
Jam masih menunjukkan pukul 04.30 subuh, Lena dengan mata yang masih berat harus membuka paksa matanya dan menerima panggilan telepon dari Roy.
"Hallo, Pak."
"Lo dimana ? Gue di depan kamarnya Citra, tapi gak ada siapa-siapa. Kalian kemana pagi-pagi begini ?" Gerutu Roy.
Lena lupa memberitahu Roy jika Citra sudah di bawa pulang oleh Aksa kemarin ke apartemen.
"Ini masih subuh, Pak !" Lena memprotes ucapan Roy.
"Ya, terserahlah ! Katakan kalian dimana subuh-subuh begini udah hilang aja !" gerutu Roy tidak sabar.
"Bapak yang ngapain subuh-subuh begini udah nyampe rumah sakit aja ?" Celetuk Lena tanpa sadar.
"Lagi mimpi gue ! Sudah, sekarang kasih tahu Lo dimana !"
"Dari kamar Bu Citra, bapak lurus saja lalu belok kiri, saya disana." Jawab Lena.
"Oke. Tapi ngapain Lo disana ? Terus, Citra dimana ?" Tanya Roy sebelum melangkah ke arah yang di tunjukkan Lena tadi.
"Bu Citra sudah di bawa pulang Pak Aksa, semalam." Jawab Lena lagi.
"Apa ??? Kenapa gak ada yang kasih tahu gue ? Tunggu ! Kalau Citra udah pulang, Lo ngapain disitu ?" Cecar Roy.
"Nanti saya jelaskan, Pak." Jawab Lena.
Roy pun segera bergegas. Sampai di depan ruangan yang Lena maksud, Roy mendorong gagang pintu hingga pintu terbuka, mendapati seseorang terbaring disana dalam keadaan botak.
Roy masuk dan mendorong pintunya dengan bokong hingga tertutup.
Mata Roy menatap lekat, berusaha mengingat wajah itu.
"Ini saya, Pak." Celetuk Lena tanpa menoleh. Dia menarik tubuhnya, miring, membelakangi Roy.
"Lena ???" Roy terperanjat saat mendengar suara Lena. Tapi kenapa keadaannya seperti itu ? Apa yang terjadi dengannya ?
Roy menarik kursi, duduk di samping Lena, di depannya. Menatap penuh kasihan terhadap wanita di depannya ini. Dia benar-benar totalitas dalam bekerja.
"Apa yang terjadi kemarin saat gue gak ada ?" Tanya Roy.
__ADS_1
Lena pun menceritakan semuanya. Mulai dari dirinya yang memergoki seseorang yang menyamar menjadi perawat palsu yang hendak menyuntikkan sesuatu ke tabung infus Citra, hingga akhirnya dia mendapatkan luka di kepalanya ini yang juga membuatnya harus kehilangan rambutnya. Lalu aksi kejar-kejaran dimana dia harus menuruni ratusan anak tangga, kemudian baku hantam dan ledakan itu.
"Sepertinya gue ketinggalan pertunjukan seru !" Gumamnya.
"Oh ya, Pak... Ada seorang laki-laki juga yang menolong saya." Ucap Lena.
"Siapa ?" Tanya Roy.
"Saya tidak mengenalnya. Tapi sepertinya dia juga ikut terluka akibat ledakan mobil itu." Jawab Lena mengingat-ingat.
"Kasihan sekali pria itu. Niat menolong, malah dia yang terluka." Gumam Roy tidak tahu siapa sebenarnya pria yang di maksud Lena.
"Iya Pak, para preman dalam mobil jeep itu sepertinya ingin menghilangkan bukti, yaitu perawat palsu itu. Tapi pria yang menolong saya dengan cepat menghalangi mereka terjadilah kecelakaan itu." Lanjut Lena lagi.
Roy menatap tidak percaya dengan semuanya. Bisa-bisanya mereka masih belum kapok !
Roy meregangkan otot-otot nya lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang dalam ruangan Lena.
Dia butuh tidur sekarang. Ya, selepas melakukan aksi gilanya dengan Mami Rachel, Roy memang langsung bergegas ke rumah sakit.
.
.
Aksa memeriksa semua bukti yang berhasil Roy kumpulkan.
"Raka terlibat dengan semua ini !" Kata Roy mengawali.
"Ya, gue tahu itu !"
Roy yang awalnya ingin membuat kejutan untuk Aksa, kini malah dia yang terkejut karena ternyata Aksa sudah mengetahuinya lebih dulu.
"Hah ?! Tahu dari mana, Lo ? Ini kan bukti-buktinya baru gue serahin ! Apa jangan-jangan ada yang kirim bukti lagi ?" Sergah Roy.
"Gue juga baru tahu kemarin. Entah kebetulan atau memang semesta sedang berpihak sama gue ! Satria menemukan sebuah ponsel di dekat lokasi ledakan kemarin. Lalu ada yang menghubungi ponsel itu dengan kontak yang di simpan dengan nama 'bos'
Gue sempat angkat, tapi orang itu sangat cerdik. Dia merubah suaranya hingga gue gak bisa mengenalinya." Jelas Aksa menatap lurus ke depan mengingat kejadian kemarin.
"Terus ?" Desak Roy masih penasaran dengan kelanjutannya.
__ADS_1
"Gue dan Satria mencoba menghubungi nomor itu lagi. Di saat yang bersamaan Raka datang. Ponselnya berbunyi tepat di saat gue melakukan panggilan ke nomor itu. Tapi dia segera menghindar dengan alasannya, agar gue dan Satria gak curiga." Lanjut Aksa.
"Berarti Raka belum tahu, kalau Lo udah tahu dia terlibat dengan semua ini ?!" Tanya Roy.
"Ya ! Biarkan saja dulu, kita ikuti permainannya. Simpan dulu semua bukti ini, Roy ! Gue ada rencana untuk Raka !!! Gue akan memberi dia pelajaran setimpal." Gumam Aksa menyerahkan kembali semua bukti-bukti itu kepada Roy.
"Oke !" Roy pun menerimanya dan memasukkan nya dalam amplop coklat lalu memasukkan nya lagi ke dalam tas yang ia bawa.
"Oh ya, beberapa hari ini gue akan fokus ke Citra dulu, karena dia masih sangat terpukul dengan kepergian bayi kami. Lo perketat penjagaan 4 preman itu, jika keadaan mereka sudah mulai membaik, segera bawa mereka ke basecamp. Baru nanti kita bahas rencana selanjutnya." Perintah Aksa.
Roy mengangguk mengerti.
"Oh ya, udah dua hari ini gue belum ketemu istri Lo, Citra. Jadi kangen..." Canda Roy yang langsung di sambut kepalan tangan Aksa yang sudah siap meninju mulut Roy yang lancang itu.
Roy cuma bisa membalas dengan cengiran yang menunjukkan deretan giginya.
"Lho, Citra itu istri Lo, kak ? Bukan istrinya Roy ?" Tiba-tiba suara yang tak di inginkan itu datang dari balik pintu. Anak itu sangat tidak sopan, main masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu. Raka, mungkin dia sengaja selalu membuntuti mereka untuk mencari tahu secara langsung.
Masih saja bermuka dua, memainkan perannya dengan sangat baik, bak orang culun yang polos tidak tahu apa-apa. Namun kenyataannya dia lebih kejam dari binatang.
Berani mengkhianati keluarga sendiri demi nafsu keegoisan akan harta.
Sekuat tenaga Aksa menahan emosinya. Aksa harus bisa ! Raka tidak boleh curiga jika dia sudah mengetahui kebusukan Raka.
Sementara Roy, laki-laki hanya melirik tidak suka, seperti biasanya.
"Ngapain lagi sih kemari ? Gue mau pulang !" Aksa segera beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi, sebelum Raka menghentikan nya.
"Kak, tunggu !!! Beneran gue baru tahu kalau Citra itu istri Lo !" Ucap Raka lagi.
"Iya, Citra istri gue ! Dan jika ada yang mengganggu nya akan berurusan sama gue !" Ucap Aksa sedikit menggertak Raka.
Setelah itu Aksa dan Roy langsung pergi meninggalkan Raka, membuat laki-laki itu tertawa kecil menatap kepergian mereka.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,