yang Citra minta.


"Sakit, mas ?" Citra mengangkat kepalanya dan menatap Aksa penuh iba.


"Ini, Bu." Lena datang dan menyodorkan icebag yang sudah di isi dengan es batu.


"Sedikit." jawab Aksa dengan menyipitkan matanya seperti sedang menahan sakit. Citra duduk di samping Aksa, mulai mengompres tangga. Aksa yang memar. Saat Citra menyentuh luka Aksa dengan kain yang di dalamnya ada es batu beberapa kali, Aksa bergidik.


"Tahan, Mas. Insyaallah sembuhnya cepet. Cuma luka kecil ini, paling juga efeknya... terasa sedikit nyeri jika di pakai menopang tubuh saat olahraga." Citra memberi penekanan pada saat mengucapkan kata 'olahraga', membuat Aksa tertawa. Ia sudah paham maksud istrinya itu.


Aksa mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, membisikkan sesuatu di telinga Citra.


"Women on top." bisik Aksa.


Lena menyadari, pada momen seperti ini waktunya ia mundur diri. Aksa yang melihat Lena sudah pergi ke kamar tamu dan mengunci pintu, membuat pikiran mesum nya melonjak kegirangan. Liar ! Ia berinisiatif melakukan nya di ruang tamu.


Sudah menerima sinyal dari Aksa, Lena tidak mungkin keluar kamar lagi.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2